Minggu, 30 Juni 2019

Wanita dan Transaksi Jual Beli

“Bingung gue.”
Celetuk Bob di antara percakapan absurd para jomblo akud.

***


Dalam sebuah transaksi jual beli di salah satu lapak buah di pasar tradisional pinggir kota.
Si lelaki: “Sekilonya berapa, mba?”
Penjual: “Lima belas ribu aja, mas.”
“Empat kilo lima puluh ribu, yah?”
“Wah, belum dapet mas. Lima puluh lima ribu gimana?”
“Ya udah, saya ambil.”

Sambil lalu bertanya, Sebentar tawar menawar, lalu mufakat. Sebagian lelaki sering berfikir, andai cinta sesederhana transaksi jual beli.

Di waktu yang nyaris bersamaan, di lapak buah yang persis bersebelahan dengan si lelaki tadi melakukan negoisasi jual belinya.
Si wanita: “Sekilonya berapa, bang?”
Penjual: “Lima belas ribu, mba.”
“Mahal amat. Tujuh ribu aja.”
“Wah, belum balik modal, mbak. Tiga belas ribu deh.”
“Tujuh ribu.”
“Sepuluh ribu, deh, mba…”
“Tujuh ribu.”
“Tambahin lima ratus lagi, mba... Tujuh ribu rima ratus.”
Tanpa berucap si wanita pergi dengan muka acuh tak acuh. Butuh nggak butuh.
Si penjual setengah berteriak memanggil, “Mbak, mbak, Ya udah, mba. Mau beli berapa kilo?”
Si wanita kembali, “Sekilo aja.”

Pasang muka datar, singkat kata dalam tawar menawar, lalu pura-pura pergi agar dipanggil lagi dan, “Gotcha!” Tercapailah apa yang diingini.

Bagi wanita ini bukan sekadar seni tawar menawar dalam jual beli. Ada kerumitan di sana yang sampai-sampai para ekonom, sosiolog, psikolog, antropolog, sejarawan, budayawan, insinyur tehnik sipil, petugas sensus, duta pariwisata, penggiat kelestarian primata, broker saham, pemerhati pendidikan, pengusaha batu bara, ahli pangan, ahli nujum, peramal tarot, penafsir mimpi, menteri perdagangan, anak kolong yang doyan ngelem, agen pegadaian, agen MLM, saudagar sembako, tauke toko grosir, mamang warung kopi, om-om lubis warung klontong, dan segenap elemen pelaku pasar belum tentu bisa menguraikannya dengan singkat dan sederhana.

Celakanya, kuat dugaan saya wanita menerapkan ini tidak hanya dalam konteks transaksi jual beli, tapi juga dalam perkara menjalani suatu hubungan. Di balik tingkah mereka yang kadang “Take it or leave it”, tersembunyi desakan –sedikit mengutip istilah Andrea Hirata- “Cepat, tolol! Culik aku dari bapakku!”

Dan lu tau, mblo? Bagaimana njelimetnya bagan prasyarat uji kelayakan dari bapaknya yang mesti lu lewati terlebih dulu?

Mampus! Dah, lu mblo.



25082016

Hukum Newton Pertama

“Setiap benda akan mempertahankan keadaan diam atau bergerak konstan, kecuali ada gaya yang bekerja untuk mengubahnya.”
–Hukum Newton Pertama

***


“Tuh, sudah aku tulis rangkap materinya.” Ujarmu ujug-ujug sambil meletakan buku bersampul putih itu di atas mejaku, “Baca-baca lagi di rumah. Jangan sampai usahaku jadi kerjaan yang sia-sia.” Sedikit tersembul nada merajuk di sana.

Astaga, sebegitu pedulinya kamu pada nasib suram pencapaian akademikku, sampai-sampai mencatat materi pelajaran di dua buku sekaligus. Satu untukmu, satu lagi untukku. Kurang kerjaan.

Ya, tak bisa dipungkiri aku hanyalah seorang bocah SMA biasa, dengan kemampuan daya tangkap yang mengkhawatirkan dan kemauan untuk menyerap pelajaran yang sangat mengenaskan. Malas tak kepalang. Culas bukan buatan. Tak seperti Newton yang memandang ilmu pengetahuan serupa perawan ranum, yang bisa membuat jakun pria-pria pemuja keindahan eros naik turun, minatku pada pengetahuan sudah lindap. Kejahiliyahan pun berkarat-karat. Saat Newton rela hidup “selibat” sepanjang hayat hanya demi menjaga kecintaannya pada fisika, matematika, astronomi dan kimia agar tak terkorosi karena perihal remeh yang ditawarkan dunia, aku justru kerap mengelabuhi waktu dengan perkara-perkara nisbi tak kurang-kurang mudharatnya. Main, tidur. Main-main, tidur-tiduran. Hanya seputaran itulah siklus konstanku di masa-masa semester pertama saat SMA dulu. Suram.

“Aku harap kamu bisa sedikit respek pada diri sendiri. Kalau kamu malas menulis materi, cukup mulai dengan membiasakan diri untuk membaca. Mungkin tidak saat ini, tapi nanti apa yang kamu baca akan membantumu dikemudian hari.” Tegasmu sebelum kembali duduk. Memastikan aku mendengarkanmu untuk kali ini.

Dan sejak itu, demi bisa menyulut minat belajarku yang kian redup, beberapa kali kamu mencatat rangkap materi pelajaran. Aku tahu persis menjadi penulis memang salah satu mimpi adi luhung pencapaianmu, tapi aku rasa menggandakan materi pelajaran berulang-ulang, bukanlah salah satu bentuk latihan yang disarankan dalam buku-buku kiat menulis kreatif manapun. Jadi apa bagusnya kamu melakukan "kekurang kerjaan'' itu?

Pernah aku menduga, barangkali ada impuls sarafmu yang tidak bekerja dengan semestinya. Membuatmu bertindak di luar kesadaran macam doktor Octopus yang dikhianati lengan tentakel buatannya sendiri. Lantas dengan tak terkendali memporak-porandakan kota demi mewujudkan obsesi sintingnya. Ah, tapi itu hanya kisah rekaan Marvel saja.

Atau jangan-jangan kamu jatuh hati padaku? Halah, delusi! Wanita secantik, secerdas, seramah dan nyaris mendekati sempurna seperti kamu sudah barang tentu tak akan berselera pada bocah absurd penderita endapan micin yang sudah akud ini. Lagi pula bukankah kamu memang memiliki tabiat terpuji yang ringan menyingsingkan lengan baju pada semua orang? Tipikal manusia yang memang berkiblat pada khirunnas anfa’uhum linnas. Bahwa hidup manusia pada hakikatnya adalah perkara menjadi manfaat bagi sesama. Jadi Sudah ah, tak mau sakit kepala memikirkannya, kucoba saja menuruti apa maumu. mengabaikan saranmu kadang justru bisa mengakibatkan konsekuensi yang mengerikan; didiamkan berhari-hari!

Beberapa kali ku ikuti saranmu, membaca materi pelajaran di sela-sela waktu yang ada. Konsisten –meskipun berat- minimal satu halaman perhari di awal minggu pertama, begitu petunjukmu. Di minggu kedua meningkat menjadi dua halaman, lalu berlanjut seterusnya di minggu-minggu kemudian. Ajaib, karena metode yang kamu sarankan ternyata efektif. Mengingat pada akhirnya aku terbiasa membaca. Tak hanya melulu materi pelajaran, kini aku tertarik membaca banyak topik dari berbagai bahan bacaan lain. Seperti telah menjadi habit, saat ini bahkan aku akan merasa ada yang janggal bila sehari saja tak ada catatan yang bisa kubaca.

Aku sempat bertanya dari mana metode itu kamu dapat, alih-alih menjawab kamu malah balik bertanya, “Kamu tahu bagaimana anak elang belajar terbang?”

Seperti biasa aku hanya diam dan menggeleng singkat. Meski membaca sudah menjadi bagian dari keseharian, tapi bukankah sudah kuterangkan sejak di muka? Bahwa ketololanku sudah kadung larat berkarat-karat. Butuh waktu seumur hidup untuk merontokan karat-karat itu sampai ke piamater otak.

“Ketika elang hendak bertelur,” katamu setelah mendapatiku tak berkutik, “ia akan membuat sarang di pucuk pohon tertinggi di atas bukit yang curam dan terjal. Lalu mengerami telurnya di atas sana sampai bayi-bayi elang menetas. Induk elang akan menyuapi bayinya sekitar satu bulan. Membuat mereka senyaman mungkin di dalam sarang. Tapi selepas itu sang induk akan membiarkan elang muda mencari makanannya secara mandiri.

“Di masa-masa awal penetasan, induk elang akan mencabik-cabik daging binatang buruannya, dan meletakanya di sarang agar bayi-bayi elang bisa langsung memakannya. Seiring usia anak elang yang bertambah, induknya nggak akan lagi mencabik-cabik daging buruannya, tetapi langsung menaruhnya utuh-utuh guna melatih elang muda mencabik makanannya sendiri.

“Dan bila saatnya tiba bagi elang muda untuk belajar terbang, induk elang akan dengan ‘kejam’ mendorong anaknya jatuh dari sarang di pucuk pohon yang tingginya tak sembarang itu. berbekal insting yang sudah dikaruniai Tuhan, dalam situasi genting seperti itu elang muda akan dengan serta merta mengepak-epakan sayap guna bisa melayang. Tentu anak elang nggak bisa langsung terbang seketika itu juga. Saat tubuhnya hampir terbentur di bebatuan, induk elang akan segera melesat menangkap anaknya. Membawanya kembali ke ketinggian hanya untuk kemudian di hempaskannya lagi ke bawah, begitu seterusnya berulang-ulang, sampai sayap elang muda semakin kuat untuk mengepak dan pada akhirnya ia pun bisa terbang.” berhenti sebentar memberi jeda, “Kamu tahu kontemplasi apa yang bisa ditarik dari sana?”

Aha! Kali ini aku sangat mengerti maksudmu. Tak kusangka pemahamanku sudah mengalami lompatan yang luar biasa signifikan. Ternyata aku keliru karena sebelumnya telah mengira butuh waktu seumur hidup untuk bisa mengangkat karat-karat ketololanku. Sebab kenyataannya hanya dengan mendengar cerita satu babak darimu, ketololan itu bisa langsung minggat. Dengan sepenuh keyakinan aku berkesimpulan, “Elang itu predator yang kejam ngga berperasaan. Demi kesenangan ia tega menjatuhkan anaknya sendiri dari sarang. Dasar makhluk nggak beradab!”

*Sambil mendengus pasrah, kamu menepuk jidat.




fb18082016

Rabu, 13 Maret 2019

Petrichor (masih orisinal minus edit)

“Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, Le, jangan mau gampangnya saja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu.”
Critical Eleven – Ika Natassa

***


Siang itu hujan. Dan seperti yang sudah-sudah, bagi sebagian orang setiap butir rintiknya tak lain adalah kantung-kantung kecil pembawa pesan yang menyimpan kenangan. Tak terkecuali aku yang langsung mengingatmu saat aroma petrichor seketika merebak sejak tetesan pertama hujan memeluk tanah kerontang. Dulu aku menyukai hujan karena kehadirannya serupa hilal menjelang hari raya. Menjadi pertanda bahwa lebaran tak bisa lagi ditunda-tunda. Sebab setelah hujan ini reda, sangat mungkin sekali sore nanti, atau barangkali esok harinya aku bisa menikmati tahu gejrot lebih banyak dari porsi biasanya.

Bagimana bisa?

Ya, sebagai salah seorang dari beberapa bocah yang tak memiliki banyak uang jajan, selain mesti pandai-pandai menakar pengeluaran, sudah barang tentu mencari uang saku tambahan adalah opsi paling masuk akal bagi kami yang ingin merasakan “lebaran” sesering mungkin. Menjadi loper koran, membantu menjajakan penganan kecil yang dijual bulik belakang rumah, mengikuti lomba-lomba tujuh belas Agustus-an demi hadiah satu-dua lusin buku tulis yang nantinya bisa dijual kembali, atau menawarkan jasa ojek payung saat hujan datang, adalah beberapa dari sekian banyak cara menyiasati bagaimana mendapatkan uang jajan lebih.

Dari beragam cara mendulang rezeki, menjadi bocah penjaja jasa ojek payung bisa dibilang merupakan perihal yang paling aku suka. Sederhana saja alasannya, uang yang didapat relatif lebih banyak dan aku bisa melakukan “pekerjaan” itu sambil bermesraan dengan hujan. Sebab seperti yang sama-sama telah kita ketahui, bahwa bermain hujan adalah kebahagiaan tak terbantahkan, bagi seorang bocah yang kala itu belum berteman karib dengan gadget dan segala rupa akun maya. Matursuwun sanget, Gusti.

Jadi begitulah. Saat sebagian orang dewasa merutuki hujan karena merasa kedatangannya kerap -seperti tahu bulat digorengnya mendadak, dan membuat aktivitas mereka akhirnya terhambat, kornea di mataku justru melihat bayangan rintik-rintik hujan tak lain adalah koin-koin rupiah yang sengaja Tuhan jatuhkan dari langit. Dan aku bisa menangkapnya seperti tengah bermain coin catch di android. Ini perkara asyik seasyik-asyiknya kegiatan sepulang --atau sebelum berangkat sekolah bila kebetulan aku tengah mendapatkan jadwal sekolah siang.

Tapi itu dulu sekali jauh sebelum aku bertemu kamu. Karena semenjak mengenalmu aku memiliki perspektif baru dalam menangkap hikmah tentang hujan. Tak lagi hanya melihat dari sisi “ekonomis” bahwa; hujan adalah cara Tuhan menjatuhkan koin-koin uang bagi bocah-bocah ojek payung pada masyarakat urban. Perkara hujan juga bisa dilihat dari perspektif akademis dan filosofis.

Waktu itu sepulang sekolah, kita sama-sama tengah berteduh di beranda pos jaga di gerbang pintu masuk sebuah perumahan kelas A. Jelas aku mengingat ini lekat-lekat sebab hari itu kali pertama aku bisa benar-benar dekat denganmu. Bayangkan, jarak kita berdiri hanya disekat seragam putih abu-abu yang baru kita kenakan satu pekan. Dan duh, Gusti. Bahkan bahumu yang sesekali menyentuh bahuku, nyaris membuatku semaput kunang-kunang ingin pingsan. Kikuk musti berbuat apa sambil menunggu hujan reda, untung saja tiba-tiba kamu membuka suara,

“Hujan itu menarik, yah?”

Ya. kamu memang sangat menarik. “eh, oh, kok? Oh, yah? Kenapa?” heh, tolol! Tak usah jadi tergagap.

“Dilihat dari perspektif akademis –dalam hal ini ilmu bumi, kamu tahu bagaimana siklus hujan terjadi?”

Ah, ya kalau dilihat dari posisi ini, kamu tak hanya sekedar menarik tapi juga pintar dan cantik. Aku haiqul yakin Tuhan sangat peduli pada estetika waktu menciptakanmu. “Umm… Ngga. Memangnya gimana?” Heh, tolol! Jawaban apa itu?

“Jadi, siklus hujan dimulai karena efek dari terik matahari, membuat air yang terdapat di bumi menguap ke angkasa. Uap air yang terangkat itu membentuk awan padat. Lalu bersama butir-butir debu, angin datang bersatu dengan awan menimbulkan perbedaan tekanan udara. Awan-gemawan terus mengembang saling berdesak hingga pada saatnya nanti menemukan titik jenuh, dan akhirnya jatuh menjadi hujan seperti sekarang ini. Eh, Penjelasanku rumit, yah?”

Menarik, pintar, cantik, rumit. Hayo apalagi keunggulan kualitasmu? “Iyah. Rumit.” Astaga! Ketololan macam apalagi ini? Tidakkah aku seharusnya mencari padanan kata yang lebih santun dan tak menyinggung?

“Ah, ngga apa-apa. Dulu aku pun ngga langsung paham dengan teori siklus hujan ini. Nanti kupinjami buku yang ada ilustrasinya.”

Oke. Tambah satu lagi keunggulanmu: Baik.

“Kamu bisa menangkap inti pembelajaran terjadinya hujan ini dari perspektif filosofis?”

“Ummm….” Tak menjawab aku hanya menggeleng singkat. Fix sudah. Ketololanku takkan tertolong lagi kali ini.

“Intinya adalah proses. Melalui hujan, semesta seperti sedang mengajarkan, bahwa semua perkara memang ngga terjadi begitu saja. Bahwa air hujan ngga terjadi dengan serta merta. Ada proses panjang di sana. Dijerang panas matahari, terombang ambing angin, hingga berdesak sesak karena mendapat tekanan udara, membuat air pada akhirnya bisa menjadi hujan. Dan ini yang ngga kalah penting untuk dijadikan bahan kontemplasi, meskipun nantinya ada saja orang yang merutuki kehadirannya, ia akan tetap terus menerus melakukan siklus itu. karena hujan tahu, tanpa kehadirannya bumi ngga akan lagi menjadi tempat yang nyaman dan layak untuk ditinggali.”

Ah, aku pun rela dijerang panas matahari, diombang-ambing angin, dan sesak nafas sampai nyaris meledak karena tertekan, kalau memang dengan begitu aku bisa selalu dekat denganmu. Ampun, Gusti… aku ini lagi kenapa, sih?

“eh, hujannya reda. Pulang, yuk.” Ujarmu menutup percakapan kita sambil bergegas mengambil langkah.

Tak kurang dari dua ratus meter lagi kita akan sampai di depan pintu rumahmu. Hujan menyisakan rintik-rintik halus serupa jemari remaja kasmaran, yang mencoba menenangkan si jantung hati dengan membelai damai ubun-ubun kepala setelah resah dilanda badai. Di persimpangan yang juga menjadi batas akhir jalan beraspal hitam, sejenak langkah kita terhenti. Sedikit mendongakan kepala, kini di langit utara terlihat selengkung pelangi dengan beragam spektrum warna yang memikat penuh impresi. Sekejap terpelesat sebuah tanya, untuk alasan inikah hujan lebat tadi?



fb11082016

Vanadium

“Logam vanadium (V) banyak dibutuhkan dalam industri baja. Penggunaan baja yang mengandung vanadium adalah untuk keperluan poros-poros atau bagian mesin lainnya yang membutuhkan ketahanan terhadap rekangan dan tarikan. Dalam industri kimia vanadium dipergunakan sebagai katalisator untuk pengganti platina. Industri lainnya yang memerlukan vanadium adalah cat, keramik dan percetakan. Di Indonesia tambang vanadium belum ada yang tertarik untuk mengusahakan.”
Dalam buku Geologi Mineral Logam - Sukandarrumidi

***


Mblo, kadang berkeras hati itu penting. Maksud keras hati di sini bentuk dari sikap keteguhan hati yang mengarah pada hal positif. Yang mampu memberi dampak manfaat buat kemaslahatan umat. Bukan semacam kerasnya hati (oknum) terong-terongan yang demi menarik perhatian cabe-cabean, udah dibilangin gosah caper geber-geber motor seenak udelnya, eh… tapi masi aja mBatu. Sampe racauan ini diposting ke efbi, gue udeh gak ngerti lagi dah sama terong-terong model begini. Hih. (eh, ghibah yak?) :(

Kenapa keras hati itu penting?

Merujuk pada answers.yahoo.com keras hati dapat diartikan; berpendirian teguh. Sementara menurut kamus-internasional.com keras hati berarti; pantang menyerah. Sedangkan bila menyatut dari www.kamusbesar.com keras hati memiliki arti; tidak lekas putus asa untuk mendapatkan yang dicita-citakan. Dan terakhir, melihat dari pengalaman gue selama ini keras hati itu tak lain adalah; salah satu tabiat kamu.

Dari definisi-definisi di atas maka bisa ditarik satu kesimpulan, bahwasanya keras hati ialah; sikap berpendirian teguh dan pantang menyerahnya aku, sehingga tidak lekas putus asa dalam upaya mendapatkan yang dicita-citakan, yaitu: kamu.

Astaghfirullahaladzim…

Okeh, Okeh, serius dikit. Sederhananya jangan pernah berani bermimpi terlalu tinggi kalok semisal gak ada bakat atau gak ada niat buat berkeras hati mewujudkan mimpi itu. Sebab keras hati adalah energi penggerak yang akan menunjukan fungsi krusialnya saat keadaan terasa sulit dan tak bersahabat. Singkat kata, mimpi tanpa adanya keras hati sama dengan ilusi. Dan itu ironi. Untuk mempermudah baiknya langsung ke contoh kasus:

Pada tahun 1801, Andres Manuel Del Rio, seorang ahli pertambangan Meksiko asal Spanyol berhasil mengekstrak suatu logam dari sampel bijih timbal berwarna coklat, Vanadinite. Pada awalnya dia menamakan unsur itu panchromium sebab logam tersebut terlihat memiliki aneka warna. Namun kemudian Del Rio mengganti nama unsur tersebut menjadi erythonium karena saat dipanaskan logam itu berubah warna menjadi merah.

Ealah, Aduhai! Seribu Kali Sayang kalok kata judul lagu grup musik Iklim, pada tahun 1805 seorang ahli kimia Prancis, Hippolyte Victor Collet-Descotils bersama Baron Alexander von Humboldt menyatakan bahwa unsur yang ditemukan oleh Del Rio itu hanyalah krom yang tidak murni. Sehingga kagak layak dimasukin ke dalem tabel unsur. Dan ini yang bikin gue bingung, secara, Del Rio terlahir di konstelasi zodiak scorpio yang umumnya tidak mudah menyerah pada keadaan, penuh hasrat, dan gak mau terlihat lemah. ndilalah kok ya, doi dengan mudahnya langsung begitu aja percaya dan menerima kesimpulan dari kedua orang tersebut. Del Rio gak mencoba untuk mencari tahu lebih lanjut atau menguji ulang temuannya itu pada ahli kimia lain. Kok yah gak Scorpio bingit. *ngulek buku zodiak jadi rujak
Yah… Bisa jadi ketika itu doi mungkin mbatin, “Duh, dua lawan satu. Udah salah aja ini mah gue.” Ujung-ujungnya Del Rio pun menarik kembali pernyataan mengenai temuannya itu. sayang sekalih sodarah-sodarah.

Tapi kebenaran –meski kadang rada muter di pengkolan depan, pada akhirnya memang selalu menemukan jalan, sebab persis seperti yang diungkapkan Caleb CC bahwa, “Sahabat paling baik dari kebenaran adalah waktu…” akhirnya pada tahun 1831 seorang kimiawan bernama Nils Gabriel Sefstrom menemukan kembali unsur yang sebenarnya sudah ditemukan oleh Del Rio itu. Namun tidak dinamai panchromium atau erythonium seperti maunya Del Rio, Sefstrom lebih memilih nama unsur V, yang saat itu belum digunakan pada unsur lain. Karena senyawa logam ini memiliki aneka warna yang cantik, dan mengingatkannya pada Dewi Vanadis yakni Dewi kecantikan dan kesuburan Skandinavia, ia pun mematenkan unsur ini dengan nama: Vanadium.

See,

Udah dapet poin pembelajaran dari temuan vanadium ini? Yup, Tul banget! Setelah dipikir-pikir unsur berwarna cantik ini emang lebih kece kalok dinamain Vanadium. #Lha?
*ditoyor



fb04082016

Korelasi Tahu Gejrot dan Kiamat yang Tak Usah Terlalu Dipercaya

Semisal ada yang iseng-iseng nanya, dalam skala 0 sampe 10, seberapa besar saya bahagia karena bisa makan tahu gejrot? maka jawaban saya adalah: 100!

Hiperbola?

Bodo amat. Lagian persetan sama statistik dan angka-angka. Pokonya selama eksistensi tahu gejrot yang pedesnya gak becanda masi ada, dengan proporsi keasaman dan manisnya masi tetap terjaga, maka itu bisa jadi pertanda kalok kiamat belom akan datang dalem waktu dekat. jadi tentu itu kabar yang sangat-sangat-sangat bahagia. Wis ngono wae.



fb31072016

Mencintai Badai

“…Kau harus mencintai badai.
Demi pelangi, berharaplah hujan menyakitimu.”
-Menunggu Pelangi (Dalam sekumpulan puisi: Jiwa Putih – Sarasdewi.)

***


Pertengahan semester kelas dua. Siang itu kita sama-sama duduk di salah satu sudut perpustakaan sekolah. Setelah pagi harinya aku didamprat seorang guru dan dikeluarkan dari kelas, lantaran pada pertemuan sebelumnya dengan sengaja mangkir tak mengikuti ulangan harian dengan alasan sangat konyol, yang mungkin baru kali pertama kamu dengar: “Sedang malas mikir.”

Asu! Alasan macam apa itu?

Aku berkilah –meski ini sama sekali tidak bisa dibenarkan- kabar mengenai kekalahan tim sekolah kita dalam kompetisi mading antar SMA, yang diprakarsai oleh salah satu intitusi perguruan tinggi ternama di Jakarta, membuatku tiba-tiba kehilangan percaya diri dan tak berselera pada apapun. Termasuk mengikuti ulangan harian yang sudah dijadwalkan. Dangkal memang.
Tapi mendengar alasanku yang kekanak-kanakan itu, alih-alih ikut naik pitam seperti guru kita tadi, kamu justru tertawa. Yah, Kekonyolanku kali ini memang sudah masuk kategori tolol tingkat jahiliyah milenia tiga. Tertawalah.

Beberapa jenak tawamu reda. Sambil menatap langit melalui kaca jendela, kamu lantas berseloroh, “Cuaca cerah itu menyenangkan, yah?”

“hmm?” Merasa heran pada air mukamu yang seketika berubah, membuatku hanya bisa bergumam begitu.

“Lahir di kota Bonn, Jerman. Pada tahun 1770.” Ujarmu setelah menunggu gumamanku yang tak juga menjadi kalimat sempurna. “dan hidup di tengah-tengah keluarga musisi, menjadikan Beethoven tak asing dan berteman karib dengan komposisi musik. Kamu tahu riwayat hidup Beethoven ini?”

Tak menjawab aku hanya menggeleng singkat.

Kamu melanjutkan, “Mendapat gemblengan sedari kecil oleh ayahnya berjam-jam lamanya setiap hari, membuat kepiawaian Beethoven bermain piano tak perlu disangsikan lagi. Meski tak seajaib Mozart yang di usia sangat belia telah lincah memainkan jemari di atas tuts-tuts piano tingkat maestro, namun sejarah mencatat, Beethoven merupakan salah satu tokoh di bidang musik dan okestra paling berpengaruh di dunia. Yang komposisi-komposisi musiknya telah menginspirasi komponis-komponis setelahnya, dan bahkan karya-karyanya itu tetap didengarkan oleh banyak orang hingga saat ini.

“Fur Elise, Moonlight sonata, dan Pastorale sonata adalah segelintir dari banyaknya karya yang sudah dihasilkan Beethoven muda. Pada masa ini ia dikenal sangat produktif dalam menggubah komposisi musik, tak mengherankan jika pada akhirnya ia mendapat dukungan dari pangerang Franz dan beberapa tokoh bangsawan pada zamannya.” Kau berhenti sebentar, mengalihkan pandangan dari jendela, lalu menumbuk mataku.

“Ya, tapi Tuhan memang tak pernah menjanjikan cuaca akan selalu cerah, Sesekali mendung hitam datang menjadi hujan yang suram. Membuatmu dihinggapi ketakutan-ketakutan yang mungkin tak terjelaskan. Tak mengapa jika kamu sedikit takut, karena seorang pemberani bukanlah orang yang tak pernah merasa takut. Dia adalah orang yang tak pernah membiarkan ketakutan-ketakutan menguasai hidupnya.

“Kurang lebih seperti itu yang dialami Beethoven. Pada pertengahan tahun 1801, akibat menderita otosklerosis, ia mulai kehilangan pendengarannya perlahan-lahan. Menjadi tuli bagi seorang komponis yang tengah menanjak di puncak karirnya, sudah barang tentu membuat ia sangat depresi, ditambah masalah krisis keuangan yang tengah dihadapi membuatnya semakin tertekan. Bahkan pada masa ini kisah asmara Beethoven dengan seorang gadis idamannya pun kandas begitu saja.

“Seperti jatuh tertimpa tangga lantas tersuruk di sebuah lubang dalam, sejak saat itu ia mulai menarik diri dari kehidupan sosial. Menjadi penyendiri karena kehilangan rasa percaya diri. Lantas menghabiskan hari-harinya dalam kemuraman hati. Komponis muda dengan talenta luar biasa tapi menjadi tuli seketika, terdengar ironis bukan? “

Masih dengan diam aku mengangguk ragu.

Kau kembali mengedarkan pandang keluar jendela, “Percayalah setelah mendung dan hujan ini berlalu, kamu akan tahu betapa indah komposisi spektrum warna pelangi.

“Dan beruntunglah Beethoven karena tak membawa kemuramannya itu hingga mati. sebab pada akhirnya ia menyadari bahwa kesedihannya selama ini hanyalah kesia-siaaan. Ia mulai berbenah kembali, meski pendengarannya semakin memburuk dan nantinya karya-karyanya itu tak bisa didengarkannya sendiri, ia tak peduli. Beethoven melanjutkan dan menggubah ulang komposisi musik yang sempat tertunda. Jauh berbeda dari komposisi musik sebelumnya, setelah melewati “masa muram”, Symphony No.5 Beethoven diakui banyak kalangan sebagai simfoni yang memulai gaya baru, karena pada simfoni kali ini memiliki tempo nada seperti mars. Hal yang tak pernah terjadi pada masa-masa sebelum Beethoven. Selain itu ia juga mulai menggubah piano sonata-nya yang paling revolusioner. Hal itu sungguh merupakan sebuah lompatan besar yang menjadikannya kelak ditasbihkan sebagai tokoh paling penting, dalam masa peralihan antara Zaman Klasik dan Zaman Romantik.

“Puncaknya pada 7 Mei 1824. Beethoven yang meski saat itu telah tuli total, sukses besar mementaskan Missa Solemnis beserta Simphony No.9 yang diadakan di Wina.
Jika pelangi adalah hadiah tersembunyi untuk manusia yang diberikan Tuhan setelah hujan. Maka sejatinya Simphony No.9 tak lain adalah pelangi bagi seorang komponis kenamaan: Ludwig van Beethoven.

“Kamu tidak usah dan memang tidak akan pernah bisa jadi seperti Beethoven, tapi aku rasa ada pelajaran penting yang bisa kamu petik dari riwayat hidupnya ini. Kamu punya badaimu sendiri. Jadi tentu saja kamu punya pelangimu sendiri. Temukan itu.”

Jujur saja, Ketika itu aku belum benar-benar mengerti maksudmu. Tapi kelak menjelang akhir studi kita aku baru menyadari maksud “pelangi” itu. Karena ternyata kompetisi mading ini tak datang sekali.




fb28072016

Daisy

“Cinta tak terucap –itulah cinta paling agung yang dapat dikenali siapa pun. Sebentuk cinta altruistik, yang diberikan tanpa berharap balas. Sebuah cinta tanpa alasan, tanpa pamrih, tanpa permintaan jawaban dan balasan.”
Notes From Heart - Hoeda Manis


***


“Bunga bisa mengantarkan cinta. Tetapi juga bisa mengantarkan kematian. Aku mulai menanam bunga dan dia melukis. Aku harap ini bisa membantuku. Menghilangkan bau mesiu padaku. Tapi bau jauh di dalam jiwaku tidak bisa hilang.”

Adalah Park Yi, seorang pembunuh bayaran profesional yang menggunakan bunga lili hitam sebagai pesan kematian. Suatu hari tanpa sengaja ia bertemu Hye Young, seorang gadis manis nan lembut yang bekerja sebagai penjaga toko barang antik milik kakeknya di Amsterdam. Selain menjaga toko, ia juga menyambi sebagai artis jalanan yang melukis potret bagi para turis yang sedang berpelesir di negeri kincir angin tersebut.

“Aku ingat hari pertama melihatnya. 15 April. Hari setelah aku membunuh seorang laki-laki untuk pertama kalinya.”

Ketika itu musim semi. Hye Young yang saat itu baru selesai melukis hamparan bunga daisy untuk sebuah pameran, hendak kembali pulang dengan menyebrangi sebatang pohon, yang dijadikan sebagai jembatan di atas sebuah sungai. Celaka, Hye Young terpeleset dan jatuh ke sungai yang tak seberapa dalam tersebut. Meski tak cedera, ia kehilangan seperangkat alat lukisnya karena hanyut terseret arus. Park Yi yang melihat hal itu dari kejauhan bergegas berlari dan menceburkan diri guna mengambil peralatan lukis tersebut.

Ia tahu bahwa Hye Young akan kembali ke padang daisy itu untuk melukis lagi, dibantu beberapa tukang kayu ia lalu membangun jembatan sederhana, agar nantinya gadis itu tidak kesulitan saat harus menyebarangi sungai.

Benar saja, keesokan harinya Hye Young kembali, sebenarnya ia ingin mengambil jalan memutar karena khawatir terjatuh lagi di sungai itu, tapi ia terkejut, ketika melihat sebatang pohon yang kemarin ia lalui telah berubah menjadi jembatan yang jauh lebih aman untuk dilewati. Awalnya ia berfikir itu kebetulan yang menyenangkan. Tapi ia terperanjat saat mendapati peralatan lukisnya yang kemarin hanyut kini tergantung di penampang tangan jembatan. Ia tak tahu siapa sosok penyelamatnya. Tapi ia yakin jembatan itu dibangun untuknya. Sebagai tanda terima kasih, ia lantas meninggalkan salah satu lukisan padang daisy di sana.

“Setelah itu, aku mulai mengantarkan bunga daisy kepadanya setiap hari. Karena dia, aku belajar tentang Van Gogh, Monet, dan Rembrandt.”

Tepat setiap pukul 04.15 sore, diam-diam Park Yi selalu mengirimi bunga daisy kepada Hye Young. Dengan diam-diam pula ia kerap mengamati gadis itu dari kejauhan. Hari-harinya dihabiskan di dalam sebuah kamar yang sengaja ia sewa karena posisi jendela kamar itu menghadap tepat ke arah Hye Young, yang biasa duduk di tengah lapangan menunggu para turis yang berminat menggunakan jasa lukisnya. Kadang sedikit konyol karena ia bertingkah membebek setiap gerak gerik gadis yang sudah membuatnya jatuh hati itu.

Hye Young tak pernah tahu siapa gerangan sosok yang kerap mengiriminya bunga daisy itu. Yang ia tahu bunga daisy memiliki arti; cinta yang tersembunyi. Meski begitu Ia percaya bahwa suatu hari sosok misterius pengirim bunga daisy itu akan menunjukan jati dirinya. Ia penasaran sekaligus senang di saat yang bersamaan. Ia merasakan sebentuk cinta yang tak terjelaskan.

“Siapa laki-laki itu? Seseorang membuatnya tersenyum?”

Satu ketika seorang lelaki berdiri di depan Hye Young, dan sedikit tergagap meminta ia melukis potret untuknya. Dengan bunga daisy di genggamannya ditambah tindak tanduk yang nampak tak wajar, membuat Hye Young mengira bahwa lelaki itulah sosok yang selama ini mengiriminya bunga daisy. Tapi Hye Young tak tahu bahwa ia keliru, sebab lelaki yang baru ditemuinya itu sebenarnya adalah Jeong Woo, seorang interpol yang sedang menyelidiki kasus jaringan narkoba Asia-Eropa, dan tengah memanfaatkan Hye Young untuk bisa mengamati sarang gembong narkoba yang ada di sana.
Selanjutnya Jeong Woo kerap bertemu Hye Young untuk melukis potret dirinya sebagai kedok penyamaran. Dan belakangan ia benar-benar jatuh hati pada gadis itu.

Sementara dari dalam kamarnya, Park Yi masih terus mengamati Hye Young. Baginya, selama gadis yang dicintainya bisa terus tersenyum dan bahagia meski tak bersamanya itu bukanlah masalah. ia akan selalu tetap senang meski hanya bisa mencintai Hye Young diam-diam.

Sampai suatu hari terjadilah inseden baku tembak di lapangan itu. Terserempet peluru pada bagian leher membuat Hye Young harus rela kehilangan suaranya. Merasa bersalah, Jeong Woo mencoba menghilang dari kehidupan Hye Young. Tapi hal itu justru membuat gadis itu sangat terpukul.

“Dia tampak begitu sedih. Jadi aku tak bisa tinggal diam lagi.”

Mengetahui Hye Young amat berduka kehilangan Jeong Woo, membuat Park Yi akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari “persembunyiannya”. Ia mulai kerap menemui Hye Young. Menjemputnya saat ia pulang, mengajaknya makan malam, bahkan menemaninya mencari keberadaan Jeong Woo. Park Yi masih menutup jati dirinya sebagai lelaki yang sebenarnya kerap mengirimi Hye Young bunga daisy. Baginya, selama ia bisa berteman dengan Hye Young dan selama gadis itu masih berada dalam jangkauannya, hal itu sudahlah cukup.
Hingga satu ketika, saat Park Yi tengah berada di rumah Hye Young, tiba-tiba datanglah Jeong Woo kembali mengetuk pintu…

Bagaimana kisah selanjutnya? Silakan tonton sendiri film ini selengkapnya. :)))

“DAISY’
Genre: Drama + Action
Pemeran : Jeon Ji-Hyeon, Jeong Woo-Seong, Lee Song-Jae
Sutradara : Andrew Lau
Skenario : Felix Chong
Studio : I Film Co Ltd
Durasi : 110 menit
Rilis : Tahun 2006




21072016