Minggu, 13 Juni 2021

Tenun Ikat Artshop Cendana Buah Tangan Nyonya NTT

Puluhan perajin dari berbagai daerah di seluruh nusantara, meramaikan Pameran Kriyanusa 2017 yang digelar oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Selatan. 

Salah satu perajin tenun ikat Nusa Tenggara Timur, Umar Langgar, menyambut antusias ajang tahunan tersebut dengan menyertakan produk tenun ikat khas daerahnya.

Pemilik dari rumah produksi Artshop Cendana ini menuturkan, kerajinan tenun ikat dan anyaman Nusa Tenggara Timur miliknya berbeda secara motif atau corak lantaran didominasi warna merah kecokelatan alami.

"Agak berbeda dengan tenun ikat dari daerah lain dari motif, karena setiap motif daerah (meski sama-sama di NTT) itu berbeda-beda. Produksi kita juga manual, home industri, dengan mempekerjakan ibu-ibu rumah tangga," ujarnya di lokasi pameran, Minggu petang (1/10/2017). 

Ia menuturkan, hampir di seluruh kecamatan yang ada di NTT merupakan ibu rumah tangga yang menyambi sebagai perajin tenun ikat. Untuk itu kerajinan tenun merupakan salah satu roda penggerak perekonomian di daerah tersebut.

"Di tiap-tiap kecamatan, ibu-ibu itu adalah perajin nusa tenun, karena itu memang sudah jadi bagian dari keseharian," imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, dalam pembuatan selembar kain tenun dengan panjang 4 meter dan lebar 80 sentimeter, seorang penenun biasa memerlukan waktu hingga satu bulan penuh. Namun untuk selendang yang ukurannya lebih kecil hanya diperlukan waktu yang relatif lebih singkat, yakni sekitar 2 minggu.

Pria berusia 50 tahun itu menjelaskan, produksi satu kain tenun bisa memakan waktu berminggu-minggu lantaran seluruh proses pengerjaan dilakukan sendiri oleh masing-masing perajin dan tanpa menggunakan mesin. Dengan kata lain, masih menggunakan alat-alat dan cara-cara tradisional.

"Dalam menenun, satu orang itu benar-benar bikin dari awal sampai akhir. Dari bikin benang, pewarnaan, sampai proses tenun. Tidak seperti di Jawa dimana sudah ada yang bikin benang, ada yang benangnya sudah warna, ada yang bikin tenun, dan apalagi yang mengerjakan ini ibu rumah tangga, jadi sebelum mengerjakan tenun mereka, kan, biasanya harus urus anak sekolah dulu, urus suami, urus rumah, sudah kosong baru mereka buat," terang Umar.

Terkait pemasaran, kain tenun ikat produknya sudah menyebar di seluruh wilayah Indonesia. Khususnya di kota-kota besar dari Sabang sampai Merauke.

Sementara untuk pasar global, tenun ikat Artshop Cendana sudah sempat dikirim ke Jepang dan Prancis melalui tangan para desainer yang melakukan pemesanan secara khusus.

"Dikirim ke Jepang dan Prancis, melalui pesanan desainer. Tapi kami belum bisa kirim sendiri," tutur Umar.

Untuk banyaknya produksi dan rata-rata omzet dalam sebulan, Umar tak bisa merinci sebab jumlahnya sering tidak menentu. Hal ini lantaran dalam proses produksi pihaknya kerap terkendala masalah cuaca. Namun demikian dalam pameran Kriyanusa kali ini ia menyebutkan setidaknya sudah mengantongi pendapatan tak kurang dari Rp50 juta.

"Karena hujan biasanya, jadi proses menjemurnya harus tertunda. Karena pewarnaan kita kan alami ya, dijemur dengan sinar matahari, selain itu kerap ada acara-acara adat yang mengharuskan masyarakat berhenti melakukan semua kegiatan, jadi kami ngga bisa menenun. Kita harus hormati adat budaya itu," jelasnya.

Disinggung soal masalah lain yang dihadapi para perajin tenun ikat di NTT, ia mengungkapkan kekurangan modal biasanya menjadi sandungan paling besar untuk bisa mengembangkan usaha para perajin tenun. Seain itu, mereka juga belum cukup mampu mengelola keuangan secara baik dan akuntabel.

Pada kesempatan itu, umar juga menyampaikan kegelisahan terkait surutnya minat anak-anak muda dewasa ini untuk belajar menenun kain. Ia berharap di masa mendatang akan lebih banyak lagi generasi muda yang dapat terus melestarikan budaya tenun NTT sebagai salah satu kekayaan khazanah nusantara.

"Mudah-mudahan setiap sekolah-sekolah di sana (NTT) ada pelajaran tenun ikat. Memang sejauh ini sudah ada pelajaran tenun ikat, tapi yang saya lihat belum serius, hanya sekadar ada, ini harus jadi perhatian," kata Umar.

Selain dari itu, ia juga berharap apabila ada pameran-pameran terkait seni kriya, harusnya yang lebih banyak diikuti sertakan adalah para perajin tenun agar mereka punya kesempatan untuk bisa belajar dan menambah wawasan, bukan justru pihak perwakilan pemerintah yang diprioritaskan.

"Kalau ada acara pameran-pameran, sebaiknya perajinnya yang kirim. Selama ini kalau ada pameran keluar misalnya, 10 yang ikut, 1 orang perajin sisanya orang-orang pemerintah yang ikut. Pemerintah 2orang sajalah... lewat pameran perajin-perajin tenun kan bisa jadi belajar, bisa tambah wawasan (soal pemasaran) mereka," tukas Umar kemudian.[]



Telah tayang: 

Untaian Permata Manado Berbahan Limbah Sisik Ikan

Kreatif dan cerdik melihat peluang. Hal itulah yang bisa merepresentasikan seorang Cahyannie. Pasalnya, Ibu rumah tangga asal Manado, Sulawesi Utara itu mampu menyulap limbah sisik ikan menjadi sebuah produk perhiasan pernak pernik yang memiliki nilai ekonomis.

"Ini saya bawa kerajinan sisik ikan kakap. Soalnya sisik ikan ini adanya di daerah perairan Sulawesi Utara, ikannya besar-besar jadi sisiknya pun besar-besar. Sisik yang dibuang ini bisa jadi perhiasan yang punya nilai tambah yang... Yah, lumayanlah," tuturnya saat mengikuti Pameran Kriyanusa di JCC, Jakarta.

Wanita yang akrab disapa Yannie ini menceritakan, awal produk perhiasan sisik ikan buatannya itu bermula saat dirinya menyadari betapa banyak limbah sisik ikan yang bertebaran di pasar-pasar ikan di daerahnya, sehingga sayang apabila dibuang begitu saja.

Mencoba memutar otak, terlintaslah di kepala untuk membuat limbah sisik ikan tersebut menjadi perhiasan yang memiliki nilai tambah ekonomis. Hingga akhirnya bersalinlah produk kerajinan pernak pernik berbahan limbah sisik ikan dengan merek dagang yang kini resmi terdaftar di HAKI yakni, Yannie Handicraft, Fish Scale Handicraft.

Beragam kerajinan perhiasan sisik ikan telah dibidani oleh Yannie, tak kurang dari 20 jenis jumlah pernak pernik terlahir melalui tangannya, antara lain yakni kalung, giwang, gelang dan Bros.

"Kisaran harga dari Rp 20.000 ya, Sampai Rp 50.000, tapi bisa lebih disesuaikan kalau ada pesanan," imbuhnya.

Dalam proses produksi kerajinan sisik ikan, Yannie biasa dibantu dengan empat orang yang sengaja dipekerjakannya.

Sementara untuk pemasaran, selain menjualnya di pasar lokal melalui toko-toko souvernir dan via online, dirinya juga kerap mengikut sertakan produknya pada ajang pameran.

"Pernah dikirim keluar negerinya itu... ke Amerika dan Eropa," katanya.

Terkait kendala yang masih dihadapi, ia mengatakan masih sering terganjal soal pemasaran. Untuk alasan itulah mengapa dirinya gemar mengikuti pameran-pameran di seluruh Indonesia khususnya yang diadakan Dinas Perindustrian Kerajinan Daerah Manado.

"Omzet rata-rata perbulan bisa Rp.10 juta. Kalau untuk pameran ini ngga terlalu besar ya dapetnya. Mmm... kita ke sini tujuannya, fokus tujuannya ngga ke penjualan ya, lebih biar orang tahu aja kalau ada produk dari sisik ikan," jelas Yannie.

Disinggung mengenai peran pemerintah terhadap usahanya tersebut, ia menuturkan Dinas Perindustrian Kerajinan Manado sudah dirasa cukup membantu dalam hal memfasilitasi segala yang diperlukan seperti, penyediaan ajang pameran dan menanggung seluruh biaya akomodasi yang diperlukan.

"Peran pemerintah cukup bagus. Ini saya ke sini juga dibawa sama Dinas Perindustrian Kota, mereka yang memfasilitasi kami para UKM. Dan biaya semuanya untuk ikut pameran ini gratis, semuanya," ujar Yannie Semringah.[]



Telah tayang: https://akurat.co/untaian-permata-manado-berbahan-limbah-sisik-ikan


Anyaman Rotan Kutai Barat, Warisan Nenek Moyang yang Kini Lindap

Pameran Kriyanusa Tahun 2017 ternyata mampu membuat perajin-perajin kriya dari pelosok tanah air tergugah untuk bisa turut serta memperkenalkan produk-produk khas etnik daerahnya, tak terkecuali beberapa perajin rotan dari kampung Eheng, kecamatan Damai, Kutai Barat, Kalimatan timur.

Salah seorang perajin rotan Rosalina Supina mengatakan, dirinya sengaja datang ke ajang tahunan yang digelar oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) tersebut untuk memperkenalkan produk daerahnya kepada masyarakat luas, karena selama ini produk rotan Kutai Barat kurang bahkan nyaris tak terdengar gaungnya.

"Produk kami anyaman rotan, asli Kutai Barat, pengerjaannya dilakukan manual, ngga pakai mesin, pakai tangan semua kerjanya, mulai dari ngerautnya sampai nganyamnya, bikin-bikin bahannya semua manual," ujarnya saat ditemui di JCC, Jakarta.

Produk yang dibawa Rosalina, begitu ia biasa disapa, adalah produk berbahan dasar rotan khas etnik Dayak Benuaq, yang dibentuk menjadi tas, anjat, tikar, dan keranjang, serta merupakan seni anyaman yang sudah ada dan diajarkan secara turun temurun sejak zaman nenek moyang suku Dayak di wilayah Kubar.

Dalam proses pembuatan satu produk seperti tas ukuran besar, Rosalina menerangkan bahwa dibutuhkan waktu sekitar seminggu bahkan bisa lebih lama lagi, hal itu lantaran pengerjaan masih manual tadi.

"Kita buat satu tas besar tadi, seperti yang saya anyam tadi, kalau dari awal kita cari rotan, dari dalam hutan sampai pengerjaannya, satu tasnya itu bisa satu minggu, sampai benar-benar bisa jadi," imbuhnya.

Kendati mulai cukup banyak diminati para pelancong yang mengunjungi daerah Kalimantan, namun produk anyaman rotan Kutai Barat itu belum memiliki merek lokal yang terdaftar di HAKI.

Hal itulah yang menggelisahkan Rosalina, pasalnya, produk anyaman kampungnya tersebut sudah mulai diakui dan sempat di kirim ke pasar internasional seperti Singapura dan Malaysia, namun ironis mengunakan nama salah satu perusahaan ekspor.

"Kita belum ada merek. Taunya orang-orang cuma 'Anyaman Rotan Kutai', ya, gitu aja... Dijual keluar tapi lewat perusahaan, tidak langsung ke perajin. Kita dapat seratus dua ratus (ribu) saja dari situ," tukasnya.

Pada kesempatan itu ia menuturkan, peran pemerintah sejauh ini masih dirasa kurang, dan berharap kedepannya pemerintah dapat lebih memperhatikan para perajin lokal dari daerah pelosok seperti dirinya.

"Harapannya, pemerintah bisa bantu kami lah, biar bisa produksi banyak," tandasnya.

Ia menambahkan, "Kami ini sering dapat kendalanya itu kalau orang minta banyak, kami ngga bisa penuhi, karena kami ngga punya mesinnya untuk produksi, jadi ngga bisa cepat, kaya mesin ngeraut rotan. Nah, pemerintah bisalah bantu kami di situ," harap Rosalina. []




Telah tayang: https://akurat.co/anyaman-rotan-kutai-barat-warisan-nenek-moyang-yang-kini-lindap

Kerajinan Logam Boyolali tetap Luxury Walau Punya Segudang Keterbatasan

Tak ingin bernasib sama seperti nekara yang kini hanya teronggok sebagai benda purbakala, membuat seorang Gunanto terdorong untuk terus berupaya melestarikan kerajinan logam khas daerahnya, Boyolali, Jawa Tengah.

Turut serta meramaikan ajang tahunan bertajuk Pameran Kriyanusa 2017, adalah salah satu langka nyata dari pemuda itu untuk bisa memperkenalkan produk kerajinannya di jagat kriya Nusantara.

"Kerajinan tembaga, kuningan sama alumunium ini handmade, manual, jadi kita mengerjakannya itu ngga pakai alat, maksudnya, kalau ditempat lain itu kan pakai... Sejenis cetakan atau alat pabrikan, tapi kalau kita bener-bener pakai tangan manusia semua," ujarnya saat ditemui di JCC, Jakarta.

Pemuda berusia di awal 30 tahun itu menuturkan, dalam proses produksi satu kerajinan, ia membutuhkan waktu yang relatif bervariasi. Bergantung pada seberapa besar ukuran dan rumitnya motif suatu produk yang bakal dibuat.

Misalkan untuk pemanas ini, ucapnya sambil menunjuk sebuah produk pemanas makanan, ia buat dalam tiga hari, sendiri. Untuk lampu-lampu ruang tamu yang digantung di langit-langit biasanya bisa dibuat dalam tempo seminggu, karena pengerjaannya memerlukan pahatan bermotif.

Dari sekian banyak kriya yang mampu ia hasilkan, rata-rata membutuhkan pengerjaan selama 3 hari.

"Tapi kalau proyek besar bisa sampai 3-4 bulan untuk patung-patung dan lampu hiasan besar bermotif rumit. Dikerjakannya pun sama sekitar sepuluh orang sekaligus. Untuk satu patung," tuturnya.

Selama menjalani bisnis kriya, Gunanto mengibarkan bendera berlabel NuansaArt dan dibantu oleh 30 orang perajin yang tak lain adalah para tetangganya sendiri, dimana sebagian besar pekerja sudah memasuki usia senja.

Dalam pemasaran, produk kerajinan Nuansa Art sudah merambah sebagian besar pasar lokal serta mampu menembus beberapa pasar global. Meskipun, dalam pengiriman ke luar negeri pihaknya perlu menggandeng eksportir.

"Belum semua daerah di Indonesia tapi sudah tersebar dimana-mana, khususnya kota-kota besar. Kalau untuk ekspor kita melalui buyer tidak langsung... Ekspornya ke Itali, Jerman, Belanda, Korea," rinci dia.

Gunanto belum bisa mengekspor produknya secara mandiri lantaran belum begitu paham soal perizinan. Selain itu, ia juga merasa proses birokrasi perizinan di Republik ini masih terbilang cukup rumit.

Untuk alasan itulah kenapa dia akhirnya lebih memilih bekerja sama dengan buyer meski dalam pembagian keuntungan, nantinya 5 sampai 10 persen laba bakal masuk kantong eksportir.

Tak sekadar lebih memudahkan pihaknya dalam proses pemasaran ke pasar global, keuntungan lain yang diterima Gunanto adalah bendera NuansaArt tetap tertera meski proses ekspor melalui tangan eksportir.

Disinggung mengenai omset, ia mengungkapkan nilainya tidak menentu, namun rata-rata pendapatan dari hasil ekspor berkisar Rp200 - Rp300 juta. Sementara penjualan di dalam negeri sebesar Rp50 juta per bulan.

"Biasanya kalau kirim satu truk itu bisa sekitar Rp200 sampai Rp300 juta. Itu jangkanya 3 bulan. Dan itu baru yang dikirim keluar belum yang dipasarkan di lokal. Kalau di dalam (pasar lokal) pemasukan sebulan sekitar Rp50 jutaan," terangnya.

Peran pemerintah dalam mendukung usaha kerajinan kriya, menurut hemat Gunanto sudah dirasa cukup membantu. Hal itu terasa karena tak jarang, dirinya menerima segala fasilitas apabila mengikuti berbagai pameran yang kerap digelar. Tak hanya itu, bantuan-bantuan yang dicanangkan pemerintah juga benar-benar sampai ke masyarakat, dalam hal ini para pelaku usaha kriya di daerahnya, Boyolali.

Sementara terkait kendala, Gunanto menuturkan sering terganjal soal bahan baku. Sejauh ini dirinya masih mengandalkan impor dari Itali guna memenuhi kebutuhan produksi.

"Kendala kita itu soal bahan, soalnya bahannya itu kita impor dari Itali.
Jadi kita itu ambil dari Surabaya, nah, Surabaya itu impor dari Itali... Tapi gini, bahan mentah itu malah dari Freeport (Papua) sana, diekspor ke Itali, balik lagi ke Indonesia dalam bentuk sudah lempengan," kata Gunanto menjelaskan.

"Kenapa kita impor bahan?" lanjutnya kemudian.

Ia melihat bahwa saat ini Indonesia memang memiliki bahan baku kriya pada umumnya, plat lurus, bentuknya lembaran. Sayangnya, bahan baku di dalam negeri kurang bagus.

"Kalau dibentuk suka pecah," seloroh Gun sambil mengerutkan kening.

Selain kendala bahan baku, Gunanto juga kesulitan dalam mencari pekerja baru guna melanggengkan dan membesarkan usaha kerajinannya tersebut, sebab, saat ini jarang sekali generasi muda yang berminat menjadi perajin tembaga, kuningan dan aluminium.

"Angel (susah) mas cari perajin, jadi gini, penerusnya itu... gimana yo, ora begitu greget, yang anak muda sudah males-malesan ngerjain ini, yang kerja ini orang yang sudah lawas-lawas," keluhnya dalam dialek Jawa Timur.

Ia berharap, di masa mendatang Indonesia mampu memproduksi sendiri bahan baku yang berkualitas, sehingga tak perlu mengandalkan impor dalam pemenuhan produksi kerajinan logam dalam negeri.

"Yo harapanku sih, Indonesia bisa buat (bahan baku) sendiri, soalnya kalau beli dari luar yo larang (mahal), karena tiap dolar naik kan harga bahan ikut naik, nek begitu dolar mudun (turun) bahan hargane tetap ora melu (ikut) turun e mas... Kadang juga bahan itu dadi (jadi) langka, pokoknya itu harga dolar pengaruh sekali untuk bahan," tandas Gunanto.[]

Telah tayang: https://akurat.co/kerajinan-logam-boyolali-tetap-luxury-walau-punya-segudang-keterbatasan

Sentuhan Tangan Mufidah Jusuf Kalla, Songket Pandai Sikek Berevolusi

"Bukan yang paling kuat yang bisa bertahan hidup, bukan juga yang paling pintar. Yang paling bisa bertahan hidup adalah mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan." Begitu kata pencetus teori evolusi, Charles Darwin. Dan tampaknya, hal senada juga dipercaya oleh seorang Mufidah Jusuf Kalla.

Demi melihat kain tenun songket asal Pandai Sikek, Sepuluh Koto, Tanah Datar, Sumatera Barat bisa terus dilestarikan, sang ibu Wakil Presiden RI ini menyarankan agar para perajin di daerah tersebut mampu melakukan sedikit modifikasi pada produk tenun songketnya sehingga sesuai dengan perkembangan zaman.

Ia mengarahkan para perajin untuk bisa mengganti bahan dasar songket yang awalnya ditenun dari emas menjadi berbahan sutra dan kain. Hal itu agar Songket Pandai Sikek lebih nyaman dan dapat menarik minat generasi muda untuk senang mengenakannya.

"Kalau dulu songket Pandai Sikek awalnya itu benangnya dari emas, benangnya tebal... Tahun 2004-2009, ibu Mufidah Jusuf Kalla yang waktu itu jadi Ketua Umum Deskranas... Menyarankan kami untuk mengembangkan songket ini supaya tidak kaku, jadi diubah, bahan yang tadinya emas jadi sutra dan kain, sebelum diganti, biasanya kan kalau dipakai suka bikin kaki sakit tuh, di ujung kena benang emasnya, sekarang sudah ngga," kata Erlina Wati, salah seorang perajin songket saat ditemui dalam Pameran Kriyanusa 2017 di Jakarta. 

Wanita berusia 48 tahun itu menuturkan, tak hanya memberi saran, dalam upayanya mendukung kelestarian tenun songket, ibu Mufidah Jusuf Kalla juga memberi bantuan modal dari kantong pribadinya kepada para perajin Songket Pandai Sikek.

Tak percuma, pemberian modal ternyata mampu menggenjot jumlah produksi songket yang kini telah mengalami sedikit modifikasi. Kendati demikian kendala sepertinya tak berhenti sampai di situ, sebab persoalan baru yang kemudian menyembul yakni soal pemasaran produk.

"Setelah dikasih modal, pakai uang pribadi ibu (Mufidah Jusuf Kalla), ternyata para perajin bertemu kendala lain, soal pemasaran, nah, untuk itulah Rumah Songket ini dibentuk, sebagai upaya memasarkan songketnya," imbuh Erlina.

Dan akhirnya kini, Songket Pandai Sikek sudah mampu menembus pasar Malaysia. Tak cuma itu, kerajinan tenun songket asal Sumbar itu juga pernah beberapa kali ditampilkan pada pameran dunia, salah satunya yakni yang digelar di Bangkok beberapa waktu lalu.

Ia melanjutkan, total perajin yang saat ini tergabung dalam Rumah Songket berjumlah 10 orang. Dimana dalam sebulan bisa menghasilkan 2 sampai 4 lembar kain tenun Songket Pandai Sikek.

"Dalam sebulan hanya menghasilkan 2 sampai 4 songket. Karena satu songket itu memang panjang prosesnya, 1 songket saja bisa makan waktu satu setengah sampai dua bulan," jelasnya.

Oleh sebab itu, lanjut Erlina, tak mengherankan bila harga selembar kain Songket Pandai Sikek bisa mencapai Rp5,6 juta hingga Rp8,3 juta.

Pada kesempatan itu Erlina juga menyampaikan harapannya agar tenun Songket Pandai Sikek bisa terus lestari, serta dapat membuat kesejahteraan para perajinnya semakin meningkat.

"Harapan kedepan produk songket tak cuma dikenal, tapi juga dipakai, khususnya oleh masyarakat Indonesia sendiri, umumnya dipakai di luar juga... Selain itu pemasaran songket bisa meningkat, soalnya kalau pemasarannya bagus, ya kan pemasukan bagi perajin juga jadi sejahtera," kata Erlina penuh harap. []



Telah tayang: https://akurat.co/sentuhan-tangan-mufidah-jusuf-kalla-songket-pandai-sikek-berevolusi

Inovatif, Resep Jitu Anyaman Rotan Palangka Raya Biar Tetap Laku

Temukan hal baru adalah cara ampuh agar pelanggan tak jemu bertamu. Kira-kira begitulah prinsip yang dipegang teguh oleh Niang, salah seorang perajin anyaman rotan khas Palangka Raya, Kalimatan Tengah, dalam menjalani bisnis kriyanya.

Perajin sekaligus pemilik usaha Jawet Niang tersebut menuturkan, kerajinan rotan akan bisa berumur panjang jika dalam proses produksinya terus melakukan pembaruan produk, baik di model barang maupun pada motif anyaman.

"Produk kami beragam, ada tas, ada topi, lawung, tikar, rambat, sumping, macam-macam, dompet, sendal, pernak-pernik, banyak," ujarnya saat ditemui dalam ajang Pameran Kriyanusa 2017 di Jakarta, akhir pekan lalu.

Wanita berusia 36 tahun itu menceritakan secara singkat, bahwa produk anyaman rotan miliknya merupakan kerajinan khas Palangkaraya, dimana bahan bakunya didapat langsung dari hutan setempat.

"Bahan dari rotan bulat, dibersihkan terus dibelah, diserut sampai halus seperti daun hingga mudah dianyam," imbuhnya.

Kendati belum memiliki HAKI serta tak terdaftar secara resmi di Kementerian yang berwenang soal perizinan, namun merek dagang Jawit Niang mulai mendapatkan tempat di hati para konsumen dari berbagai daerah di dalam negeri. Bahkan ada beberapa kenalan yang membeli untuk dibawa lagi keluar negeri.

Karena belum memiliki izin usaha, pihak Jawit Niang kini belum bisa melakukan ekspor secara mandiri, dan masih mengandalkan beberapa kenalan dan eksportir.

"Penjualan keluar, biasanya tuh yang suka Jepang... terus China, kan mereka suka produk-produk rotan... Ekspor kita gak langsung, tapi melalui teman. Dia pesan, nah, dia yang kemudian ekspor," papar bu Niang.

Ia menambahkan, dirinya ingin melakukan ekspor sendiri, akan tetapi sampai saat ini belum memiliki solusi jitu untuk merealisasikan hal tersebut.

Ditanya soal modal, ia berujar biaya yang dikeluarkan untuk beragam barang relatif bervariasi. Namun ia menyebutkan untuk rata-rata satu produk tas original tanpa pernak pernik dan aksesoris, biasanya ia mesti menyiapkan anggaran sebesar Rp150.000 per buah.

Sementara untuk harga jual, baik pasar lokal maupun pasar luar negeri ia banderol pada kisaran Rp80.000 hingga Rp500.000 untuk tas. Sedangkan untuk tikar sebesar Rp1,5 juta mengingat biaya produksinya yang memang jauh lebih tinggi.

"Tapi kalau perintilan aksesoris seperti gelang Rp20.000, jadi terjangkau lah yah, gantungan kunci malah cuma Rp15.000 per butirnya," tambah Niang.

Terkait pendapatan, dalam sebulan rata-rata kerajinan rotan anyaman Jawit Niang bisa mengantongi omset Rp10 juta.

Pada kesempatan itu, Niang juga menyampaikan, kendati saat ini peran pemerintah dalam membantu promosi produk kriya Nusantara sudah cukup baik, namun perlu lebih fokus lagi terutama yang berkaitan dengan peningkatan kreativitas perajin.

"Ya, kalau bisa pemerintah bisa memperhatikan lebih mendetail lagi, terutama di masalah kreativitas, desainnya kan harus mampu bersaing, dek... Jangan sampai monoton. Perajin harusnya kan dikasih pelatihan lah keluar, biar bisa bikin desain yang lebih bagus, jadinya biar lebih bisa diminati produknya," kata Niang menutup obrolan sore itu. []

Telah tayang: https://akurat.co/inovatif-resep-jitu-anyaman-rotan-palangka-raya-biar-tetap-laku

Ada Nilai Filosofi di Songket Tanah Rencong

Sarat nilai filosofi. Begitulah produk tenun songket asal Desa Dayah Daboh, Kecamatan Montasik, Aceh Besar, Sumatera Utara, yang turut serta menyemarakkan ajang tahunan bertajuk Pameran Kriyanusa 2017 yang digelar akhir pekan lalu di Jakarta Convention Center.

Tak sekadar sedap dipandang mata, setiap benang yang terpilin di kain songket motif pucuk rebung Aceh, tersemat representatif kearifan lokal dari masyarakat tanah rencong.

"Ini kita bawa kain pucuk rebung, bordiran Aceh, dari Montasik, motif pucuk rebung tuh artinya tunas bambu. Melambangkan masyarakat Aceh yang terus tumbuh dan berkembang, sama seperti tunas," tutur Angga, salah seorang pengurus Dewan Kerajinan Nasional Daerah Aceh Besar.

Tak hanya menawarkan tenun songket pucuk rebung, pada kesempatan kali ini pihaknya juga membawa serta kain songket motif awan berarak yang tak kalah bestari akan pesan bijak. Perlambang persatuan umat dalam majemuknya masyarakat.

"Terus ada juga motif awan berarak, awan berarak itu, awan yang saling menyatu, ini diharapkan masyarakat Aceh saling bekerja sama, saling terkait, berarak bersama," tambahnya.

Pemuda berusia 27 tahun itu menuturkan, dalam memproduksi kedua kain khas Aceh tersebut para perajin saling bahu membahu dalam satu kelompok besar yang dibagi menjadi dua puluh grup lebih kecil.

"Dimana dalam satu grup tersebut terdiri dari 6 sampai 8 orang perajin tenun yang bekerja secara bersama-sama. Persis seperti motif songket awan berarak yang mereka buat," tandas Angga.

Belum merasa berpuas diri dengan kain songket, warga dari desa Dayah Daboh rupanya juga produktif dalam memproduksi tas kulit yang terbagi dalam 12 kelompok kecil.

"Selain kain songket, Desa Dayah Daboh juga memproduksi tas... Pemasaran kain songketnya memang masih di sekitar daerah Aceh. Tapi kalau untuk tas sudah dijual sampai Malaysia," jelasnya.

Terkait kendala, Angga mengatakan, para perajin dari daerahnya masih terganjal dalam promosi. Karena alasan itulah, pihaknya gencar mengikuti setiap ajang pameran, baik yang diinisiasi oleh pemerintah maupun swasta.

"Belum banyak yang tahu produk songket kami. Sudah bagus sebenarnya, tapi belum ada sentra yang terkenal agar masyarakat tahu bila ingin beli. Tak seperti Cibaduyut, misalnya. Orang kalau ditanya, 'beli sepatu dimana?' kemungkinan besar akan dijawab 'Cibaduyut', karena tempat itu sudah jadi sentra perdagangan terkenal. Nah, kalau di tempat kami belum ada itu," kata Angga menerangkan.

Tak berhenti sampai disitu, para perajin di Desa Dayah Daboh juga terbentur masalah alat produksi, sehingga tidak bisa optimal jika harus mengekspor produk kerajinannya, sebab, belum bisa dilakukan produksi massal.

Dalam perbulannya, rata-rata produksi tenun songket yang mereka hasilkan hanya sekitar seratusan kain. Untuk itu berat rasanya jika harus mengekspor, karena permintaan bisa mencapai di atas angka 1.000 helai kain.

Disinggung mengenai pendapatan, Angga tak bisa menyebutkan angkanya secara pasti karena jumlahnya setiap bulan fluktuatif, selain itu dirinya juga belum memiliki pencatatan keuangan yang akuntabel. Namun demikian ia mengatakan, pendapatan yang ia peroleh selama mengikuti Pameran Kriyanusa 2017 sekitar diangka Rp8 juta - Rp 9 juta.

"Ikut pameran ini tujuan utamanya bukan untuk produknya laku, tapi yang penting bisa untuk promosi. Pengunjung yang datang walaupun nggak beli ya nggak apa-apa, tapi yang penting tahu dulu... Semoga orang itu akan bisa kasih tahu yang lain di luar sana," tandas Angga kemudian.[]


Telah tayang: https://akurat.co/ada-nilai-filosofi-di-songket-tanah-rencong