Tampilkan postingan dengan label Kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kopi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juni 2021

Kopi Cimbang Sinabung, Berkah di Balik Bencana Erupsi Gunung









Hitam dan pahit. Begitulah warna dan rasa alami yang selalu menyertai pada hampir semua biji kopi yang dimiliki oleh tanah Nusantara ini. Tak terkecuali Kopi Cimbang Sinabung yang merupakan kopi hasil produksi dari desa Cimbang, Ujung Payung, Karo, Sumatera Utara.

Meski hitam dan pahit, siapa nyana kopi mampu menghadirkan kenikmatan tersendiri bagi mereka yang tahu bagaimana cara mengolahnya. Pun begitu juga dengan Kopi Cimbang Sinabung yang notebene merupakan salah satu produk kopi dari sebuah dusun yang sempat terkena dampak dari bencana erupsi gunung Sinabung pada 2013.

Sehitam dan sepahit kopi, warga Cimbang sempat harus diungsikan demi menghindari bencana letusan gunung api tersebut. Dan, sekembalinya dari tanah pengungsian ke kampung halaman, tak pelak mereka kehilangan tanah hunian dan pertanian.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, bagaimana pun hidup harus terus dijalani. Di atas sisa-sisa abu vulkanik yang masih mengendap, warga Cimbang dengan didampingi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Food and Agriculture Organization (FAOakhirnya berupaya mengelola pohon-pohon kopi, sebab hanya tanaman tersebutlah satu-satunya flora yang mampu tegak berdiri dan bertahan dari gempuran letusan gunung api yang sudah ada sejak zaman prasejarah itu.

Salah seorang petani, Imam Syukri Syah menuturkan, setelah bencana yang dialami, warga Cimbang kini mulai bangkit dengan menjual hasil olahan kopi. Melalui program pemulihan pasca bencana, BNPB dan FAO melakukan pendampingan kepada para petani untuk bisa mengolah biji kopi dari proses pemetikan hingga mencapai bentuk kemasan. Hal tersebut dilakukan agar kopi Cimbang memiliki nilai jual yang tinggi dan mampu memberi keuntungan yang lebih bagi petani.

"Produk kopi kami, kalau diproses, ada natural, ada honey, semi wash, dan full wash," ujarnya saat ditemui dalam pagelaran Pasar Kopi yang diselenggarakan oleh Sco-pi di PIK, Jakarta, akhir pekan lalu.

Untuk varietas, kata Imam melanjutkan, kopi Cimbang Sinabung merupakan jenis kopi dari turunan varietas arabica seperti Bourbon P88, Natural, Typica, Gesha serta yang lainnya.

Petani kopi yang berdomisili di Radius 8 kilometer dari puncak Sinabung itu menjelaskan, keunikan kopi Cimbang Sinabung dibanding dengan produk kopi lainnya tak terlepas dari abu vulkanik yang kerap datang ke lahan-lahan kebun kopi petani sehingga membuat biji-biji kopi Cimbang memiliki cita rasa yang khas.

"Kami punya keunikan tersendiri, yaitu di volcano coffe, karena kami kan, masih bisa dikategorikan hampir ke gunung api, nah, pada saat masa proses, pembudidayaan (masa tanam), sering kedatangan tamu abu vulkanik, dari situ keasaman kopi jadi punya cita rasa tersendiri, dimana rasa fruit si kopi jadi lebih menonjol sekali, jadi abu vulkanik itu justru yang bikin kopi ini unik secara alami," terang Imam.

Selanjutnya ia menerangkan, untuk rata-rata produksi perhektar kebun kopi bisa menghasilkan biji kopi sebanyak 4,2 ton dalam setahun. Dan saat ini kelompok tani yang tergabung dalam program tersebut memiliki perkebunan seluas 15,5 hektar.

Terkait pemasaran, Imam menuturkan pihaknya dibantu juga oleh BNPB melalui beberapa upaya, salah satunya dengan pameran-pameran terkait kopi yang di selenggarakan di seluruh Indonesia.

"Dalam BNPB ada namanya pasca pemasaran, jadi kelompok pemasarannya sudah ada, mereka nanti juga membantu bagaimana pemasarannya, contohnya seperti acara ini (Pasar Kopi Sco-pi), besok ada pameran di Bali, di Lampung, besok lagi di Jogja," tuturnya.

Pada kesempatan itu Imam berharap, kedepannya Pemerintah bisa lebih serius pada tanaman kopi, sebab tak bisa dipungkiri kopi merupakan salah satu komoditi yang dimiliki bangsa ini dan punya potensi besar.

Menurutnya, saat ini kopi belum digarap secara maksimal padahala kekayaan varietas kopi di Indonesia bisa mendatangkan devisa bagi negara.

"Sejauh ini pemerintah masih memandang sebelah mata pada kopi, jadi harapan saya secara pribadi, Pemerintah itu harus lebih serius lagi kepada petani kopi," tandas Imam kemudian. []



Telah tayang: 

https://akurat.co/kopi-cimbang-sinabung-berkah-di-balik-bencana-erupsi-gunung

Kopi Dogiyai, Primadona Papua yang Terlupa


Turut meramaikan pameran Jakarta Coffe Week yang diinisiasi oleh Sco-pi, "Kopi Dogiyai" asal Desa Pautadi, Kamuu Utara, Dogiyai, Papua, merupakan salah satu primadona minuman berkafein yang dinanti-nanti para pencinta kopi di Nusantara.

Hanok Krison salah seorang petani kopi menuturkan, kopi Papua khususnya kopi dari daerah Dogiyai memiliki keunikan sebab ditanam di atas ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut sehingga sulit ditemukan di daerah lain.

"Kopi ini kita dapat dari petani kopi yang menanam di atas ketinggian 1.800 meter sampai lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, sehingga kopi ini ya pasti berbeda ya, kalau di Indonesia ini, cari kopi di atas 2000an sulit dapat. Tapi di Papua bisa," katanya saat ditemui di Jakarta, akhir pekan lalu.

Hanok menambahkan, kelebihan lain dari kopi Dogiyai yakni karena usia pohonnya yang tak bisa lagi terbilang muda, mengingat sudah ditanam sejak masa kolonial Belanda melalui para misionaris yang berhuni di tanah Papua kala itu.

"Kita tahu ya, kopi ini, semakin berumur kan semakin menghasilkan kopi yang berkualitas," tambahnya.

Tak cukup sampai disitu, sedikitnya jumlah produksi yang dihasilkan, membuat kopi Dogiyai semakin banyak dicari oleh orang-orang terlebih bagi para pencinta kopi.

Hanok mengungkapkan, meski saat ini tidak sepopuler kopi Wamena, namun kopi Dogiyai pernah mengalami masa kejayaannya pada era 90an, dimana kala itu para misionaris mampu melakukan produksi secara besar-besaran hingga bisa melakukan ekspor ke Eropa.

"Karena waktu itu ada pasarnya, kemudian sejak ada kebijakan nasional bahwa para misionaris harus keluar dari Papua, sejak saat itu pasarnya sudah tidak ada, nah, sejak 98 sampai 2000an sudah tak ada itu pasarnya," terangnya.

Kehilangan pangsa pasar membuat para petani pun akhirnya terpaksa memutuskan menebang pohon-pohon kopi mereka dan beralih menanam umbi-umbian guna bisa memenuhi urusan perut yang menuntut untuk diisi.

Oleh karenanya, lanjut Hanok, tak mengherankan bila alih fungsi lahan tadi berimbas pada produksi kopi Dogiyai mengalami penurunan tajam dan kini menjadi hal sangat memprihatikan.

Saat ini rata-rata produksi kopi Dogiyai dalam pertahun dengan dua kali musim panen, hanya bisa menghasilkan sekitar 50 ton biji kopi.

Terkait peran pemerintah melihat hal itu, menurut Hanok, ditingkat gubernur sudah cukup baik, hal itu ditandai dari gerakan pembedayaan petani kopi yang diinisiasi oleh gubernur, namun demikian secara pelaksanaan tidak mendapat sokongan dari pemerintah kabupaten sehingga dirasa kurang masif dalam mendongkrak produksi kopi Dogiyai.

"Program pemberdayaan petani kopi sudah ada tiga tahunan ini, hanya saja gerakan ini tidak bisa jadi besar karena tidak dijemput oleh pemerintah kabupaten, kepala-kepala dinas di kabupatennya," terangnya.

Hanok berharap di masa mendatang Program Pemberdayaan Petani Kopi bisa di dukung oleh pemkab selaku ujung tombak dan pembuat kebijakan, salah satunya dengan meregulasi program itu di daerah melalui perda-perda yang mengarah pada upaya menggenjot produksi kopi Dogiyai.

Selanjutnya ia berpendapat, Program Dana Desa dari Pemerintahan Jokowi sebenarnya bisa menjadi angin segar yang membawa harapan untuk dapat mengembalikan masa kejayaannya kopi Dogiyai, andai sebagian dana tersebut dianggarkan untuk sektor komoditi kopi.

"Program Jokowi ini baik, dana desa, hampir satu miliar untuk satu desa, kalau misalnya disisihkan 30 persen aja itu untuk kopi saya rasa bisa (mendorong produksi kopi)," tuturnya.

Namun begitu, penyaluran anggaran tersebut nanti juga perlu regulasi dan kebijakan yang betul-betul mampu mengarahkan para petani agar bisa produktif menghasilkan kopi.

"Kalau tidak ada kebijakan dana hanya untuk bisa beli-beli yang lain, beli-beli ternak dan sebagainya, padahal kalau kopi ini bisa kita katakan bisa jadi emas hijau, karena sifatnya bisa disimpan," jelas Hanok.

Ia menambahkan, "Kopi Papua ini kan sangat diinginkan oleh pasar, pasar global, tapi kalau produsi kuantitasnya saja tidak bisa dipenuhi mana bisa pasar global masuk, di pasar nasional aja ngga bisa dipenuhi, apalagi pasar global," tukas Hanok.

Ia optimis jika produksi kopi bisa digenjot maka akan meningkatkan pendapatan perkapita daerah. Sebab di Papua sendiri masih banyak hutan dan lahan kosong yang bisa dimanfaatkan apabila ditanami tanaman produktif seperti kopi.

"Pendapatan perkapita Masyarakat bisa naik, kita bisa mengatakan 20 juta, asumsikan 1 pohon bisa mengahasilkan 50 ribu kali 200 pohon, satu musim saja bisa menghasilkan 10 juta, kali 2, nah 20 juta, jadi tidak ada yang miskin di Papua, itu baru hanya dengan kopi saja, belum uranium, emas, itu sudah cukup dengan kopi saja kalau mau serius," tandas Manok kemudian. []



Telah tayang: 

https://akurat.co/kopi-dogiyai-primadona-papua-yang-terlupa

Diekspor Hingga Eropa, Kopi Magelang Samar Terdengar di Tanah Air



Java Volcano Coffe, mendengar namanya barangkali membuat orang akan langsung bisa menerka bahwa kopi tersebut merupakan produk kopi yang memiliki keterkaitan dengan gunung api.

Ya, bukan tanpa alasan kenapa Java Volcano coffe dinamakan demikian, sebab produk kopi yang berasal dari Magelang, Jawa Tengah, itu memiliki keunikan karena ditanam di wilayah yang dikelilingi jajaran gunung api yakni Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing.

"Karena tumbuh di wilayah gunung api, rasa kopinya tentu jadi berbeda dengan kopi lain, kalau yang robusta dia rasanya jadi lebih nutty... Kalau yang arabicanya juga rasanya jadi lebih fruit. Ada juga sebagian kopi di daerah Magelang yang rasanya lebih ke cokelat," ujar Fauzan Hasnan, salah seorang petani kopi saat mengikuti pameran Jakarta Coffe Week akhir pekan lalu.

Pemuda asli Magelang itu menuturkan, dalam penjualan Java volcano coffe, para petani kopi di Magelang belum bisa mandiri sehingga harus melakukan kerja sama dengan perusahaan eksportir.

Menurutnya, kerja sama tersebut seperti alegori mata uang yang memiliki dua sisi berbeda dan saling bertolak belakang, di satu sisi bisa menguntungkan para petani dalam menjual hasil kopinya, tapi di sisi lain juga merugikan karena kopi asal Magelang menjadi tidak dikenal oleh banyak orang, sebab biasanya dalam proses pengemasan brand yang digunakan memakai merek dari daerah lain.

"Kopi Magelang ini kan namanya belum terkenal, kebanyakan kopi dari sini diambil oleh daerah-daerah yang terkenal kopinya yang membutuhkan kuota kopi lebih banyak. Jadi kopi-kopi Magelang diangkut ke daerah-daerah lain, diakui oleh daerah itu untuk memenuhi kuota. Kasihan petani aslinya," ungkap Fauzan.

Pemuda dua puluh tahunan itu merasa prihatin dengan realita tersebut, karena sebenarnya kualitas kopi Magelang tak bisa dipandang sebelah mata. Hal itu terbukti saat kopi Magelang sudah diekspor hingga ke China, Korea dan Eropa namun ironisnya menggunakan merek dari daerah lain.

Kendati demikian ia mengakui, peran Pemerintah sejauh ini sudah dirasa cukup. Diantara langkah-langkah pemerintah daerah yang sudah dapat dirasakan petani lokal yakni adalah dengan penyediaan sarana dan prasarana untuk mengolah kopi.
Selain itu juga ada perusahaan kopi yang kerap kali memberi penyuluhan kepada para petani.

"Kalau peran pemerintah cukuplah yah, diantaranya yakni dengan memberi bantuan seperti penyediaan mesin proses untuk percontohan, terus juga ada perusahan besar datang ke tempat kami mengedukasi. Jadi kami sebagai petani jadi ada tambahan wawasan gitu," tuturnya.

Fauzan mengungkapkan, dalam menyuplai kopi ke Perusahaan Ekspor tersebut pihaknya melakukan dengan dua cara, pertama rutin dilakukan sebulan sekali yakni rata-rata berkisar di angka 2 ton, sementara untuk pengiriman persemester bisa mencapai 5 ton. Salah satu perusahaan yang menampung hasil produksi kopi petani Magelang saat ini yakni PT Cita Kopi.

Pada kesempatan itu dirinya berharap kopi Magelang dengan merek dagang Java Volcano bisa mandiri di masa mendatang dan dapat dikenal oleh banyak orang, baik di pasar lokal maupun global.

"Ya, misi kita tentunya pertama bagaimana bisa di akui di lokal, selanjutnya bisa di akui di internasional," tutup Fauzan penuh harap. []



Telah tayang: 

https://akurat.co/diekspor-hingga-eropa-kopi-magelang-samar-terdengar-di-tanah-air

Kopi Arabica dari Kaki Gunung Kerinci



Tak mau melewatkan kesempatan untuk bisa memperkenalkan kopi yang berasal dari daerahnya, membuat Azis rela terbang jauh-jauh dari Jambi menuju Jakarta agar bisa mengikuti parhelatan Jakarta Coffe Week, yang diselenggarakan selama tanggal 8 hingga 10 September 2017 di Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

Azis mengatakan, dalam pameran yang diinisiasi oleh Sco-pi itu, dirinya sengaja membawa Arabica Kerinci yang berasal kaki gunung Kerinci tepatnya di desa Jernih Jaya, kecamatan Gunung Tujuh, Kerinci, Jambi sebagai produk unggulannya.

Ditanya mengenai kelebihan Kopi Kerinci Jambi, pemuda sawo matang itu diplomatis menjawab, bahwa setiap kopi dari daerah mana pun pada dasarnya memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri sehingga tidak bisa dibanding-bandingkan.

"Setiap daerah kan punya ciri khas masing-masing, jadi kopi itu tidak punya saingan dari daerah lain, kopi Kerinci ya kopi Kerinci, tergantung selera orangnya masing-masing," ujarnya dengan simpul senyum yang menyembul.

Ia menuturkan, karena produk kopinya tersebut masih tergolong baru, sehingga pangsa pasarnya pun masih di lingkup lokal dan menyasar daerah-daerah sekitar.

"Kopi kami baru menyasar kafe-kafe di daerah ya... umm... di Jakarta, Surabaya, Jogja," imbuhnya.

Untuk bentuk usaha, Azis mengatakan Arabica Kerinci merupakan bagian dari Koperasi Serba Usaha (KSU) Koerintji Barokah Bersama, Propinsi Jambi.

Adapun terkait jumlah produksi, dalam perbulan pihaknya bisa menghasilkan produk kopi sekitar satu ton.

Fauzan mengungkapkan, tantangan terbesar yang dihadapinya saat ini adalah persoalan nama kopi Arabica Jambi yang belum cukup populer sehingga perlu menggencarkan promosii. Oleh sebab itu, pihaknya selalu berupaya agar selalu bisa terlibat bila ada acara atau pameran seperti yang diadakan oleh Sco-pi.

Sementara disinggung mengenai peran pemerintah, ia mengakui bahwa Pemerintah Daerah sudah dirasa cukup berperan dalam upaya mendongkrak produk kopi di Jambi.

"Pemerintah cukup mendorong, karena bisa dibilang 80 persen sampai 90 alat itu dari pemerintah, dan itu dihibahkan," ujarnya.

Pada kesempatan itu ia juga berharap bahwa pemerintah daerah dapat terus berkomitmen membantu menyokong petani, khususnya petani kopi secara berkelanjutan sebab potensi kopi di Nusantara sangat prospektif dan dapat mengangkat perekonomian Masyarakat di daerahnya. []



Telah tayang: 

https://akurat.co/kopi-arabica-dari-kaki-gunung-kerinci

Ada Aroma Lemon di Kopi Arabica Bajawa Flores



Pagelaran Jakarta Coffee Week yang diselenggarakan oleh Sco-pi akhir pekan lalu nyatanya memiliki magnet tersendiri dan mampu menarik respon positif dari masyarakat.

Hal tersebut ditandai dari turut sertanya berbagai perwakilan koperasi, petani, pengusaha hingga para pencinta kopi dari banyak daerah di seluruh Indonesia. Salah satu perwakilan kopi dari daerah yang turut meramaikan ajang tahunan itu yakni kopi asal Flores, Arabica Flores Bajawa.

Ketua Koperasi Primer Kagho Masa, dari Desa Radabata, Golewa, Ngada, Flores NTT Marselina Walu mengatakan, pihaknya sengaja membawa dua produk unggulan mereka yakni, Kopi Arabica Flores Bajawa dan Arabica Flores Manggarai sebagai upaya dalam mempromosikan kedua komiditi khas Flores tersebut.

"Keunikan dari kopi Flores ini punya aroma dan rasa herbal yang tinggi, lebih ke aroma flora. Kalau Flores Manggarai lebih ke bumbu-bumbuan dan madu, kalau Bajawa ada ke lemon, (rasa) madunya juga dapat," kata Marselina. 

Tak hanya itu, Marselina juga menuturkan, selama masa tanam, kopi Flores juga tidak menggunakan pupuk-pupuk kimia. Sementara pada proses dari kebun sampai pengolahan pihaknya nyaris tidak menggunakan mesin karena dilakukan secara alami dan manual.

"Artinya minim, kalau yang pakai mesin cuma proses grinder biji, tapi yang kita bawa kesini manual, kita tumbuk pakai lesung itu kopi," jelasnya.

Terkait pemasaran, selama ini dalam menjual kopi Flores pihaknya menggandeng PT Indokom Persada. Dimana kopi yang masih berupa HS basa, yaitu ceri kopi yang memiliki kadar air sekitar 25 hingga 30 persen akan di serahkan pada perusahaan yang sudah berkolaborasi dengan para petani kopi Flores sejak tahun 2015 itu.

"Kalau untuk green been kami sudah sampai ke Australia. Bekerja sama dengan Mountain Top Coffee," imbuhnya.

Tak hanya Australia, pada tahun lalu Arabica Flores Bajawa juga sempat di kirim untuk dijual sekaligus guna mengikuti ajang kompetisi kopi dunia di Amerika, dan terpilih menjadi kopi terbaik ke 13 dari 80 kopi yang berasal dari Indonesia.

Sementara untuk pasar lokal, Marselina mengatakan, produk kopi Flores sudah tersebar di hampir seluruh kafe-kafe di Indonesia, yakni dari Medan sampai Bali.

Iya menjelaskan kendati menjual melalui PT Indokom Persada, namun merek kopi Green Bean Coffee Arabica Flores Bajawa tidak hilang.

"Kita sudah terdaftar di kementerian Hukum dan HAM, jadi walaupun eksportirnya dari PT Indokom, tetap bawa nama Green Bean Coffee Bajawa." Terang Marselina.

Ia menjelaskan bahwa Arabica Flores Bajawa terhimpun dalam koperasi sekunder, dimana koperasi sekunder adalah bagian dari koperasi premier yang terdiri dari 5 kelompok koperasi. Tersebar di tiga kecamatan, total anggota dari 5 koperasi itu mencapai sekitar 1800an petani.

Terkait omzet, total pemasukan dari koperasi kopi di Flores itu pada tahun 2016 mencapai Rp 9 miliar, namun sayang, disebabkan faktor alam pada 2017 penjualan mengalami penurunan menjadi Rp 7 miliar.

Disinggung mengenai peran pemerintah sejauh ini, Marselina mengakui sudah cukup baik dalam menggandeng petani-petani lokal.

"Peran pemerintah sudah oke, kerjasama dan kolaborasinya dengan masyarakat, dengan perusahaan-perusahaan sudah oke. Tapi ada hal yang mungkin perlu dievaluasi yakni terkait subsidi pupuk dan bibit yang diberikan ke petani," tuturnya.

Ia menyarankan kepada pemerintah, sebelum membagikan pupuk dan bibit kepada masyarakat, ada baiknya melakukan verifikasi terlebih dulu terkait cocok tidaknya bibit tersebut dengan kondisi lahan di daerahnya.

"Bibit ini harus dilihat dulu apa cocok dengan kondisi tanah, ketinggian dan sebagainya. Jangan sampai asal subsidi sebab nanti dalam jangka panjang justru akan merusak, satu dua tahun kemudian mati itu dia tanaman karena kering. Mungkin tanah itu memang tidak cocok sama bibit (pemberian Pemerintah), Contohnya, sebenarnya tanah kami cocoknya untuk kopi, jadi tak perlu lah itu program holtikultura di sana, jika tanah sudah cocok dengan kopi ya sudah tidak perlu tanaman holtikultura, masyarakat jadi bingung," tandas Marselina.

Ia menambahkan, "Lalu soal pupuk, kalau tanah asal kita kan sebenarnya cukup pakai pupuk alami, nah, kalau pupuk subsidi itu ada unsur kimia, bisa rusak itu nanti tanah lama-lama,"

Tak cukup sampai disitu, Marselina juga merekomendasikan, jika memang mau terus mensubsidi pupuk, pemerintah harus memastikan masyarakat tahu cara mengaplikasikannya dengan benar.

"Itu, saat pupuk subsidi itu datang, PPL-PPL yang didatangkan pemerintah harusnya memberi penyuluhan atau briefing kepada petani bagaimana cara mengaplikasikan pupuk itu dengan benar," tegasnya.

Lebih lanjut Marselina juga menuturkan ketidaksepakatannya dengan program bantuan tunai yang diberikan pemerintah. sebab, menurutnya program tersebut dirasa tidak efektif dan justru membuat masyarakat menjadi tidak produktif.

"Itu uang hibah, artinya kan perasaan memiliki tidak ada, habis itu uang untuk konsumtif, tidak untuk pengembangan," pungkasnya kemudian. []



Telah tayang: 

https://akurat.co/ada-aroma-lemon-di-kopi-arabica-bajawa-flores



Kopi Bali Kintamani Ingin Berdiri di Atas kaki Sendiri



Tak ingin melewatkan undangan dari Sco-pi yang memintanya agar bisa ikut meramaikan pagelaran Jakarta Coffee Week, pengusaha kopi asal Bali, I Wayan Warta pun tanpa berpikir dua kali langsung menyertakan produk kopi andalannya di pameran pasar kopi tahunan tersebut.

Kopi Bali Kintamani atau biasa juga dikenal oleh kalangan pencinta kopi dengan nama "Kopi Balikin", adalah kopi jenis arabica yang ditanam di dataran tinggi kintamani dengan ketinggian di atas 900 meter dari permukaan laut, membuatnya punya citarasa khas yaitu memiliki aroma citrus dengan keasaman rendah seperti lemon tea.

"Kelebihan kopi kami memiliki rasa lemon tea, selain itu ukuran biji kopinya lebih besar, untuk jenis kopi termasuk arabica. Kopi asli Bali Kintamani," ujar Wayan. 

Wayan menyebutkan, adapun kopi-kopi yang dibawa ke pameran itu ada 5 jenis cara prosesnya. Salah satu dari lima proses produksi pascapanen Kopi Balikin yakni, dimulai dari pemetikan ceri kopi yang dilakukan secara manual dan hanya dipilih ceri yang benar-benar sudah berwarna merah. Selanjutnya diolah secara basah, dengan fermentasi selama 12 sampai 36 jam. Biji kopi lalu dikeringkan secara alami dengan cara dijemur. Teknik olah itu mampu menghasilkan kopi kintamani dengan aroma khas dan tak dimiliki oleh kopi lain.

"Lima proses kopi kita bawa kesini, dari semi wash, full wash, natural, honey proces dan Pulped," singkat saja Wayan menyebutkan proses produksi kopi yang lain.

Kendati Kopi Kintamani sudah memiliki penggemarnya sendiri, namun Wayan mengungkapkan produknya itu belum punya brand yang dipatenkan.

"Belum ada merek, sejauh ini bentuk green beannya ini kami setor ke kafe-kafe, seperti Starbuck," imbuhnya.

Ia menuturkan pemberian merek pada produknya belum bisa dilakukan mengingat proses pengurusannya yang dianggap rumit dan butuh waktu lama.

Dalam sekali pengiriman kopi Bali Kintamani ke kafe-kafe, rata-rata wayan bisa mengirimkan sebanyak 100 kilogram sampai 150 kilogram dalam bentuk green bean.

"Biasanya kopi-kopi yang d kirim ke kafe-kafe dalam bentuk green bean, sebab masing-masing kafe kan, punya roaster sendiri," jelasnya.

Dalam menjalani bisnis kopi Bali Kintamaninya itu, Wayan biasa dibantu oleh 5 sampai 6 orang pekerja yang mengurusi proses grinder.

Disinggung mengenai respon pengunjung terhadap kopi Bali Kintamani yang datang ke pameran Jakarta Coffee Week, ia menuturkan masyarakat sangat positif dan antusias, hal itu terbukti dari produk kopinya tersebut yang langsung ludes terjual bahkan sejak di hari pertama. Padahal dijadwalkan pameran itu akan berlangsung selama tiga hari dari tanggal 8 hingga 10 September 2017.

"Kami baru buka stand satu hari sudah langsung habis, kami dapat jatah 30 kilo(gram), tiga hari 90 kilo(gram) berarti, dan itu langsung habis semua," kata Wayan semringah.

Pada kesempatan tersebut, bapak paruh baya itu juga menyampaikan harapannya agar di masa mendatang produk Kopi Balikin memiliki bendera sendiri, dan dapat melakukan ekspor secara mandiri tanpa harus melalui perusahaan milik orang lain.

"Untuk penjualan tidak hanya di pasar lokal, pada 2015 melalui bendera perusahaan lain kita ekspor... Tantangan kenapa ekspor tak dilakukan sendiri, karena kita belum punya bendera sendiri, prosesnya lama, Untuk menuju kesana sudah ada gambaran tapi kami belum bisa memastikan jadwal pastinya itu kapan, ya semoga bisa segera," harap Wayan kemudian. []



Telah tayang: 

https://akurat.co/kopi-bali-kintamani-ingin-berdiri-di-atas-kaki-sendiri


Beragam Kopi Toraja Mendunia, Sapan Talimbangan Hanya Salah Satunya



Seakan tak mau kalah unjuk gigi melalui kopi, Ketua Asosiasi Kopi Toraja Utara, Yedikin Kusuma dari Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan akhirnya turut bertandang meramaikan perhelatan Jakarta Coffee Week yang di gelar pada 8-10 September 2017, di Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

"Dalam rangka mengikuti Pasar Kopi yang diadakan Sco-pi ini kami mempromosikan beberapa kopi Arabika Toraja. Yang kami bawa ini Kopi Sapan Talimbangan, ini kami proses dengan honey proces," kata lelaki paruh baya itu. 

Ia menuturkan, kendati kopi Toraja bisa ditemui diberbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia, namun pada dasarnya setiap kopi asli Toraja tetap memiliki cita rasa sendiri-sendiri.

Menurutnya, hal tersebut tidak terlepas dari karateristik unsur hara tanah di daerah beribukota Rantepao itu yang berbeda-beda meski masih bisa dibilang bertetangga.

"Kopi Toraja itu punya khasnya masing-masing. Tentunya ini terpengaruh karakteristik unsur hara itu sendiri. Nah, di Toraja ini meski sama-sama dari Toraja, tapi antara satu desa dengan desa yang lain berbeda kopinya. Kita ada 23 gunung, ada Sopai, ada dari Rantai Karua, ada dari Maruku, ada Guntau, Manggala, ya... Banyak gunung beda-beda itu semua tanahnya," jelasnya.

Yedikin mengungkapkan, berkali-kali mengikuti ajang kompetisi kopi di tingkat nasional, Kopi Arabica Sapan Talimbangan sempat beberapa kali didapuk sebagai jawara kopi. Diantaranya yakni juara di kompetisi Surabaya dan Jakarta.

"Tak cuma itu, pada 2012 kopi ini juga pernah cetak rekor (lelang) dapat penjualan 45  dolar AS (perkilo)" kata Yedikin penuh bangga.

Terkait pemasaran, kopi Toraja Sapan Talimbangan sudah merambah berbagai pasar kopi lokal yang tersebar di Makasar, Jakarta, Surabaya, Bandung, Jakarta hingga Medan.

Sementara untuk pasar global, kopi yang sudah memiliki brand sendiri ini telah merambah pasar Singapura dan Malaysia. Dimana dalam penjualannya, Arabica Toraja Sapan Talimbangan sudah menggunakan kemasan bermerek, baik dalam bentuk green bean, roasting, maupun bubuk.

Dirinya mengakui, pencapaian yang didapat Arabica Toraja Sapan Talimbangan tentunya tak terlepas dari peran pemerintah yang gencar melakukan pembinaan kepada pihaknya dan juga sering mempromosikan kopi asli asal Toraja tersebut.

Dalam menjalani usaha kopinya, Yedikin dibantu oleh 8 orang karyawan serta dari kelompok tani di daerah Toraja Utara.

"Karyawan khusus sangrai saya, itu ada 8 orang. Sementara dalam kelompok tani ada 1563 orang yang tergabung." Jelasnya kemudian. []


Telah  tayang: https://akurat.co/beragam-kopi-toraja-mendunia-sapan-talimbangan-hanya-salah-satunya


Java Temanggung Coffee: Biarkan Kopi yang Bicara



Biarkan kopi yang bicara. Begitu jargon dari Java Temanggung Coffee dalam memasarkan produk-produk kopi andalannya, tak terkecuali saat mengikuti ajang Jakarta Coffee Week di Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

Berpusat di desa Gesing, Kandangan, Temanggung, Jawa tengah, Java Temanggung Coffee yang tergabung dalam payung Unit Pengolahan Hasil (UPH) Rumah Kopi Gesing Kandangan, berfokus untuk mengangkat martabat para petani kopi di daerah tersebut dengan cara menghasilkan biji-biji kopi yang berkualitas.

Pengusaha sekaligus Ketua Asosiasi Petani Temanggung (APT) Rio Ricardo menuturkan, ketimbang menghasilkan kopi dalam jumlah besar namun minus mutu, pihaknya lebih tertarik untuk berupaya memproduksi kopi dengan kualitas premium meski tak seberapa besar jumlahnya.

"Produk kopi kami ada robusta dan arabica. Keunggulan kopi kami ada di-quality control-nya yang benar-benar terjaga, mulai dari budidaya kita melakukan pemilihan (biji-biji kopi yang sempurna) jadi tidak semua (hasil) petani masuk ke kita," kata Rio memulai percakapan. 

Ia menuturkan, jumlahnya petani yang tergabung dalam Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) yang dikelolanya berjumlah lebih dari 200 jiwa. Dimana pihaknya bertanggung jawab dalam menampung hasil kopi dari petani agar mereka bisa terus konsisten menghasilkan biji-biji kopi dengan mengutamakan kualitas prima dan tidak asal panen.

Tak hanya itu, langkah yang diambil dirinya juga sebagai upaya agar petani-petani di daerah Kandangan tidak merugi, akibat ulah pengepul culas yang hanya mau mencari keuntungan.

"Jadi ini koperasi untuk petani. ceri (kopi) mereka kita masukan ketempat kita, supaya konsisten dalam pengolahan pasca panennya tadi. Nah, kalau hasil panennya di olah sendiri-sendiri sama petaninya, ujung-ujungnya tidak konsisten, yang diuntungkan nanti cuma pengepul-pengepul kopi yang ada di sana, karena (dengan menjual biji kopi kualitas rendah) kesejahteraan petani tidak akan naik disitu," terang Rio kemudian.

Menurutnya, tak menjadi soal bila dalam sekali panen, kopi yang dihasilkan para petani tak terlalu berlimpah, selama mutu dari biji-biji kopi tersebut tetap terjaga, hal itu sudah cukup menggembirakan sebab layak untuk dijual.

"Jadi istilahnya, walaupun kita satu bulan cuma panenan dapat sekilo, asal pasca panennya yang berkualitas tadi kita syukurin, kita tidak memaksakan, karena kita menjaga nama baik petaninya," imbuh Rio dengan mantap.

Sebab berorientasi pada kualitas dan bukan kuantitatas membuat Java Temanggung Coffee saat ini tidak bisa melakukan ekspor ke pasar global. Karena biasanya produk kopi yang dihasilkan pihaknya hanya cukup untuk memenuhi permintaan pasar lokal.

Kendati demikian bukan berarti citra kopi asli Temanggung tersebut menjadi meredup, justru sebaliknya produk kopi premium miliknya diakui hingga ke mancanegara.

"Beberapa kali kopi temanggung mengikuti ajang kompetisi internasional. Kita sempat mengikuti kompetisi di Irlandia dan jadi juara dua. Kita juga sudah masuk ke pameran di Amerika, dibawa langsung sama gubernurnya, ini bulan depan kita bakal pameran di China juga... Selain itu juga pernah ke Itali dan Belanda," terangnya.

Pada kesempatan itu Rio juga mengungkapkan, dengan menggunakan bendera Java Temanggung Coffee, dirinya sudah mengelilingi Eropa untuk memperkenalkan kopi Indonesia, khususnya kopi asli dari Temanggung tersebut.

Disinggung mengenai proyek apa yang akan dilakukan kedepan, pria berusia 40 tahunan yang juga seorang trainer untuk Kelompok Tani di Jawa tengah itu menuturkan, dirinya sedang berupaya untuk bisa mengedukasi masyarakat tentang betapa Republik ini memiliki kopi dengan kualitas tinggi namun kurang disadari oleh "pemiliknya sendiri".

"Jadi kita mau fokus jaga produk di pascapanen yang baik, kita berikan ke masyarakat Indonesia, ya, kita tahu sendiri saat ini masyarakat Indonesia kalau minum kopi yang biasa, kopi asalan gitu, nah, kita mau edukasi ke orang Indonesia, 'ini lho... kopi Indonesia yang baik'," tutur Rio kemudian.[]



Telah tayang: https://akurat.co/java-temanggung-coffee-biarkan-kopi-yang-bicara

Varietas Kopi Nusantara di Tanah Pangalengan



Berbeda dengan produk kopi lain yang mengunggulkan varietas asli dari daerahnya masing-masing, Comanditaire Venotschap (CV) kopi asal Desa Margamulya, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat ini justru melakukan hal sebaliknya.

Java Frinsa State (JFS) nama merek kopi "anomali" tersebut. Alih-alih menonjolkan produk asli dari daerahnya, JFS justru berfokus untuk memproduksi produk kopi dimana varietasnya berasal dari luar wilayahnya namun ditanam di tanah Pangalengan.

"Jadi varietas-varietas kopi yang ada di seluruh Indonesia ditanam di Jawa Barat. Seperti misalnya dari Sumatera; ada Sigararutang, P88, Borbor, Andungsari kan itu dari Aceh, ditanam di daerah Jawa barat, Pangalengan," jelas Desti penjaga stand kopi sekaligus salah seorang pekerja di JFS.

Dia menuturkan, karena varietas kopi itu berasal luar Jawa Barat namun saat ditanam di tanah Pangalengan, membuat biji kopi yang dihasilkan memiliki cita rasa yang unik dan tak biasa.

Boleh dibilang, kata Desti melanjutkan, justru gagasan itu yang manjadi kekuatan produk kopi Java Frinsa State tersebut.

"Jadi ketika varietasnya sama tapi kalau ditanam di tanah yang beda, rasanya akan beda. Nah, disitu itu uniknya kopi ini," imbuhnya.

Terkait pangsa pasar, Desti menjelaskan pemasaran produk kopi JFS sejauh ini masih berada dilingkup lokal. Dimana dalam memasarkan kopi, JFS juga memanfaatkannya internet seperti Website dan jejaring sosial.

Saat ini, Java Frinsa State setidaknya menyerap 20 tenaga kerja baik pekerja harian maupun borongan. Disamping itu keberadaan CV yang baru berdiri pada tahun 2011 tersebut juga telah memberdayakan sekitar 60 orang petani kopi di Pangalengan. []



Telah tayang: https://akurat.co/varietas-kopi-nusantara-di-tanah-pangalengan


Ingin Mandiri, Kopi Papandayan Cipaganti Terganjal Modal



Pegelaran Jakarta Coffee Week yang diinisiasi oleh Sco-pi benar-benar telah menjadi semacam area titik temu bagi mereka para pencinta, petani, pengusaha, asosiasi, koperasi atau sebut apapun itu karena memiliki irisan yang sama terkait kopi.

Sebagai salah satu tetangga terdekat --mengingat pameran tersebut digelar di Jakarta, membuat Desa Cipaganti, Jawa Barat seakan tak rela melewatkan ajang tahunan itu begitu saja, hingga akhirnya mengirimkan salah satu "delegasi" kopinya untuk bertandang ke perhelatan tersebut, yakni Kopi Papandayan.

Pengusaha Kopi Janjan Nugraha menuturkan, Desa Cipaganti yang tak lain adalah kampung halamannya merupakan salah satu dari dua desa yang letaknya paling dekat dengan Gunung Papandayan. Maka tak mengherankan bila biji kopi arabica yang dihasilkan dari daerah tersebut memiliki cita rasa yang khas dan tentunya berbeda dengan kopi-kopi daerah lain.

"Selain itu, kelebihan kita selama ini menggunakan pupuk organik, bisa dibilang jarang pakai pupuk kimia atau pakai pektisida," ujar Janjan.

Lelaki berusia awal 30 tahun itu mengatakan, pada pasca produksi Kopi Papandayan, pihaknya memakai tiga cara proses yakni natural, wash dan honey proces.

"Proses kita pakai natural, wash dan honey, yang honey juga terbagi jadi tiga lagi, ada yang black, red dan yelow... Untuk produk unggulan yang selama ini paling dicari adalah yang honey," imbuhnya.

Adapun soal penjualan di pasar lokal, kata Janjan melanjutkan, Kopi Papandayan sejauh ini sudah merambah pasar Bali, Jogjakarta, Jakarta, serta daerah-daerah lain seluruh Indonesia.

"Kita juga bekerjasama dengan Javanero untuk melakukan ekspor ke Singapura, Itali, sama Slandia baru," tambahnya.

Kendati dalam mengekspor produknya bekerja sama dengan perusahaan Javanero, namun merek lokal Kopi Papandayan tidak hilang karena tetap disematkan.

Disinggung mengenai jumlah produksi yang dihasilkan, ia menuturkan untuk rata-rata pengiriman produk kopi ke Javanero dalam seminggu berada dikisaran 100 kilogram sampai 200 kilogram.

Selanjutnya ia menerangkan, para petani kopi Papandayan terhimpun dalam Kelompok Tani Mukti Cipaganti, dimana pada tahap pertama sebanyak 31 petani, tahap kedua 31 petani, dan tahap ketiga yakni tahun ini bertambah lagi menjadi 8 petani, dengan demikian total petani yang tergabung dalam Kelompok taninya berjumlah 70 petani. Sementara untuk besar lahan yang digarap yakni seluas 30 hektar.

Pada kesempatan itu Janjan juga menyampaikan harapannya, bahwa kedepan ia ingin mencoba mandiri dengan membentuk perseroan sendiri sehingga bisa melakukan ekspor tanpa harus melalui perusahaan lain.

Untuk saat ini hal itu belum bisa diwujudkan karena terkendala masalah modal. Hal yang sebenarnya juga dialami oleh petani-petani lain di Cipaganti.

"Tantangan yang kerap dihadapi petani lokal, terkait permodalan. Sebenarnya bantuan dari Dinas Provinsi dan Kabupaten sudah ada untuk bisa dapat mengakses bantuan finansial dari perbankan. Tapi kerap terbentur persyaratan," imbuhnya.

Janjan melanjutkan, "Rata-rata kan minta persyaratannya anggunan, ya namanya petani agunannya kecil, selain itu juga tidak punya sertifikat. Paling-paling akte tanah. Kadang malah cuma punya kwitansi jual-beli, namanya di kampung, nah itu kendalanya," tutur dia kemudian. []


Telah tayang: https://akurat.co/ingin-mandiri-kopi-papandayan-cipaganti-terganjal-modal

Naturalnya Aroma Pisang di Kopi Argopuro



Kopi adalah tiang besar konstruksi sosial. Begitu bunyi kalimat yang tertoreh di salah satu stand dalam pagelaran Jakarta Coffee Week pada akhir pekan lalu. Sepertinya tak keliru, sebab ajang tahunan tersebut nyatanya mampu mempertemukan banyak golongan dari berbagai daerah yang meski berbeda-beda, namun memiliki satu cinta dan cita yang sama yakni berupaya mengangkat salah satu komoditi prospektif di republik ini, kopi.

Pagelaran yang tak hanya diperuntukan sebagai ajang berkompetisi unjuk kebolehan, Pameran Pasar Kopi juga sebagai media untuk bisa saling mengenal lebih dekat kopi-kopi dari segala penjuru Nusantara.

Diantara para pegiat kopi yang terlibat dalam ajang tersebut, turut hadir Ahmad Muhisin, pengusaha kopi yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Wali Murid Sabda Ria Nada (Pokmas Walidah) asal Desa Tlogosari, Sumbermalang, Situbondo, Jawa Timur, yang sengaja datang untuk dapat memperkenalkan produk kopi daerahnya. Argopuro Coffee.

Ahmad menuturkan, kelebihan produknya terletak pada rasa kopi yang memiliki aroma pisang, terutama dari proses natural.

"Yang proses natural kita punya karakter pisang, rasa pisang, aroma pisang, dari beberapa roaster yang pernah pakai, mereka bilang yang keluar itu aroma pisang," ujarnya.

Ia mengatakan, di Argopuro kopi sudah ditanam sejak tahun 2012, namun proses pascapanen baru dimulai sekitar dua tahun lalu. Dalam proses tanam, petani kopi Argopuro masih mengunakan pupuk organik.

"Dengan menggunakan pupuk organik masih tercukupi pemenuhan nutrisi untuk tanamannya, bahkan tanpa dipupuk sudah bisa tumbuh sebenarnya," imbuhnya.

Terkait pemasaran, Ahmad mengatakan kopi Argopuro sudah tersebar di seluruh kota-kota besar yang ada di Indonesia. Sementara untuk pasar luar negeri, kopi Argopuro belum bisa melakukan ekspor.

Dia menerangkan, hal tersebut belum bisa dilakukan sebab saat ini pihaknya masih ingin memfokuskan diri untuk bisa memenuhi pangsa pasar di dalam negeri terlebih dulu.

"Kita sih, mending di dalam negeri dulu, sebab pasar dalam negeri masih punya potensi, yang penting orang Indonesia dulu mesti tahu bahwa kopinya itu enak," katanya seraya tersenyum.

Terkait jumlah produksi, dalam setahun Argopuro Coffee rata-rata bisa menghasilkan biji kopi berkisar di angka 10 ton. Sementara omzet perbulan bisa mencapai Rp10 juta.

Dalam proses pascapanen, Ahmad lebih banyak memberdayakan para ibu-ibu di daerahnya. Hal itu dilakukan agar mereka lebih produktif sehingga bisa membantu keluarga dalam mendorong tingkat kesejahteraan rumah tangga.

"Pekerja di proses sertasi ada 20 orang, di penggilingan ada 10 orang, kemudian melibatkan 20 orang petani," tuturnya.

Disinggung soal kendala, Ahmad mengungkapkan tantangan terbesar yang sering ditemui pihaknya yakni terkait menjaga konsistensi kualitas produksi, sebab rata-rata petani di daerahnya masih belum benar-benar teredukasi dengan baik, terutama pada proses petik yang sebenarnya amat menentukan mutu biji kopi.

"Menjaga kualitas kopi itu tantangannya, sebab kalau kita sudah dikenal sama orang enak, harus terus dijaga kualitasnya. Selain itu kami terus berupaya meningkatkan jumlah produksi, mengingat skala usaha kami saat ini masih kecil," terang Ahmad.

Untuk meningkatkan jumlah produksi, kedepan ia bakal memperluas lokasi tanaman kopi sehingga kapasitasnya bisa naik.

Pada kesempatan itu ia juga menyampaikan harapannya pada pemerintah, agar mau melihat dan lebih tergerak untuk mendorong peningkatan industri kopi.

"Harapan saya Pemerintah bisa lebih melihat potensi kopi kita, bukan hanya di Argopuro tapi juga di daerah-daerah lain seluruhnya, kopi kita punya potensi yang bagus dan punya karakter yang khas ditiap-tiap daerah. Kalau Pemerintah mau serius ikut terlibat, sebenarnya akan lebih cepat pertumbuhan industri kopi itu sendiri," tuturnya.

Ahmad melanjutkan, "Dan untuk pemain baru tidak usah terburu-buru untuk mengekspor kopinya. Karena harga dalam negeri pun jauh lebih bagus sebenarnya meskipun belinya dalam kuantitas kecil, tapi harga yang ditawarkan cafeshop itu lebih bagus." []



Telah tayang: https://akurat.co/naturalnya-aroma-pisang-di-kopi-argopuro

Kopi Lampung dan Fine Robustanya



Sebagai salah satu daerah penghasil kopi yang namanya sudah cukup malang melintang di jagat perkopian Indonesia, Lampung tentu tak mau ketinggalan untuk turut serta dalam pagelaran Jakarta Coffee Week yang digelar Sco-pi akhir pekan lalu.

Pada ajang tahunan itu, pengusaha kopi asal Kedaton, Bandar Lampung Alghazali Qurtubi mengatakan, pihaknya sengaja membawa merek dagang Dr. Coffee selain untuk berniaga namun juga sebagai upaya mengenalkan kopi Lampung lebih dekat kepada masyarakat.

"Jenis kopi kami robusta, tapi yang bikin berbeda dengan robusta-robusta yang lainnya karena ini adalah fine Robusta," ujarnya.

Lelaki yang akrab disapa Ali itu menuturkan, perbedaan paling mendasar antara kopi robusta biasa dan fine robusta adalah dalam soal pengolahan. Dimana pada proses pascapanen dilakukan penyeseleksian biji-biji kopi secara ketat, yakni dengan memastikan bahwa cerry-cerry atau buah kopi yang akan dipetik hanyalah cerry yang sudah benar-benar matang dan berwarna merah tua.

"Robusta itu yang diolah dengan benar-benar baik. Diolah dengan beberapa proses pascapanen, natural, honey proces, dan full wash," imbuhnya.

Menurutnya, kendala terbesar yang kerap ditemui selama dirinya menjadi penggiat kopi adalah minimnya kesadaran petani dalam menghasilkan biji-biji kopi yang berkualitas, hal itu dikarenakan para petani tak mau sabar menunggu hingga buah kopi benar-benar matang.

"Petani kita belum banyak yang mau memproses (kopi) pascapanen yang bagus, mereka lebih keasal-asalan karena lebih cepat dapat duitnya. Lebih cepat kering. Memang (fine Robusta) ini harganya lebih tinggi, dua kali lipat dari harga biasanya. Tapi yang jadi masalah petani menjadi tidak dapat uang lebih cepat," terangnya.

Kendati demikian, kata Ali melanjutkan, petani tidak sepenuhnya bisa disalahkan, sebab harus diakui bila nantinya proses pascapanen yang baik benar-benar dilakukan hingga mampu menghasilkan biji kopi fine robusta, belum tentu para petani nantinya akan menemukan pembeli kopi tersebut karena buyernya juga belum jelas.

Selanjutnya, terkait rata-rata penjualan, Ali menuturkan dalam sebulan bisa mengantongi omzet sekitar Rp50 jutaan. dan penjualan kopi pertahun sekitar 1 ton yang diniagakan.

"Kalau untuk pasar, kita lebih ke lokal di Indonesia, sudah ada yang menawari untuk bisa ekspor keluar, tapi terkendala masalah jumlah produksi yang belum bisa dipenuhi. Sebab ini kan fine Robusta, terbatas jumlahnya, kalau robusta asalan kan banyak," tandas Ali kemudian.[]


Telah tayang: https://akurat.co/kopi-lampung-dan-fine-robustanya

Produk Diekspor ke 50 Negara, Harga Kopi Dampit Masih Ditentukan Pedagang Besar



Kopi Dampit Malang adalah salah satu jenis kopi robusta yang diakui kualitas dan rasanya oleh dunia, dimana hampir 90 persen hasil produksinya diekspor ke luar negeri.

"Melalui PT Fajar Jaya, Kopi Dampit di ekspor ke 50 negara, ke Belanda, Prancis Jerman, Jepang... Ya, pokoknya yang jelas Eropa dan Asia sudah," kata Witono salah seorang petani kopi Dampit saat mengikuti pameran Pasar Kopi di Pantai Indah Kapuk akhir pekan lalu.

Ia menjelaskan dalam sekali panen pihaknya bisa menghasilkan jumlah kopi Dampit Malang non organik yang luar biasa besar, yakni sebanyak 3.000 ton.

"Kalau yang organik sekitar 30 ton, itu yang dibawa ke Jakarta, buat masyarakat kita," imbuhnya.

Witono menjelaskan, jumlah petani yang tergabung dalam kelompok tani kopi Dampit berjumlah sekitar 136 orang.

"Kalau total sebenarnya kita ada 8 kelompok petani, dimana 1 kelompok terdiri dari 20-25 orang perkelompok"

Adapun besaran lahan yang digarap oleh kelompok petani kopi di Malang terbagi menjadi dua bagian, pertama 1500 hektar ditanami kopi non organik, dimana hasil produksi dari lahan tersebut yang nantinya bakal di ekspor ke pasar global. Kedua lahan seluas 50 hektar yang khusus ditanami kopi organik dan hasil produksinya hanya akan dijual di pasar lokal.

Kendati peran pemerintah dalam melakukan pembinaan dan penyediaan alat-alat produksi untuk para petani kopi di Malang sudah dirasa cukup, namun Witono masih mengeluhkan soal kesejahteraan petani yang menurutnya masih terbilang belum tercukupi dan tidak bisa menentukan harga kopinya sendiri.

"Saat ini kita yang punya kebun kopi tapi tidak bisa menentukan harga, karena ditentukan oleh pedagang," pungkasnya. []


Telah tayang: https://akurat.co/produk-diekspor-ke-50-negara-harga-kopi-dampit-masih-ditentukan-pedagang-besar

Kopi Gunung Puntang, Jawara dari Tanah Pasundan



Menemani saudara dekatnya, yakni Kopi Papandayan Cipaganti yang mengikuti pagelaran Jakarta Coffee Week akhir pekan lalu, perwakilan petani kopi asal desa kaki Gunung Puntang, Jawa Barat pun mengirimkan produk kopi terbaiknya dalam ajang tahunan tersebut.

Muhammad Iqbal Bintang, pemuda asli Jawa Barat itu mendapat kehormatan untuk mengantar produk kopi unggulan dari daerahnya. Jenis kopi spesialti yang dilabeli dengan merek Kopi Murbeng Puntang.

Ia menjelaskan, kopi spesialti ialah kopi yang diolah dengan cara khusus, mulai dari pengolahan perkebunan hingga menjadi biji mentah. Salah satu cara yang paling terkenal dari proses pembuatan Specialty Coffee adalah "Petik Merah".

Lebih lanjut, Bintang, begitu ia biasa disapa, menuturkan bahwa petik merah adalah sebuah metode pencabutan buah kopi dari pohon dengan cara dipetik satu per satu, dan hanya dipilih dari buah kopi yang sudah matang. Hal tersebut membuat biji kopi yang dihasilkan dari buah kopi berwarna merah ini memiliki kualitas yang sangat baik.

"Ini yang bikin rasa kopinya jadi lebih organik," ujar Bintang.

Hasil tidak pernah mengkhianati prosesnya. Begitu kata orang bijak yang ternyata terbukti lewat proses panjang Kopi Gunung Puntang. Sebab, pada 2016 lalu kopi asal Jawa Barat tersebut berhasil menjadi jawara kopi dan didapuk sebagai juara satu dalam ajang internasional Specialty Coffee Association of America Expo di Atlanta, Amerika Serikat.

"Saat lelang di Atlanta, ya dibawa sama Sco-pi ini kopinya, Alhamdulillah ya menang." Ujarnya seraya tersipu.

Sebenarnya, ia sendiri pun tak tahu kenapa Kopi Gunung Puntang bisa didapuk sebagai pemenang pada ajang kopi bergengsi itu. Namun menurut hematnya, bicara kopi bukan hanya bicara soal rasa. Sebab semua indera semestinya harus terlibat saat tengah berinteraksi dengan minuman yang memiliki kandungan kafein itu.

"Kopi itu bukan cuma diminum, kopi itu dilihat, dihirup dan diminum. Kalau dilihat, kira-kira biji kopinya bagus ngga? utuh ngga? karena itu perlu disortir. Saat dihirup gimana wanginya? menyenangkan ngga? dan waktu di minum terasa ngga 'madunya'," tuturnya kemudian.[]


Telah tayang: https://akurat.co/kopi-gunung-puntang-jawara-dari-tanah-pasundan

Diapresiasi di Atlanta, tapi Kopi Ciwidey Terancam Punah



Turut hadir menjadi pelaku sejarah pada perhelatan Jakarta Coffee Week akhir pekan lalu, Firman Budiman petani kopi asal Ciwidey, Bandung Selatan, Jawa Barat berpendapat, bicara soal kopi ada baiknya harus menoleh ke sektor hulu.

"Soalnya kopi tuh ngga bisa bohong ya, kalau dari hulunya sudah nggak benar, kedepannya juga pasti ngga benar," tuturnya membuka percakapan dengan Akurat.co.

Berangkat dari prinsip itulah yang membuat dirinya kini selalu berupaya untuk bisa konsisten menjaga kualitas Kopi Ciwidey.

Dalam proses pascapanen, ia menekankan kepada teman-teman petani kopi lainnya agar mengimplikasikan Program Petik Merah untuk menghasilkan biji kopi dengan kualitas premium.

"Cara memetiknya pun tidak boleh ditarik tapi setengah diputar, atau dipelintir," imbuh Firman sembari memperagakan bagaimana cara memetik kopi yang baik dan benar.

Tak mengherankan, bila dengan prinsip yang dipegang teguhnya itu, mampu mengantarkan Kopi Ciwidey hingga sempat masuk kedalam 15 besar kopi terbaik dari 74 kopi yang dilombakan di Atlanta, Amerika Serikat pada tahun lalu.

Selanjutnya Firman mengatakan, terkait pemasaran, produk Kopi Ciwidey sudah dilempar ke berbagai daerah di Indonesia. Sementara  untuk pasar global telah di ekspor ke Singapura dan Slandia Baru melalui kerjasama dengan perusahaan Javanero.

"Kalau jumlah pengiriman dibantu sama Javanero, setahunnya, ke Singapura 1,5 ton dan Slandia baru 9,6 ton... Kalau pasar lokal ngga tentu ya, sekitar 1 ton lah, " Paparnya.

Jajaka Bandung itu mengungkapkan, total petani yang tergabung dalam kelompok tani Ciwidey saat ini berjumlah sekitar 200 orang, dan mereka menggarap lahan seluas 250 hekta milik perhutani.

"Ya, petani menggunakan  lahan milik Perhutani. Jadi ada hutan-hutan Perhutani, sudah ada kerja sama dengan catatan tanaman yang ditanam itu harus kopi," katanya.

Ia menambahkan, "Kita ngga bayar, tapi pakai sistem sharing. Setiap kali panen 25 persen buat perhutani. Tapi itu masih bisa disesuaikan. Sebab kalau saat panennya kurang, ya... ngga sampe 25 persen juga,"

Pada kesempatan itu juga Firman mengatakan, selain tetap menjaga kualitas,  kedepan pihaknya juga bakal menambah lahan baru, hal itu dilakukan sebagai upaya untuk bisa menggenjot peningkatan produksi kopi.

"Kan ironis, kita juara di ajang kompetisi luar negeri tapi begitu diminta kopinya mana, ternyata ngga ada karena kuantitasnya sedikit," tuturnya.

Firman juga bakal mencari cara untuk bisa menarik teman-temannya agar mau bertani kopi, sehingga di masa mendatang kopi Ciwidey dapat tetap dilestarikan dari generasi ke generasi.

"Fokus saya juga soal regenerasi, sebab petani-petani disana (Ciwidey) sudah mulai tidak bisa lagi berproduksi. Anak-anak muda di sana malah keluar, cari kerja diluar, jadi kebunnya ngga ada yang ngurusin," tandasnya kemudian. []


Telah tayang: https://akurat.co/diapresiasi-di-atlanta-tapi-kopi-ciwidey-terancam-punah

Arabika Simalungun, Saudara Kembar Kopi Gayo yang Mendunia



Gaung perhelatan Jakarta Coffee Week ternyata mampu menyeberangi lautan. Pasalnya, kabar ajang tahunan yang digelar di Pantai Indah Kapuk, Jakarta tersebut sampai terdengar hingga ke telinga para petani kopi di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dan membuat mereka akhirnya tergerak untuk mengirim salah satu produk kopi terbaiknya, Sumatera Arabika Simalungun.

"Karakter sudah mendekati coklat, ditanam di atas ketinggian 1200 MDPL dan hampir mendekati kopi Gayo lah, tapi tetap kita beda dengan kopi Gayo," ujar Ainun salah seorang pengurus kelompok tani kopi Arabika Simalungun saat ditemui tim Akurat.co.

Ia menuturkan, kopi jenis arabica dari pulau yang dulu dikenal dengan nama Andalas tempat tinggalnya itu, sudah diakui hingga mancanegara, dan menjadi langganan gerai kopi kelas dunia, salah satunya yakni Starbucks.

"Ngga cuma pasar lokal se-Indonesia, Arabika Simalungun ini juga sudah di kirim ke Malaysia, Amerika sama ke Korea," imbuhnya.

Gadis berusia duapuluhtahunan itu menjelaskan, dalam masa tanam atau saat pembudidayaan, produk kopi Arabika Simalungun dibagi menjadi dua, organik dan non organik, dimana dalam setahun jumlah produksi kedua jenis kopi itu relatif setara.

"Dalam satu hari kita bisa produksi 50 kilo(gram) bisa lebih kalau permintaan lagi tinggi... Umm... Organik 26 sampai 27 ton pertahun. Kalau yang non organik melebihi 30 ton pertahun," jelasnya.

Selanjutnya ia mengungkapkan, adapun jumlah petani yang terlibat dalam proses pascapanen khusus kopi organik sebesar 19 kelompok, dimana dalam satu kelompok terdiri dari 25 hingga 32 orang.

"Tapi kalau satu kelompok tani non organik kurang dari 30 orang," kata Ainun menambahkan.

Disinggung mengenai peran pemerintah, menurut hematnya sejauh ini pemerintah daerah sudah dirasa cukup dalam membantu petani dalam menggenjot produksi kopi. Bantuan tersebut direalisasikan dalam bentuk penyediaan alat-alat produksi pascapanen. Selain itu, baik pemerintah maupun perusahaan-perusahaan swasta yang bertandang ke Simalungun juga kerap melakukan pembinaan sehingga para petani semakin paham mengelola kebun kopinya. []


Telah tayang: https://akurat.co/arabika-simalungun-saudara-kembar-kopi-gayo-yang-mendunia

Diabaikan Pemerintah, Kopi Gunung Sumbing Dirangkul Australia



Kelompok Tani Kopi Hujan Mas, begitu Sigit Prasetya menamai produk kopi Gunung Sumbing, Jawa Tengah yang dikelolanya.

Produk kopi lokal jenis arabika yang dibudidayakan menggunakan konsep kebun mikrolot itu, turut serta meramaikan ajang Jakarta Coffee Week pada akhir pekan lalu.

Metode kebun mikrolot adalah sistem berkebun dengan luasan lahan yang kecil sehingga kuantitas produksi tidak besar. Dimana dalam proses pascapanen, Sigit lebih berfokus untuk menghasilkan buah kopi yang berkualitas agar memenuhi syarat ekspor Internasional.

"Yang kita bawa kesini produk full wash, natural sama semi wash... Full wash ini jagoannya. Yang sering dicari orang," ujarnya saat ditemui tim Akurat.co.

Lebih mengutamakan kualitas dari pada kuantitas produk, membuat kopi Hujan Mas masuk di daftar 20 besar kopi Indonesia yang terstandarisasi oleh Speciality Coffee Association of America (SCAA) di Atlanta pada tahun lalu.

Untuk pemasaran, lelaki asal Karanganyar, Kebumen itu menuturkan, produk kopi Kelompok Tani Hujan Mas sudah tiga tahun terkahir di ekspor ke pasar Australia. Dan baru-baru ini mulai menembus pasar Amerika.

"Kopinya dijual di Jakarta, di Tanah Merah, ke Bali juga ada. Terus Australia, sekarang Amerika juga" katanya.

Disinggung mengenai jumlah produksi dalam setahun, Sigit mengatakan besarannya fluktuatif karena dalam memanen buah kopi sangat dipengaruhi oleh faktor alam yang kerap tidak terprediksi. Namun begitu dalam sekali pengiriman biji kopi green bean berkisar diangka 5 ton.

Terkait jumlah petani yang tergabung dalam Kelompoknya, Sigit mengatakan, saat ini setidaknya terdapat 50an orang yang terlibat dalam Kelompok Tani Hujan Mas.

Selanjutnya, menurut lelaki paruh baya itu, sejauh ini belum ada perhatian khusus dari pemerintah yang diberikan kepada petani kopi di daerahnya. Kendati demikian, pihaknya sering sekali dibantu oleh perusahaan asing asal Australia, terlebih dalam proses mengekspor kopi.


"Ada perusahaan milik Australia ke kebun, mereka sering bantu-bantu kalau ekspor, seperti tahun lalu mereka juga kasih pembinaan disini," tukas Sigit.


Pada kesempatan itu dirinya juga berharap, perkebunan kopi di gunung sumbing bisa terus berkembang, dan generasi muda tidak perlu merasa malu untuk menjadi petani kopi. Sebab hanya dengan adanya regenerasi, produk kopi asli Jawa tengah tersebut bisa terus dilestarikan. []



Telah tayang: https://akurat.co/diabaikan-pemerintah-kopi-gunung-sumbing-dirangkul-australia