“Umur saya waktu itu 23 tahun. Di New York hidup itu ngga gampang. Ayah saya udah gak ada, saya harus nyoba nyelesaiin kuliah sambil kerja serabutan sana sini… …Waktu saya antar kamu ke bandara, ayah kamu sempat bisikin saya...”
*Bapak-bapak pake sepeda ontel lewat
“…Dia bilang, ‘Rangga, kalau kuliahnya sudah selesai cepat kembali ke Jakarta dan cari kerja. Jangan sampai Cinta nunggu kelamaan, kasihan dia.’…
*Bapak-bapak pake sepeda ontel lewat lagi.
“…Yang tidak saya ceritakan ke kamu waktu itu, sebenarnya kuliah saya sedang berantakan. Setelah kamu kembali ke Jakarta, saya terus berpikir, saya ini tidak akan pernah membuat kamu bahagia. Membuat kamu harus menunggu bertahun-tahun sampai kehidupan saya benar-benar baik. Sampai akhirnya saya berpikir sebaiknya kita berpisah. Saya hanya akan membuat kamu susah…”
*lagi-lagi bapak-bapak pake sepeda ontel lewat.
(Rangga dalam AADC?2.)
***
Jadi begini, Ri, (Riri Riza). Maksudnya bapak-bapak pake sepeda ontel bolak balik itu apaaaaahhhh???
#DahGituAjah
Percuma juga berpanjang kata kalau tak bertukar maksudnya.
24112016
Senin, 08 Juli 2019
Senin, 01 Juli 2019
Perspektif
“Perdebatan dua pihak yang berbeda pandangan dan sekaligus berbeda ‘bahasa’, hanya akan berakhir saling ejek. Itukah tujuannya?”
KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gusmus)
***
Suatu hari tiga orang mas-mas (sebut saja mas-mas A, mas-mas B, dan mas-mas C), mengajak jalan seorang dedek-dedek gemes yang sedang berada di usia “lucu-lucunya”. Mereka berempat berencana ingin makan-makan di salah satu kafe di pinggiran kota tempat nakanak muda bisa kongkow menghabiskan malam mingguan.
Sesampainya di kafe yang dituju, mereka pun langsung menempati sebuah meja dengan empat kursi, lalu duduk saling silang berhadap-hadapan. Mas-mas A berhadapan dengan dedek-dedek gemes, mas-mas B berhadapan dengan mas-mas C. Mereka (para mas-mas itu) sengaja mengajak jalan si dedek-dedek gemes dalam rangka usaha ngemodusin doi sebab menurut kabar yang tersiar, dedek-dedek gemes ini tengah jomblo dan sedang mencari jodoh yang bisa diajak berumah tangga. Maka demi mendengar kabar ajaib itu tentu membuat mereka langsung bergerak cepat dan tak mau mengulur-ulur waktu. Satu hal yang mereka tak tahu, kalau sebenarnya si dedek-dedek gemes ini cuma menganggap mereka sebagai kakak-adek-an biasa. Ngga lebih. (Tega kamu, dek.)
Tak lama duduk mbak-mbak pramusaji kafe muncul menyodorkan menu. Para mas-mas mempersilakan si dedek-dedek gemes memesan terlebih dulu. “Ladies First” begitu kata mereka gegayaan gentleman macam Casanova.
Sekejab saja si dedek-dedek gemes memesan makanan dan minumannya, lalu diikuti para mas-mas yang menyamakan menu sesuai dengan apa yang dipesan si dedek-dedek gemes. Mereka mungkin berfikir dengan begitu bisa membuatnya terkesan.
Mas-mas A: “Ih, kok selera makan kita sama, ya? berarti kita cocok, dek…”
Mbak-mbak pramusaji sedikit kagok mencatat.
Mas-mas B: “Saya juga samain kaya pesanan gadis ini, ya, mbak. Apapun menunya, selama makannya sama dia, semua pasti nikmat.”
Mbak-mbak pramusaji mulai bergetar mencatat.
Mas-mas C: “Wah, dari rumah, saya emang lagi pingin makan makanan kaya pesananmu, dek. Kebetulan sekali. Mungkinkah ini pertanda semesta?”
Mbak-mbak pramusaji tampak sudah tak kuat, andai bukan karena demi kesopanan dan tuntutan profesional kerja, barangkali ia sudah muntah-muntah di depan para pengunjungnya yang absurd ini.
Setelah mbak-mbak pramusaji mencatat dan memastikan ulang pesanan, ia beranjak pergi menuju dapur tanpa lupa sebelumnya dengan ramah mohon diri dan meminta mereka untuk menunggu sejenak.
Sambil menunggu pesanan datang, mata mas-mas A menyusur sekeliling kafe guna mencari bahan obrolan. Sempat memutar-mutar kepala ke kiri dan ke kanan, tiba-tiba matanya menangkap sebuah simbol yang terukir di tengah-tengah meja yang sempat terlewat. Seperti simbol aksara “E”, batinnya.
Mas-mas A: “Lho, ini simbol huruf ‘E’ di tengah meja maksudnya apa, ya?” ia membuka percakapan.
Mas-mas B: “Apa? Huruf ‘E’ katamu? Itu huruf ‘W‘, bodoh!” serunya spontan dan langsung masuk ke gigi empat. Dia berfikir sikap konfrontasinya pasti akan membuat ia tampak hebat.
Mas-mas C: “Entah apa yang salah pada mata kalian. Itu bukan ‘E’ bukan juga ‘W‘. Jelas-jelas itu huruf ’m‘!“ Tak mau kalah demi bisa mencuri perhatian dedek-dedek gemes, ia pun turut unjuk gigi.
Mas-mas A: “Hei, perhatikan kalimat kalian berdua. Saya ini anak sastra. Saya hapal aksara seperti guru matematika hapal satu tambah satu sama dengan dua di luar kepala!”
Mas-mas B: “Halah, apalah guna sastra dan ilmu dunia tanpa pemahaman agama. Tak selamat kau nanti saat kena hisab di akhirat kelak. Jelas betul bentuk tanda itu macam tasydid di ilmu tajwid. Jadi sudah pasti itu ‘W‘.“
Mas-mas C: “Kalian berdua itu cuma pintar berteori dan taklid buta. Untuk bisa menakar sebuah bentuk absurd perlu imajinasi. Mana bisa otak kanan kalian meraba perkara ini. Ku beritahu pada kalian, tanda yang kita lihat ini macam gambar burung yang sering dibuat anak-anak TK. Jadi tentu ini huruf ’m‘. Paham?”
Mas-mas A: “Susah memang ngomong sama orang yang logika berpikirnya sudah kadung berkabut karena fanatik dan terlalu surealis.”
Mas-mas B: “Hei, tak usah melecehkan keyakinan saya. Kamu pikir logika dan ilmu pengetahuanmu bisa menjawab semua misteri dunia? Dan kau seniman abal-abal, menggambar makhluk hidup itu haram! Dasar manusia-manusia fasik munafik!”
Mas-mas C: “Apa sih, kalian ini? Semua hal harus empiris. Semua hal diartikan secara harfiah membabi buta. Dangkal dan kering.”
Mendengar debat kusir ketiga mas-mas yang makin meruncing tak keruan, si dedek-dedek gemes berdiri lantas pergi tanpa sepatah kata. Ia jengah. Meninggalkan ketiga mas-mas itu yang kini saling melongo kebingungan.
Bukan tanpa alasan kenapa tiba-tiba dia bersikap demikian, sebab, meski bukan seorang hamba yang bisa dibilang taat dalam beragama, namun dedek-dedek gemes ini pernah sempat membaca kitab Al-Wafi; Syarah Hadits Arba’in Imam An-Nawawi karya DR. Musthafa Dieb Al-Bugha & Syaikh Muhyidin Mistu. Di halaman 83-84 kitab itu tertulis, “Jika timbul perbedaan yang akan menyebabkan terjadi perselisihan, maka dia (Rasulullah) memerintahkan kita untuk berdiri dan meninggalkannya…”
Dalam sebuah riwayat di tulis, bahwa suatu ketika saat Rasulullah sedang sakit keras, beliau hendak menulis bagi mereka (para sahabat) satu kitab (wasiat) agar mereka tidak tersesat untuk selamanya. Namun mereka berselisih antara ditulis atau tidak, maka Rasulullah merobek kitab tersebut dan bersabda, “Pergilah dariku!” sebagai teguran dan peringatan bahwa perselisihan dan saling menghardik satu sama lain adalah sebab kerugian. Satu saat juga Rasulullah bersabda, “Bacalah Alqur’an selama ia mempersatukan hati-hati kalian. Dan Jika kalian berselisih, maka berdirilah dan menghindarlah darinya.”
Si dedek-dedek gemes menyayangkan sikap mas-mas B yang dengan arogan menghakimi orang lain sebagai fasik munafik, hanya karena tidak sependapat dengan interpretasinya dalam memaknai simbol yang terukir di meja itu. Tidakkah mas-mas B belajar dari Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali yang meski berbeda mazhab dan pendapat, namun tetap saling menghormati dan tidak mengklaim diri sebagai yang paling benar? Di atas itu semua, tidakkah menghakimi adalah hak prerogratif Sang Khalik?
Tak hanya menyayangkan sikap mas-mas B, si dedek-dedek gemes juga kecewa pada mas-mas A sebab, tidakkah ia menyadari bahwa ilmu pengetahuan yang diketahuinya belumlah final? Tidakkah mas-mas A menyadari bahkan di dalam Kamus Bahasa yang menjadi “kitab suci”nya terdapat kata ambigu, homonim, dan sinestesia? Sehingga sangat mungkin menimbulkan makna ganda antara satu orang dengan lainnya. Jadi bagaimana mungkin dengan yakin ia mengklaim diri sebagai orang yang paling mengerti dalam perkara ini?
Setali tiga uang dengan mas-mas A dan mas-mas B, mas-mas C yang berdiri di ranah seni bukannya meredam perdebatan, ia justru ikut menjadi salah satu bahan bakar perselisihan tersebut hingga terus berlanjut. Bukankah seni bersifat membebaskan, tak ajeg dan keluar dari pakem? Hal itu yang mendasari kenapa seni tidak mengenal konsep salah benar. Sebab dalam ranah seni semua perkara hanya soal pilihan selera. Tapi kenapa mas-mas C justru merasa bahwa interpretasinya yang paling tepat hingga menyalah-nyalahi yang lain?
Si dedek-dedek gemes menyayangkan sikap ketiga mas-mas itu karena terlalu berfokus pada simbol yang mereka lihat. Sebegitu sempit sampai mereka silap bahwa ini sebenarnya bukan semata tentang simbol itu sendiri, melainkan juga dari sisi mana melihatnya. Sebenarnya tak ada yang salah jika simbol itu melahirkan interpretasi yang tak sama di masing-masing kepala mereka, sebab memang mereka pun melihat simbol itu dari sudut yang berbeda-beda. perihal simbol ini menjadi masalah karena masing-masing dari mereka tak sudi meluangkan waktu untuk melihat dari sudut yang berbeda.
Si dedek-dedek gemes berharap, andai saja ketiga mas-mas itu mau menyempatkan diri untuk melihat simbol itu dari sudut tempat si dedek-dedek gemes duduk, barangkali mereka akan menyadari bahwa simbol itu tak akan lagi terlihat sebagai sebuah aksara, melainkan akan tampak seperti sebuah angka. Angka “3”.
Dari sana pada akhirnya nanti semoga mereka bisa benar-benar mengerti, bahwa simbol itu memang dapat dilihat dari beberapa sisi. Jadi masih perlukah mereka saling berselisih?
.
.
*Di meja pojok kafe yang kurang mendapat lampu pencahayaan, si pembuat simbol mengamati dalam remang sambil tertawa diam-diam.
16112016
Aptenodytes Forsteri
“Kita masih melakukan hal yang sama, masih di tempat yang terpisah. Dan tak pernah kau pertanyakan lagi keberadaanku. Sebab bagimu aku selalu ada.”
Elipsis – Devania Annesya
***
Hidup di habitat ekstrem kutub bumi, penguin merupakan makhuk monogami yang sangat setia pada satu pasangan. Penelitian mencatat, meski masa hidup Aptenodytes forsteri ini hanya berada di kisaran 13 sampai 15 tahun, namun usia “pernikahan” sepasang penguin bisa mencapai 10 hingga 13 tahun.
Dalam siklus normal, perkawinan sepasang penguin biasa terjadi pada bulan Juni. Ketika mencari “calon istri”, meski tak bisa terbang, penguin jantan akan mengepak-ngepakan sayap guna mencuri perhatian si betina. Terdengar konyol memang, tapi entah kenapa pada akhirnya ada saja penguin betina yang akan terpikat pada penguin jantan itu. ketika dirasa sudah saling menemukan kecocokan, sepasang penguin kasmaran itu akan membuat ikatan dengan cara saling menepuk sayap. Tepukan sayap ini semacam akad janji untuk bersedia saling hidup setia sampai mati.
Bukan semata omong kosong, kesetian sepasang penguin benar-benar akan diuji kala mereka sudah melangsungkan “pernikahan”. Sebab, tak lama setelah perkawinan itu dilangsungkan mereka harus berpisah. Sementara penguin jantan bersama kelompoknya akan mengembara demi mengumpulkan makanan dan melakukan perjalanan beratus-ratus kilometer jauhnya, si betina akan menetap di sana menjaga bayi mereka. (Ada kalanya terjadi sebaliknya, si betina mencari makan dan si jantan yang akan menjaga anak.) Sebelum pergi, ia akan berjanji pada “istrinya” bahwa mereka akan bertemu lagi di tempat yang sama pada bulan Maret tahun depan.
Benar saja, di waktu yang sudah dijanjikan penguin jantan itu kembali. Dengan siulan, seekor penguin akan memanggil pasangannya. Lalu bagaimana sepasang penguin bisa saling mengenali satu sama lain? mengingat ratusan penguin lain juga melakukan hal yang sama. Dengan ciri fisik dan suara siulan yang serupa, bagaimana mereka bisa saling menemukan?
Tuhan selalu memberi cara untuk makhluknya. Meski tak berakal dan sudah terpisah berbulan-bulan, pingiun memiliki insting untuk mengenali pasangannya dengan sangat baik. Mereka bisa benar-benar membedakan mana yang pasangannya dan mana yang bukan meski sekawanan penguin memiliki ciri fisiologi yang sama. Dan bila si “istri” belum memunculkan diri, penguin jantan akan tetap berada di tempat itu sambil terus menerus bersiul memanggil pasangannya sampai janji bertemunya lunas terbayar.
Tak hanya penguin, meski tak benar-benar sama barangkali kisah yang nyaris serupa juga dialami oleh Piper dan Gabriel.
Kala itu Piper masih berusia 14 tahun dan tinggal di New Hampshire. Sementara Gabriel yang setahun lebih tua darinya menetap di Massachusetts. Keduanya saling mengenal pada tahun 1994 melalui kegiatan korespondensi yang mereka lakukan. Saat akses internet belumlah semudah seperti sekarang ini, memiliki sahabat pena merupakan kegiatan yang sempat marak di kalangan anak-anak muda ketika itu. Lewat sahabat pena seseorang akan mampu menjangkau orang lain meski jarak keduanya terpisah bermil-mil jauhnya.
Empat tahun Piper dan Gabriel menjadi sahabat pena, baru satu kali keduanya bertemu dan bertatap muka. Dari pertemuan itu mereka menjadi semakin saling mengenal satu sama lain, dan ternyata memiliki obsesi yang sama. Baik Piper dan Gabriel sama-sama menyukai Shakespeare dan ingin menjadi aktor.
Sibuk dengan kegiatan dan aktivitas masing-masing guna meraih mimpi, membuat kedua sahabat pena itu sempat kehilangan kontak selama belasan tahun lamanya. Keduanya tak menyadari bahwa setelah empat belas tahun berlalu ternyata mereka sama-sama melanjutkan studi akting di London dan hanya terpisah tiga blok saja.
Tapi Tuhan memang sudah menyiapkan kejutan untuk mereka, sebab pada tahun 2011 keduanya dipertemukan kembali melalui situs cari jodoh, OkCupid. Kala itu Gabriel menemukan profil Paper dan mendapati kecocokan sebesar 94 persen. Awalnya Gabriel tak menyadari bahwa gadis itu tak lain adalah sahabat penanya, sebab Piper menggunakan nama samaran untuk profilnya. Namun alangkah terkejutnya Gabriel saat mengirim chat ajakan untuk bertemu, ia justru mendapat balasan, “Gabe! Ini Piper! Sahabat penamu!”
Sejak saat itu mereka kembali berhubungan. Piper kemudian tahu bahwa surat-surat yang dulu dikirimnya ternyata masih disimpan rapi oleh Gabriel dalam binder ungu bertuliskan ‘Piper G’. Tak rela saling kehilangan untuk kedua kalinya, Piper dan Gabriel memutuskan menikah pada Oktober 2013 dan kini mereka tinggal di Brooklyn.
Well, apa yang bisa dipetik dari sini?
Tak usah terlalu memusingkan diri mencari-cari siapa jodohmu. Untuk saat ini, selama masih punya cukup waktu, ada baiknya fokus saja untuk terus meningkatkan kualitas dirimu. Percaya saja pada rencana-Nya. Percaya saja bahwa segala hal baik akan dipertemukan kebaikan pula. Dan pada akhirnya semua hanya perkara waktu. Karena memang tak ada yang terjadi tidak pada waktunya.
10112016
Aku Melihat Tandamu
“a relationship among sign, an object and a meaning.”
Charles Sanders Pierce
***
Aku melihat tandamu. Aku membaca isyarat itu;
Tentang seekor siput yang merayap pada ujung dahan di atas perairan. Meski merangkak lambat namun siput makhluk yang kuat. Ia mampu memanggul cangkang yang sepuluh kali lebih berat dari tubuhnya. Bukan tanpa alasan kenapa siput sudi membawa serta cangkangnya kemana pun ia beranjak. Semata-mata agar ia bisa selalu mengingat, bahwa cangkang itu tak lain adalah rumahnya. Maka dimanapun pun ia berada dan sejauh apapun ia melata, kepada rumahnya itulah ia selalu memiliki alasan untuk pulang.
Dan sejak saat itu aku merasa kamulah rumah itu, tempat di mana pada akhirnya nanti aku akan pulang ke sisimu.
Aku melihat tandamu. Aku membaca isyarat itu;
Tentang seekor angsa yang berenang sendirian di tepi muara. Sedikit janggal sebab biasanya sekawanan angsa akan terbang bersama-sama ke selatan. Membentuk konfigurasi serupa aksara “V” guna bermigrasi menghindari gigitan musim dingin. Mereka perlu membentuk formasi seperti itu, Sebab dengan begitu kawanan angsa akan mampu terbang beratus-ratus kilometer lebih jauh dibanding bila terbang sendiri. Dalam formasinya, kepakan sayap pemimpin angsa paling depan akan memungkinkan angsa di belakang mendapat dorongan sehingga lebih ringan untuk terbang. Dan bila saatnya nanti sang angsa pemimpin merasa lelah, ia akan bertukar posisi dengan angsa yang lain. Begitu seterusnya hingga akhirnya mereka sampai ke selatan dan menghabiskan musim semi di sana.
Tapi kenapa di petang yang muram angsa itu sendirian? mungkinkah karena lelah membuat ia terpaksa berhenti hingga akhirnya terpisah dari kawanan? Siapa yang kamu maksud? Aku, kah, angsa itu? atau barangkali itu kamu?
Jika kamulah angsa itu maka aku akan menghampirimu. Menemanimu hingga pulih, lalu kita akan membuat kawanan baru dan terbang ke selatan bersama-sama.
Aku melihat tandamu. Aku membaca isyarat itu;
Tentang beruang yang tak mungkin terbang maka ia mencoba cara yang lain. Melesat berlari dengan kecepatan hingga puluhan kilometer perjam, atau ia akan berenang. Mengandalkan tungkai depan sebagai pengayuh dan tungkai belakang sebagai kemudi, beruang mampu berenang berpuluh-puluh mil jauhnya tanpa henti.
Ya, jika ternyata akulah angsa yang terpisah dari kawanan itu karena sudah terlalu lelah untuk terbang, maka aku akan pulang padamu melalui jalan lain. Akan ku coba mengadopsi cara beruang berlari dan atau berenang sesegera mungkin.
Aku melihat tandamu. Aku membaca isyarat itu;
Tentang pendar cahaya ubur-ubur di tepi pantai yang gulita. Pesonanya memang menggoda tapi jangan sekali-kali tertipu, meski jelita ia makhluk yang berbisa. Sengatnya sangat mampu membuat siapa pun lumpuh bahkan terbunuh. Maka jangan pernah berpikir untuk menyentuhnya.
Barangkali dalam perjalanan pulangku, akan ada sekawanan ubur-ubur yang menggoda. Tapi percayalah aku akan camkan pertandamu. Aku hanya ingin mencari tahu bagaimana ubur-ubur menjadi bioluminescene hingga bisa bersinar. Kelak dari situ barangkali aku bisa menghadiahimu pijar cahaya.
Aku melihat tandamu, tapi maaf jika ternyata aku keliru menafsirkan isyarat itu.
Mungkin karena aku hanya terlalu senang telah menemukanmu.
02112016
Sidang Peradilan
“Homines libenter quod volunt credunt.”
Terentius
***
Awalnya ini hanyalah sebuah proses pengaduan biasa. Kamu pelapor dan aku saksi yang menemanimu dalam membuat Berita Acara Perkara. Apa yang kamu perkarakan ketika itu? Kepada pihak berwenang kamu melaporkan tentang hatimu yang hilang. Ya, petugas yang tengah menangani laporanmu itu tak salah dengar, ini memang perkara tentang hilangnya hati seorang gadis muda. Runyam betul sepertinya sampai-sampai membuat petugas itu seketika tersentak. Dari air mukanya ia seolah berkata, kasus ini berpotensi menjadi isu nasional dan bisa menggemparkan jagat media.
“Tragis, Seorang Gadis Kehilangan Hati Hingga Nyaris Mati.” Kira-kira begitu judul headline yang akan tertera di surat kabar pelosok negeri. Tak usah heran kalau judul itu terdengar bombastis dan tendensius, karena banyak media di republik ini memang lebih senang menggiring opini publik ketimbang mewartakan berita yang membebaskan khalayaknya untuk memiliki interpretasinya sendiri.
Petugas yang menangani BAP-mu bergetar, bulir-bulir keringat sebesar biji jagung mulai keluar dari kening dan tengkuknya. Ini bukan perkara sembarang. Ia harus menanganinya dengan serius dan bergegas. Seperti mendapat durian runtuh, kasus menggoda ini serupa santapan sedap yang mampu membuat pangkatnya melesat dalam waktu singkat. Maka bagaimana pun ia mesti segera “mengungkapnya”. Tak jadi soal jika harus menghalalkan segala cara.
Petugas itu lalu memintamu menceritakan runut kronologis dan sejak kapan mulai menyadari kalau ternyata hatimu telah hilang. Sebenarnya kamu sedikit bingung darimana memulai cerita, karena kamu sendiri pun tak bisa benar-benar mengingat dengan pasti, sejak kapan dan bagaimana persisnya sampai hatimu bisa hilang. Seingatmu beberapa bulan yang lalu hatimu masih ada dan baik-baik saja. Kamu baru tahu kalau hati itu sudah tak ada di tempatnya sore tadi saat tengah berada di taman kota tempat kita biasa bertemu.
Gusar karena tiba-tiba menyadari ada bagian dari dirimu yang hilang, kamu segera menghubungiku untuk bisa menemuimu. Tak ambil tempo aku pun bergegas menjemputmu. Sesampainya di taman itu dan setelah kamu memberi sedikit penjelasan, kita pun memutuskan untuk langsung saja melaporkan perkaramu pada pihak yang berwenang. Dan, ya, di sinilah kita akhirnya saat ini.
Mendengar ceritamu petugas itu belum bisa mendapatkan petunjuk. Namun hari merangkak larut. Dan sepertinya karena terlalu terguncang atas kehilangan itu membuatmu menjadi tak terang lagi berbicara. Demi melihat kondisimu akhirnya diputuskan bahwa penyelidikan akan dilanjutkan esok harinya. Kita pun beranjak pulang untuk sementara.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Suram betul suratan nasibmu. Karena setelah kehilangan hati ternyata membuat pikiranmu lumpuh dan susut. Bahkan hanya butuh satu malam akalmu sudah benar-benar beringsut. Sampai-sampai untuk mengenali diri sendiri pun kamu tak sanggup.
Esok paginya alih-alih ke kantor yang berwenang untuk melanjutkan penyelidikan, kamu ternyata harus dibelokan ke panti rehabilitas jiwa. Depresi stadium akut, begitu orang-orang pintar di sana memvonis keadaanmu.
Penyelidikan pun akhirnya dilanjutkan dengan mengandalkan keterangan saksi-saksi. Aku salah satu saksi itu. Tim penyidik melontarkan beberapa pertanyaan guna mengumpulkan informasi dariku. Mereka menanyakan apa hubunganku denganmu? Sudah berapa lama aku mengenalmu? Dengan siapa saja kamu berteman beberapa bulan terakhir? Dan adakah nama-nama yang barangkali bisa dicurigai dalam kasus ini?
Aku menjelaskan bahwa hubungan kita hanya sebatas teman dekat. Entah sejak kapan tepatnya, yang jelas kita sudah saling mengenal sejak bertahun-tahun lalu. Sepanjang pengetahuanku kamu berteman dengan banyak sekali orang. Tapi… ah, ya, aku ingat sekarang, beberapa bulan belakangan ini kamu sempat bercerita tentang sesosok lelaki yang diam-diam kerap datang mengunjungi pikiranmu. Baik di saat terjaga maupun di dalam mimpi. Meski begitu kehadiran lelaki itu tak bisa dibilang mengganggu karena kamu pun ternyata menyukai kedatangannya. Tapi sayangnya kamu tak pernah sekali pun menyebutkan namanya. mungkinkah lelaki itu berkaitan dengan kasus hilangnya hatimu? Kali ini justru aku yang balik bertanya pada tim penyidik.
Mungkin saja. Singkat kata penyidik itu menjawab.
Interogasi dicukupkan, aku dipersilakan untuk pulang. Esoknya tim penyidik memanggil teman-teman dekatmu yang lain untuk menggali informasi lebih lanjut. Aku mengenali mereka sebab memang pada kenyataannya kita semua berada dalam lingkaran pertemanan yang sama.
Lalu langit runtuh. Selang tiga hari kemudian pihak yang berwenang membawa surat penangkapan atas namaku. Dari keterangan saksi-saksi yang dikumpulkan, kesemuanya memiliki kesamaan cerita yang mengarah padaku. Aku terindikasi menjadi pelaku dalam pencurian hatimu sebab hanya akulah satu-satunya lelaki yang dekat denganmu. Tidak hanya beberapa bulan terakhir tapi bahkan sudah bertahun-tahun lamanya. Statusku kini berubah dari saksi menjadi tersangka.
Berminggu-minggu kemudian aku mendekam dalam tahanan sementara pihak berwenang. Setelah berkas delik perkara dilimpahkan ke kejaksaan, segera saja psoses persidangan pun digelar berkali-kali. Hampir semua agenda persidangan telah dilalui. Dari meminta keterangan saksi-saksi, yakni orang-orang terdekatmu hingga keterangan para saksi ahli. Tidak main-main karena dalam persidangan ini bukan hanya menghadirkan pakar kriminologi tapi juga para psikolog, fisiolog, dan grafolog. Tak adanya saksi mata yang benar-benar melihat aksi pencurian hatimu membuat kasus ini menjadi terlalu pelik.
Bukti-bukti seperti CCTV yang ada di taman dan transkip isi pesan singkat yang pernah kita lakukan, sebenarnya juga tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa akulah lelaki yang telah mencuri hatimu. Tapi perkara ini sudah kadung menyita perhatian publik. Jadi bagaimana pun harus ada seseorang yang bisa segera dipidanakan.
Maka persidangan pun terus berlanjut hingga kini memasuki babak pembacaan dakwaan. Setelah menimbang hal-hal yang dianggap memberatkan dan meringankan yang terkesan dipaksakan, tim jaksa penuntut umum akhirnya merubah statusku dari tersangka menjadi terdakwa, lalu menuntutku dengan ancaman hukuman seumur hidup.
Sidang ditutup untuk sementara dan akan dilanjutkan esok lusa dengan agenda pembacaan pledoi dari terdakwa.
Pledoiku…
“Aku benar-benar hanya menganggapnya sebagai teman dekat. Menurutku ia gadis yang hangat dan menyenangkan. Tipikal manusia yang mampu membuat siapa pun yang berada dalam radiusnya akan menemukan zona nyaman. Barangkali inilah alasan kenapa aku bisa berteman dengannya dalam kurun waktu yang sangat lama.
Sebegitu dekatnya kami hingga saling mengerti kebiasaan-kebiasaan kecil satu sama lain. Seperti aku yang tahu persis bagaimana ia akan menggigit bibir jika sedang berpikir, seperti apa raut muka ketidaksukaanya ketika mendapati sesuatu yang diletakkan tidak pada tempatnya, dan bahkan aku hafal di luar kepala pada tanggal berapa saja ia akan melingkari almanak saat tamu bulanannya datang mengunjunginya. Begitu pula sebaliknya, Ia tahu dengan rinci di kalimat mana saja aku jatuh hati pada baris kata-kata dalam sebuah buku yang kubaca, paham betul gelagatku saat tengah berkata benar atau sedang berdusta, sampai-sampai ia hapal perilaku mana saja yang termasuk alter ego tersembunyiku dan mana-mana yang merupakan tabiat asliku.
Jika dalam sebuah jurnal Psikologi dinyatakan bahwa; kedekatan hubungan yang teramat kuat akan mampu membuat manusia-manusia yang terlibat di dalamnya bisa saling mengerti satu sama lain tanpa harus berucap dan saling bertukar kata, maka sudah sampai di titik itulah kedekatan kami.
Jadi bagaimana mungkin aku akan tega mencuri hatinya?
Ya, tak bisa kupungkiri belakangan ini ada sebentuk perasaan baru yang sebenarnya mulai bertumbuh dalam diriku. Awalnya aku sendiri tak menyadari dan tak pernah benar-benar bisa mengindentifikasi perasaan apa itu. Yang jelas aku menjadi kerap dihinggapi perasaan rindu, sebegitu rindu hingga membuat hatiku biru jika sehari saja tak bertemu dengannya. Karenanya aku selalu mencari cara untuk bisa sesering mungkin menjumpainya.
Meski begitu sekali lagi ku tekankan, aku tak pernah sekali pun berniat mencuri hatinya. Aku hanya kerap tergoda untuk bisa menyentuh inti hatinya dengan perlahan. Apakah itu kejahatan?
Sempat aku bertanya-tanya pada diri sendiri mungkinkah ia juga merasakan hal yang sama? Pernahkah ia merasa jatuh rindu bila tak bertemu dengan ku dalam kurun waktu yang lama? Tapi setiap hendak mengkonfirmasikan perihal itu padanya, tiba-tiba saja nyaliku menciut. Keberanianku beringsut pergi mengkhianati tuannya tanpa sedikit pun memberi aba-aba. Aku mati kutu.
Hingga pada satu ketika dia bercerita tentang seorang lelaki misterius yang mulai kerap muncul di pikiran dan mimpi-mimpinya. Lelaki asing yang sepertinya sudah lama ia kenali tapi tak kunjung jelas paras dan garis-garis warnanya. Semakin keras dia mencoba untuk mengingatnya, maka semakin gelap yang ia dapat. Dia sebenarnya senang atas kunjungan-kunjungan surealis itu, tapi bagaimana pun selalu ada ambang batas pada semua perkara. Begitu pula dengan rasa penasarannya.
Tak tahan menyimpan tanda tanya itu sendirian, ia pun menceritakan “pertemuannya” itu padaku. Kontan aku terkejut kali pertama mendengar ceritanya. Tapi kuat-kuat ku coba berdamai dengan gusar yang tiba-tiba saja menjalar di setiap impuls syaraf kesadaranku. Siapa lelaki beruntung namun tak tahu diri itu? mungkinkah aku mengenalinya? Kenapa ia dengan tidak santunnya merebut perhatian gadisku? “merebut gadisku”? ah, tidak, tidak, aku tak berhak menggunakan frasa itu. Kurang ajar! Aku tak tahu harus berbuat apa. Lalu kedap melingkupiku setelah itu.
Berhari-hari kemudian aku mencoba menghindar dan sebisa mungkin menjaga jarak dari radius hidupnya. Bersandiwara baik-baik saja di depan seseorang yang telah membuat kita terguncang sungguh perkara rumit dan sulit untuk dijelaskan. Sampai akhirnya di satu senja yang berjelaga kudapati panggilan darinya. Mengabari perihal tentang hatinya yang tiba-tiba hilang begitu saja.
Dan kini, setelah sidang-sidang panjang yang melelahkan ini aku merasa ada letupan neuron di kepala yang seketika pecah. Seperti pematik api yang mencipta sepercik cahaya di ruang gulita, pendarnya mulai memperjelas tanda yang sebelumnya sempat tak terbaca. Mungkinkah lelaki itu ternyata bukanlah siapa-siapa? Sebab ternyata dia ada disini. Terduduk di atas kursi pesakitan dan terancam menjadi terpidana, karena terlambat membaca tanda implisit dari gadis yang mentalnya kini terlanjur tak genap lagi.
Jika memang demikian tentu ini bukan lagi perkara salah atau tidak. Ini perihal ketololan yang berlapis-lapis karatnya. Maka sebelum hakim menjatuhi hukum dan mengetuk palu, sebenar-benarnya aku layak untuk dikutuk penyelasan seumur hidup.”
Usai pembacaan pledoi sidang ditutup. Putusan hakim akan ditunda hingga pekan depan.
27102016
Kangen Band dan Perkara Pembajakan
“Waktu itu kami seneng banget denger lagu kami dibajak.”
Dodhy Kangen Band
***
Kok, bisa?
Baiklah, mengingat saya sedang asyik memfokuskan diri merampungkan serial The Flash, maka saya akan langsung mengulas perihal ini dengan tempo selekas-lekasnya.
Pertama, dari Kangen Band saya belajar betapa kekuatan mimpi mampu menerabas segala ketidakmungkinan-ketidakmungkinan yang paling tidak mungkin sekalipun.
Dalam bukunya, 45 Inspirasi Hidup Sukses: Mencerahkan dan Menggugah, Daffa Arrafqi sempat mengulas latar belakang kehidupan para personil Kangen Band. Ia menulis bagaimana Dodhy sang gitaris sekaligus penggubah lagu paling produktif, sebelumnya merupakan seorang kuli bangunan, Thama pada gitar ritem adalah penjual sandal jepit, Lim pada drum bekerja di sebuah bengkel, Bebe pada bass mengisi hari-harinya dengan membantu orangtuanya berjualan nasi uduk, dan Andika selaku vokalis dengan poni ajaibnya adalah seorang penjual cendol keliling. Meski hanya bermula dari sekumpulan pemuda biasa dengan latar belakang pekerjaan yang sama-sekali-enggak-punya-urusan dengan diatonik nada, mereka tetap percaya diri dan sepakat untuk membulatkan tekad bahwa kelak melalui lagu mereka akan menaklukan Ibu Kota.
Dengan kegigihan untuk terus berlatih hingga sempat beberapakali menggadaikan sepeda motor hanya demi bisa menyewa studio rental, pada akhirnya mengantarakan mereka mewujudkan mimpi besarnya itu. Tak keliru jika Arai dalam Edensor-nya Andrea Hirata pernah lantang bicara, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.”
Hal kedua yang bisa saya pelajari dari riwayat perjalanan Band yang mulai beranjak naik daun di tahun 2006 ini adalah perihal pentingnya segmented. Betapa kejelian Jusak Sutioso selaku Managing Direktor Warner Musik Indonesia pada waktu itu layak untuk diapresiasi. Seperti Raja Midas dalam Mitologi Yunani yang mampu mengubah setiap apapun yang disentuhnya menjadi emas, melalui tangannyalah, Kangen Band menemukan tipping point dan mencapai puncak kejayaannya.
Kepekaan Jusak yang mampu melihat mass market (pasal massal) ialah merupakan kelompok C dan D, yakni kelompok masyarakat menengah ke bawah yang kerap dilupakan orang sebenarnya adalah masyarakat yang penting untuk diperhitungkan. Ketika banyak orang yang abai dan mengecilkan peran konsumen dari kelompok ini, ia justru membidik sasarannya setepat mungkin di sana. Betapa kecendrungan pasar massal yang menyukai lagu dengan melodi yang didominasi nada minor serta aransemen sederhana –dan semua kapasitas ini dimiliki dalam tubuh Kangen Band—baginya merupakan tambang emas yang hanya perlu sedikit diberi sentuhan.
Hasilnya?
Pada Februari 2007 album pertama Kangen Band yang bertajuk Aku, Kau dan Dia, mampu terjual sebanyak 300.000 keping. Angka yang cukup fantastis mengingat artis terkenal pada masa itu bahkan sangat sulit untuk bisa menembus penjualan 50.000 kopi.
Well, bagi sebagian orang yang pada saat itu sempat mengatakan bahwa musik Kangen Band adalah musik kampungan, dan produk sampah di blantika musik Indonesia barangkali perlu sedikit tahu; (*Ssstt… saya mengucapkan ini sambil berbisik-bisik) setidaknya Kangen Band bersama Jusak dan manajemen WMI mengerti betul apa dan bagaimana pentingnya segmentasi. Lalu apa kabarnya dengan kamu? :)
Ketiga, dan ini yang sempat membuat saya benar-benar takjub beberapa saat, di tengah hingar bingar kampanye anti pembajakan yang dilakukan oleh banyak orang –dalam hal ini orang-orang yang terkait dalam indrustri musik- karena menganggap pembajakan merupakan bentuk pelanggaran terhadap Hak Kekayaan Intelektual dan dapat merugikan para pekerja seni yang mendulang rezeki melalui bermusik, Dodhy selaku “pentolan” dari Kangen Band justru kegirangan arang kepalang kala mengetahui bahwa ternyata lagu-lagu Kangen Band diputar dari CD-MP3 bajakan oleh para penjual kaki lima di Pasar Tengah, Tanjung Karang.
Alih-alih misuh-misuh kepada para PKL sebab sudah menjadi bagian dari lingkaran setan pembajakan yang semena-mena membajak lagunya, ia justru seperti berterimakasih karena merasa dengan cara begitu lagu-lagunya semakin bisa didengarkan oleh sebanyak mungkin orang. Barangkali ketika itu yang terpenting bagi Dodhy bukanlah bagaimana mendulang sebanyak-banyaknya uang melalui royalti lagu-lagu gubahannya, tapi bagaimana caranya agar karyanya itu bisa sampai ke sebanyak mungkin telinga pendengar.
Yah, bagaimana pun pembajakan merupakan perbuatan tercela dan menyalahi hak cipta. Tapi sikap Dodhy yang lebih memilih senang saat lagu-lagunya dibajak, tentu merupakan pilihan yang mesti sama-sama kita hormati.
Dari sikap Dodhy ini saya belajar, memperoleh uang dari karya-karya yang kita hasilkan itu memang kabar gembira. Tapi mendapati karya-karya kita bisa diterima dan dicintai oleh sebanyak mungkin orang ternyata –Puji Tuhan- hal itu jauh lebih menyenangkan.
20102016
Minggu, 30 Juni 2019
Otak Gesrek
“Gesrek apaan tuh ka Zal?”
Sandy Abu Hudzaifah
(Nah, kebetulan kak San, kemarenan juga ada yang sempet ngotot soal istilah otak gesrek. Jadi sekalian dah gue coba ulas di sini.)
***
PENTINGNYA MEMAHAMI MAKNA OTAK GESREK DAN PENERAPANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
I. Latar Belakang Masalah
Sejarah mencatat kesalahpahaman berkomunikasi dapat mengakibatkan jatuhnya korban kemanusiaan. Dalam perang dunia kedua, diketahui bahwa Jepang yang mendapat ultimatum dari pihak AS pada tahun 1945 memberi respon “mokusatsu” yang sebenarnya memiliki arti: “kami akan mentaati ultimatum tuan tanpa komentar.” Namun disalahartikan oleh staf Jendral MacArthur karena mengartikan padanan kata tersebut dengan “no comment”. MacArthur kemudian melapor kepada Presiden Truman dan akhirnya tragedi jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pun tak dapat terelakan. (dalam Mulyana, 2008 : ix)
Dewasa ini bermunculannya istilah-istilah baru dalam lingkup pergaulan nakanak tongkrongan kekinian, bisa dibilang adalah bentuk kreativitas linguistik yang dapat memperkaya pembendaharaan kata dan khazanah yang dimiliki oleh bangsa ini. Meski demikian, di sisi lain perkara ini dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam berkomunikasi antara nakanak tongkrongan dan nakanak non tongkrongan hingga kerab menjadi muasal terjadinya hubungan yang kurang asoy diantara mereka. Bahkan tak jarang dalam skala jangka panjang dapat mengakibatkan terjadinya gesekan diantara keduanya.
“Otak Gesrek” merupakan salah satu dari sekian banyak istilah baru yang mulai kerap dilontarkan nakanak tongkrongan, sebenarnya memiliki konotasi positif dan lebih kepada becandaan serta biasa dipakai untuk seru-seruan, namun sayangnya oleh beberapa (((oknum))) nakanak non tongkrongan yang terlalu kaku kek BH baru dan terlalu serius dalam melakoni hidup, menganggap bahwa “mengatai” orang lain memiliki “otak gesrek” merupakan hal yang tak elok dan tak patut ditiru.
Pada dasarnya sikap nggak asiknya nakanak non tongkrongan yang tidak sepaham pada beberapa istilah baru nakanak tongkrongan bisa dimaklumi. Sebab mereka menyakini ibarat air yang keluar dari mulut sebuah teko, bahwa ucapan yang terlontar dari lambe seseorang merupakan cerminan isi teko (baca: isi kepala orang itu). Semakin “biadab” omongan yang dilontarkan seseorang maka menjadi tanda semakin tak beradabnya orang tersebut. Ya, mereka –nakanak non tongkrongan menjadi terlalu kaku, barangkali lantaran memiliki cara becandanya sendiri dan tengah mengalami semacam gegar budaya dalam memaknai becandaannya nakanak tongkrongan.
Mengetahui hal ini membuat kegusaran tersendiri bagi gue sehingga tergugah untuk menelaah polemik absurd ini. Menggunakan model komunikasi Lasswell, gue akan mencoba gegayaan mengurai hal ini dari perspektif sok-sok-an akademis berdasarkan ranah ilmu komunikasi. *tersipu malu*
Diharapkan nantinya, ya… kali-kali aja bisa menjadi semacam panduan alternatif bagaimana sebaiknya nakanak tongkrongan dalam berkomunikasi dengan anak non tongkrongan atau sebaliknya. Hingga pada akhirnya pecah kongsi antara keduanya pun dapat dihindari.
II. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah pada tulisan ngga genah ini adalah:
“Pentingnya memahami makna otak gesrek dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari”.
III. Tujuan
Tulisan ini diharapkan mampu membuat kekecean gue meningkat 93,28% dari sebelumnya.
(Lha, ngga nyambung?)
ini bukan makalah, skripsi, tesis, apalagi disertasi. Jadi kenapa mesti nyambung? Udahlah… Ngga usah berharap bisa nyambung dan balikan lagi sama mantan kalian. Move on-lah dengan sekaffah-kaffahnya move on.
IV. Manfaat
Kagak ada manfaatnya sih keknya. Jadi dari pada nerusin baca tulisan sampah ini mending bantu-bantu mama cuci piring aja sanah.
V. Pembahasan
V.1. Model Komunikasi Lasswell
Menurut Lasswell (1974: 10-11) untuk memahami proses komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
Who
Say what
In Which Channel
To whom
With What Effect
Ato dalam artian yang lebi asoy:
Siapa – Ngomong Apa – Pake Saluran Apa – Sama Siapa – Dengan Efek Gimana?
Dari definisi Lasswell ini bisa diturunkan lima unsur komunikasi yang saling berkaitan, yakni:
Pertama, sumber. Dia adalah pihak yang punya inisiatif untuk melakukan komunikasi. Alesannya macem-macem, bisa karena ia barangkali lagi kesepian lantaran ditinggal kawin sama mantannya, ato bisa aja karena gebetan barunya udah satu dasawarsa ngga menghubunginya, ato mungkin juga dia cuma lagi pingin ngajak ngobrol-ngobrol biasa sambil becanda-becanda.
Pengalaman masa lalu, rujukan nilai, persepsi, pola pikir, pengetahuan, (kebiasaan nongkrong dimana, bahasa sehari-hari yang dipake) dan beberapa hal lainnya mempengaruhi dia dalam merumuskan pesan yang dalam hal ini bisa berupa pemilihan kata-kata saat melakukan obrolan.
Kedua, pesan. yaitu apa yang ingin dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat simbol verbal dan non verbal. Simbol terpenting adalah kata-kata ato Bahasa, karena memungkinkan kita berbagi pikiran kepada orang laen.
Tapi biar pun kata-kata memegang peranan penting, pesan yang disampaikan secara nonverbal seperti senyuman dan tatapan mata terkadang bisa lebih mudah dan cepat untuk dipahami.
Bagi cowo-cowo yang pernah ketahuan bohong sama cewenya, terus si cewe dengan nyantainya bilang, “Ngga apa-apa, kok…” tapi sambil senyum dan kasi tatapan mata menghujam pasti ngerti maksud gue tentang kelebihan pesan non verbal yang satu ini. #MatiLuh
Ketiga, saluran ato media, yakni alat yang dipake dalam penyampaian pesan. Merujuk hal ini apakah penyampaian pesan itu dilakukan secara langsung bertatap muka ato dengan menggunakan media semisal surat kek, telpon kek, SMS kek, BBM kek, WA kek, inbox pesbuk kek, DM twitter kek, ato apalah yang-penting-kamu-ngabarin. Emang susah, yah? #yailah *tepok jidat
Keempat, penerima, yakni orang yang menerima pesan dari sumber. Sama halnya seperti sumber, pengalaman masa lalu, rujukan nilai, persepsi, pola pikir, pengetahuan, dan beberapa hal lain yang nantinya akan sangat mempengaruhi si penerima dalam menafsirkan apa yang disampaikan oleh si sumber.
Kelima, efek, yakni apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan dari si sumber. Terhiburkah, merasa mendapat infomasi baru, biasa-biasa aja ato malah misuh-misuh lalu marah. (dalam Mulyana, 2008 : 69-71)
Efektif tidaknya proses komunikasi – menurut Stewart L dan Sylvia Moss (1974:9-13) paling tidak menimbulkan lima hal: pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan. (dalam Rakhmat, 2008 : 13)
Komunikasi yang hanya membuat si sumber dan atau si penerima misuh-misuh lalu berujung saling marah-marah maka bisa menjadi tanda bahwa komunikasi tersebut tidak berjalan efektif.
V.2. Arti Otak Gesrek
Menurut kamus slang.com gesrek memiliki arti: miring beberapa derajat otaknya. (dalam kaitannya dengan hubungan cowo-cewe) bisa diartikan: apapun rela dilakuin demi doi (si pujaan hati); atau jadi bodoh; o’on; salah tingkah.
Namun pada perkembangannya, dalam beberapa tongkrongan istilah gesrek ato biasa disebut juga otak gesrek mulai mengalami ambiguitas. Dari yang semula hanya berkaitan pada hubungan cowo-cewe, kini otak gesrek sering kali dilontarkan untuk menggambarkan seseorang yang punya kelakuan aneh bin ajaib, di luar kebiasaan dan akhirnya menimbulkan gelak tawa. Tentu hal ini dalam konotasi positif dan sebenarnya bisa merupakan sebuah pujian sebab memang ngga semua orang diberi kelebihan otak gesrek ini.
Contoh otak gesrek barangkali bisa dilihat dari kelakuan temen gue, Cobon alias Sakay alias Bi’e –bukan nama sebenernya tapi gue rasa banyak dari kalian tahu siapa orang yang gue maksud. Suatu waktu saat tengah menyeduh sirup sisa lebaran, lantaran ngga nemuin sendok untuk mengaduk dia pun dengan selonya menggunakan jari telunjuk sebagai “alat” pengaduk. #AmpunDije ini perkara sederhana tapi sangat efesien yang sebelumnya ngga pernah terpikirkan oleh gue.
V.3. Pentingnya Sumber Memahami Latar Belakang Penerima Dalam Upaya Menciptakan Komunikasi Efektif
Dari uraian model komunikasi Lasswell kita bisa menarik benang merah bahwa (((perbedaan))) pengalaman masa lalu, rujukan nilai, persepsi, pola pikir, pengetahuan, kebiasaan nongkrong, bahasa sehari-hari yang dipake dan beberapa hal lainnya antara sumber (katakanlah nakanak tongkrongan) dan penerima (katakanlah nakanak nontongkrongan), merupakan hal yang (((melatarbelakangi)) mengapa diantara mereka pada akhirnya (((tidak memiliki pemahaman yang sama))) dalam (((memaknai))) istilah (((otak gesrek))).
Menurut Deddy Mulyana (2008: 311), “Bahasa yang digunakan dalam suatu lingkungan sering tidak berfungsi bila digunakan dalam lingkungan lain…
…Sejumlah kata atau istilah punya arti khusus, unik, menyimpang atau bahkan bertentangan dengan arti yang lazim ketika digunakan oleh orang-orang dari subkultur tertentu.”
Mengetahui berbicara dengan siapa dan bagaimana latar belakangnya, merupakan kunci bagi kita untuk bisa memilih dan memilah kata-kata apa saja yang sebaiknya kita gunakan agar komunikasi dapat berjalan efektif.
Bagi nakanak tongkorang saat harus berkomunikasi dengan nakanak non tongkrongan, usahakan gunakanlah istilah atau kata yang umum-umum aja. Percuma juga pake istilah-istilah baru seperti “otak Gesrek” dengan niat becanda kalo ternyata ujung-ujungnya malah bisa bikin pecah kongsi, lantaran dia-dia pada ternyata kaga ngarti.
Bagi nakanak non tongkrongan saat melihat nakanak tongkrongan yang saling becanda dengan sesamanya pake istilah-istilah antah berantah, sebaiknya biarin aja sih, toh mereka ngga ganggu kalian. Ngga usah menghakimi kalo cara becanda mereka dengan menggunakan istilah-istilah itu adalah bentuk kejahiliahan gaya baru, apalagi sampe rese ngelarang-larang kesenangan mereka dalam menggunakan istilah tersebut.
Deal?
VI. Kesimpulan
Simpulin sendiri aja yak, gue mau ngudut duluk.
VII. Daftar Pustaka
Mulyana, Deddy. 2008. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rakhmat, Jalaluddin. 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Arti gesrek. Kamusslang.com. Diunduh pada tanggal 22 Juni 2016 dari http://kamusslang.com/
13102016
Langganan:
Postingan (Atom)
