Kamis, 10 Juni 2021

Kopi Bali Kintamani Ingin Berdiri di Atas kaki Sendiri



Tak ingin melewatkan undangan dari Sco-pi yang memintanya agar bisa ikut meramaikan pagelaran Jakarta Coffee Week, pengusaha kopi asal Bali, I Wayan Warta pun tanpa berpikir dua kali langsung menyertakan produk kopi andalannya di pameran pasar kopi tahunan tersebut.

Kopi Bali Kintamani atau biasa juga dikenal oleh kalangan pencinta kopi dengan nama "Kopi Balikin", adalah kopi jenis arabica yang ditanam di dataran tinggi kintamani dengan ketinggian di atas 900 meter dari permukaan laut, membuatnya punya citarasa khas yaitu memiliki aroma citrus dengan keasaman rendah seperti lemon tea.

"Kelebihan kopi kami memiliki rasa lemon tea, selain itu ukuran biji kopinya lebih besar, untuk jenis kopi termasuk arabica. Kopi asli Bali Kintamani," ujar Wayan. 

Wayan menyebutkan, adapun kopi-kopi yang dibawa ke pameran itu ada 5 jenis cara prosesnya. Salah satu dari lima proses produksi pascapanen Kopi Balikin yakni, dimulai dari pemetikan ceri kopi yang dilakukan secara manual dan hanya dipilih ceri yang benar-benar sudah berwarna merah. Selanjutnya diolah secara basah, dengan fermentasi selama 12 sampai 36 jam. Biji kopi lalu dikeringkan secara alami dengan cara dijemur. Teknik olah itu mampu menghasilkan kopi kintamani dengan aroma khas dan tak dimiliki oleh kopi lain.

"Lima proses kopi kita bawa kesini, dari semi wash, full wash, natural, honey proces dan Pulped," singkat saja Wayan menyebutkan proses produksi kopi yang lain.

Kendati Kopi Kintamani sudah memiliki penggemarnya sendiri, namun Wayan mengungkapkan produknya itu belum punya brand yang dipatenkan.

"Belum ada merek, sejauh ini bentuk green beannya ini kami setor ke kafe-kafe, seperti Starbuck," imbuhnya.

Ia menuturkan pemberian merek pada produknya belum bisa dilakukan mengingat proses pengurusannya yang dianggap rumit dan butuh waktu lama.

Dalam sekali pengiriman kopi Bali Kintamani ke kafe-kafe, rata-rata wayan bisa mengirimkan sebanyak 100 kilogram sampai 150 kilogram dalam bentuk green bean.

"Biasanya kopi-kopi yang d kirim ke kafe-kafe dalam bentuk green bean, sebab masing-masing kafe kan, punya roaster sendiri," jelasnya.

Dalam menjalani bisnis kopi Bali Kintamaninya itu, Wayan biasa dibantu oleh 5 sampai 6 orang pekerja yang mengurusi proses grinder.

Disinggung mengenai respon pengunjung terhadap kopi Bali Kintamani yang datang ke pameran Jakarta Coffee Week, ia menuturkan masyarakat sangat positif dan antusias, hal itu terbukti dari produk kopinya tersebut yang langsung ludes terjual bahkan sejak di hari pertama. Padahal dijadwalkan pameran itu akan berlangsung selama tiga hari dari tanggal 8 hingga 10 September 2017.

"Kami baru buka stand satu hari sudah langsung habis, kami dapat jatah 30 kilo(gram), tiga hari 90 kilo(gram) berarti, dan itu langsung habis semua," kata Wayan semringah.

Pada kesempatan tersebut, bapak paruh baya itu juga menyampaikan harapannya agar di masa mendatang produk Kopi Balikin memiliki bendera sendiri, dan dapat melakukan ekspor secara mandiri tanpa harus melalui perusahaan milik orang lain.

"Untuk penjualan tidak hanya di pasar lokal, pada 2015 melalui bendera perusahaan lain kita ekspor... Tantangan kenapa ekspor tak dilakukan sendiri, karena kita belum punya bendera sendiri, prosesnya lama, Untuk menuju kesana sudah ada gambaran tapi kami belum bisa memastikan jadwal pastinya itu kapan, ya semoga bisa segera," harap Wayan kemudian. []



Telah tayang: 

https://akurat.co/kopi-bali-kintamani-ingin-berdiri-di-atas-kaki-sendiri


Beragam Kopi Toraja Mendunia, Sapan Talimbangan Hanya Salah Satunya



Seakan tak mau kalah unjuk gigi melalui kopi, Ketua Asosiasi Kopi Toraja Utara, Yedikin Kusuma dari Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan akhirnya turut bertandang meramaikan perhelatan Jakarta Coffee Week yang di gelar pada 8-10 September 2017, di Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

"Dalam rangka mengikuti Pasar Kopi yang diadakan Sco-pi ini kami mempromosikan beberapa kopi Arabika Toraja. Yang kami bawa ini Kopi Sapan Talimbangan, ini kami proses dengan honey proces," kata lelaki paruh baya itu. 

Ia menuturkan, kendati kopi Toraja bisa ditemui diberbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia, namun pada dasarnya setiap kopi asli Toraja tetap memiliki cita rasa sendiri-sendiri.

Menurutnya, hal tersebut tidak terlepas dari karateristik unsur hara tanah di daerah beribukota Rantepao itu yang berbeda-beda meski masih bisa dibilang bertetangga.

"Kopi Toraja itu punya khasnya masing-masing. Tentunya ini terpengaruh karakteristik unsur hara itu sendiri. Nah, di Toraja ini meski sama-sama dari Toraja, tapi antara satu desa dengan desa yang lain berbeda kopinya. Kita ada 23 gunung, ada Sopai, ada dari Rantai Karua, ada dari Maruku, ada Guntau, Manggala, ya... Banyak gunung beda-beda itu semua tanahnya," jelasnya.

Yedikin mengungkapkan, berkali-kali mengikuti ajang kompetisi kopi di tingkat nasional, Kopi Arabica Sapan Talimbangan sempat beberapa kali didapuk sebagai jawara kopi. Diantaranya yakni juara di kompetisi Surabaya dan Jakarta.

"Tak cuma itu, pada 2012 kopi ini juga pernah cetak rekor (lelang) dapat penjualan 45  dolar AS (perkilo)" kata Yedikin penuh bangga.

Terkait pemasaran, kopi Toraja Sapan Talimbangan sudah merambah berbagai pasar kopi lokal yang tersebar di Makasar, Jakarta, Surabaya, Bandung, Jakarta hingga Medan.

Sementara untuk pasar global, kopi yang sudah memiliki brand sendiri ini telah merambah pasar Singapura dan Malaysia. Dimana dalam penjualannya, Arabica Toraja Sapan Talimbangan sudah menggunakan kemasan bermerek, baik dalam bentuk green bean, roasting, maupun bubuk.

Dirinya mengakui, pencapaian yang didapat Arabica Toraja Sapan Talimbangan tentunya tak terlepas dari peran pemerintah yang gencar melakukan pembinaan kepada pihaknya dan juga sering mempromosikan kopi asli asal Toraja tersebut.

Dalam menjalani usaha kopinya, Yedikin dibantu oleh 8 orang karyawan serta dari kelompok tani di daerah Toraja Utara.

"Karyawan khusus sangrai saya, itu ada 8 orang. Sementara dalam kelompok tani ada 1563 orang yang tergabung." Jelasnya kemudian. []


Telah  tayang: https://akurat.co/beragam-kopi-toraja-mendunia-sapan-talimbangan-hanya-salah-satunya


Java Temanggung Coffee: Biarkan Kopi yang Bicara



Biarkan kopi yang bicara. Begitu jargon dari Java Temanggung Coffee dalam memasarkan produk-produk kopi andalannya, tak terkecuali saat mengikuti ajang Jakarta Coffee Week di Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

Berpusat di desa Gesing, Kandangan, Temanggung, Jawa tengah, Java Temanggung Coffee yang tergabung dalam payung Unit Pengolahan Hasil (UPH) Rumah Kopi Gesing Kandangan, berfokus untuk mengangkat martabat para petani kopi di daerah tersebut dengan cara menghasilkan biji-biji kopi yang berkualitas.

Pengusaha sekaligus Ketua Asosiasi Petani Temanggung (APT) Rio Ricardo menuturkan, ketimbang menghasilkan kopi dalam jumlah besar namun minus mutu, pihaknya lebih tertarik untuk berupaya memproduksi kopi dengan kualitas premium meski tak seberapa besar jumlahnya.

"Produk kopi kami ada robusta dan arabica. Keunggulan kopi kami ada di-quality control-nya yang benar-benar terjaga, mulai dari budidaya kita melakukan pemilihan (biji-biji kopi yang sempurna) jadi tidak semua (hasil) petani masuk ke kita," kata Rio memulai percakapan. 

Ia menuturkan, jumlahnya petani yang tergabung dalam Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) yang dikelolanya berjumlah lebih dari 200 jiwa. Dimana pihaknya bertanggung jawab dalam menampung hasil kopi dari petani agar mereka bisa terus konsisten menghasilkan biji-biji kopi dengan mengutamakan kualitas prima dan tidak asal panen.

Tak hanya itu, langkah yang diambil dirinya juga sebagai upaya agar petani-petani di daerah Kandangan tidak merugi, akibat ulah pengepul culas yang hanya mau mencari keuntungan.

"Jadi ini koperasi untuk petani. ceri (kopi) mereka kita masukan ketempat kita, supaya konsisten dalam pengolahan pasca panennya tadi. Nah, kalau hasil panennya di olah sendiri-sendiri sama petaninya, ujung-ujungnya tidak konsisten, yang diuntungkan nanti cuma pengepul-pengepul kopi yang ada di sana, karena (dengan menjual biji kopi kualitas rendah) kesejahteraan petani tidak akan naik disitu," terang Rio kemudian.

Menurutnya, tak menjadi soal bila dalam sekali panen, kopi yang dihasilkan para petani tak terlalu berlimpah, selama mutu dari biji-biji kopi tersebut tetap terjaga, hal itu sudah cukup menggembirakan sebab layak untuk dijual.

"Jadi istilahnya, walaupun kita satu bulan cuma panenan dapat sekilo, asal pasca panennya yang berkualitas tadi kita syukurin, kita tidak memaksakan, karena kita menjaga nama baik petaninya," imbuh Rio dengan mantap.

Sebab berorientasi pada kualitas dan bukan kuantitatas membuat Java Temanggung Coffee saat ini tidak bisa melakukan ekspor ke pasar global. Karena biasanya produk kopi yang dihasilkan pihaknya hanya cukup untuk memenuhi permintaan pasar lokal.

Kendati demikian bukan berarti citra kopi asli Temanggung tersebut menjadi meredup, justru sebaliknya produk kopi premium miliknya diakui hingga ke mancanegara.

"Beberapa kali kopi temanggung mengikuti ajang kompetisi internasional. Kita sempat mengikuti kompetisi di Irlandia dan jadi juara dua. Kita juga sudah masuk ke pameran di Amerika, dibawa langsung sama gubernurnya, ini bulan depan kita bakal pameran di China juga... Selain itu juga pernah ke Itali dan Belanda," terangnya.

Pada kesempatan itu Rio juga mengungkapkan, dengan menggunakan bendera Java Temanggung Coffee, dirinya sudah mengelilingi Eropa untuk memperkenalkan kopi Indonesia, khususnya kopi asli dari Temanggung tersebut.

Disinggung mengenai proyek apa yang akan dilakukan kedepan, pria berusia 40 tahunan yang juga seorang trainer untuk Kelompok Tani di Jawa tengah itu menuturkan, dirinya sedang berupaya untuk bisa mengedukasi masyarakat tentang betapa Republik ini memiliki kopi dengan kualitas tinggi namun kurang disadari oleh "pemiliknya sendiri".

"Jadi kita mau fokus jaga produk di pascapanen yang baik, kita berikan ke masyarakat Indonesia, ya, kita tahu sendiri saat ini masyarakat Indonesia kalau minum kopi yang biasa, kopi asalan gitu, nah, kita mau edukasi ke orang Indonesia, 'ini lho... kopi Indonesia yang baik'," tutur Rio kemudian.[]



Telah tayang: https://akurat.co/java-temanggung-coffee-biarkan-kopi-yang-bicara

Varietas Kopi Nusantara di Tanah Pangalengan



Berbeda dengan produk kopi lain yang mengunggulkan varietas asli dari daerahnya masing-masing, Comanditaire Venotschap (CV) kopi asal Desa Margamulya, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat ini justru melakukan hal sebaliknya.

Java Frinsa State (JFS) nama merek kopi "anomali" tersebut. Alih-alih menonjolkan produk asli dari daerahnya, JFS justru berfokus untuk memproduksi produk kopi dimana varietasnya berasal dari luar wilayahnya namun ditanam di tanah Pangalengan.

"Jadi varietas-varietas kopi yang ada di seluruh Indonesia ditanam di Jawa Barat. Seperti misalnya dari Sumatera; ada Sigararutang, P88, Borbor, Andungsari kan itu dari Aceh, ditanam di daerah Jawa barat, Pangalengan," jelas Desti penjaga stand kopi sekaligus salah seorang pekerja di JFS.

Dia menuturkan, karena varietas kopi itu berasal luar Jawa Barat namun saat ditanam di tanah Pangalengan, membuat biji kopi yang dihasilkan memiliki cita rasa yang unik dan tak biasa.

Boleh dibilang, kata Desti melanjutkan, justru gagasan itu yang manjadi kekuatan produk kopi Java Frinsa State tersebut.

"Jadi ketika varietasnya sama tapi kalau ditanam di tanah yang beda, rasanya akan beda. Nah, disitu itu uniknya kopi ini," imbuhnya.

Terkait pangsa pasar, Desti menjelaskan pemasaran produk kopi JFS sejauh ini masih berada dilingkup lokal. Dimana dalam memasarkan kopi, JFS juga memanfaatkannya internet seperti Website dan jejaring sosial.

Saat ini, Java Frinsa State setidaknya menyerap 20 tenaga kerja baik pekerja harian maupun borongan. Disamping itu keberadaan CV yang baru berdiri pada tahun 2011 tersebut juga telah memberdayakan sekitar 60 orang petani kopi di Pangalengan. []



Telah tayang: https://akurat.co/varietas-kopi-nusantara-di-tanah-pangalengan


Ingin Mandiri, Kopi Papandayan Cipaganti Terganjal Modal



Pegelaran Jakarta Coffee Week yang diinisiasi oleh Sco-pi benar-benar telah menjadi semacam area titik temu bagi mereka para pencinta, petani, pengusaha, asosiasi, koperasi atau sebut apapun itu karena memiliki irisan yang sama terkait kopi.

Sebagai salah satu tetangga terdekat --mengingat pameran tersebut digelar di Jakarta, membuat Desa Cipaganti, Jawa Barat seakan tak rela melewatkan ajang tahunan itu begitu saja, hingga akhirnya mengirimkan salah satu "delegasi" kopinya untuk bertandang ke perhelatan tersebut, yakni Kopi Papandayan.

Pengusaha Kopi Janjan Nugraha menuturkan, Desa Cipaganti yang tak lain adalah kampung halamannya merupakan salah satu dari dua desa yang letaknya paling dekat dengan Gunung Papandayan. Maka tak mengherankan bila biji kopi arabica yang dihasilkan dari daerah tersebut memiliki cita rasa yang khas dan tentunya berbeda dengan kopi-kopi daerah lain.

"Selain itu, kelebihan kita selama ini menggunakan pupuk organik, bisa dibilang jarang pakai pupuk kimia atau pakai pektisida," ujar Janjan.

Lelaki berusia awal 30 tahun itu mengatakan, pada pasca produksi Kopi Papandayan, pihaknya memakai tiga cara proses yakni natural, wash dan honey proces.

"Proses kita pakai natural, wash dan honey, yang honey juga terbagi jadi tiga lagi, ada yang black, red dan yelow... Untuk produk unggulan yang selama ini paling dicari adalah yang honey," imbuhnya.

Adapun soal penjualan di pasar lokal, kata Janjan melanjutkan, Kopi Papandayan sejauh ini sudah merambah pasar Bali, Jogjakarta, Jakarta, serta daerah-daerah lain seluruh Indonesia.

"Kita juga bekerjasama dengan Javanero untuk melakukan ekspor ke Singapura, Itali, sama Slandia baru," tambahnya.

Kendati dalam mengekspor produknya bekerja sama dengan perusahaan Javanero, namun merek lokal Kopi Papandayan tidak hilang karena tetap disematkan.

Disinggung mengenai jumlah produksi yang dihasilkan, ia menuturkan untuk rata-rata pengiriman produk kopi ke Javanero dalam seminggu berada dikisaran 100 kilogram sampai 200 kilogram.

Selanjutnya ia menerangkan, para petani kopi Papandayan terhimpun dalam Kelompok Tani Mukti Cipaganti, dimana pada tahap pertama sebanyak 31 petani, tahap kedua 31 petani, dan tahap ketiga yakni tahun ini bertambah lagi menjadi 8 petani, dengan demikian total petani yang tergabung dalam Kelompok taninya berjumlah 70 petani. Sementara untuk besar lahan yang digarap yakni seluas 30 hektar.

Pada kesempatan itu Janjan juga menyampaikan harapannya, bahwa kedepan ia ingin mencoba mandiri dengan membentuk perseroan sendiri sehingga bisa melakukan ekspor tanpa harus melalui perusahaan lain.

Untuk saat ini hal itu belum bisa diwujudkan karena terkendala masalah modal. Hal yang sebenarnya juga dialami oleh petani-petani lain di Cipaganti.

"Tantangan yang kerap dihadapi petani lokal, terkait permodalan. Sebenarnya bantuan dari Dinas Provinsi dan Kabupaten sudah ada untuk bisa dapat mengakses bantuan finansial dari perbankan. Tapi kerap terbentur persyaratan," imbuhnya.

Janjan melanjutkan, "Rata-rata kan minta persyaratannya anggunan, ya namanya petani agunannya kecil, selain itu juga tidak punya sertifikat. Paling-paling akte tanah. Kadang malah cuma punya kwitansi jual-beli, namanya di kampung, nah itu kendalanya," tutur dia kemudian. []


Telah tayang: https://akurat.co/ingin-mandiri-kopi-papandayan-cipaganti-terganjal-modal

Naturalnya Aroma Pisang di Kopi Argopuro



Kopi adalah tiang besar konstruksi sosial. Begitu bunyi kalimat yang tertoreh di salah satu stand dalam pagelaran Jakarta Coffee Week pada akhir pekan lalu. Sepertinya tak keliru, sebab ajang tahunan tersebut nyatanya mampu mempertemukan banyak golongan dari berbagai daerah yang meski berbeda-beda, namun memiliki satu cinta dan cita yang sama yakni berupaya mengangkat salah satu komoditi prospektif di republik ini, kopi.

Pagelaran yang tak hanya diperuntukan sebagai ajang berkompetisi unjuk kebolehan, Pameran Pasar Kopi juga sebagai media untuk bisa saling mengenal lebih dekat kopi-kopi dari segala penjuru Nusantara.

Diantara para pegiat kopi yang terlibat dalam ajang tersebut, turut hadir Ahmad Muhisin, pengusaha kopi yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Wali Murid Sabda Ria Nada (Pokmas Walidah) asal Desa Tlogosari, Sumbermalang, Situbondo, Jawa Timur, yang sengaja datang untuk dapat memperkenalkan produk kopi daerahnya. Argopuro Coffee.

Ahmad menuturkan, kelebihan produknya terletak pada rasa kopi yang memiliki aroma pisang, terutama dari proses natural.

"Yang proses natural kita punya karakter pisang, rasa pisang, aroma pisang, dari beberapa roaster yang pernah pakai, mereka bilang yang keluar itu aroma pisang," ujarnya.

Ia mengatakan, di Argopuro kopi sudah ditanam sejak tahun 2012, namun proses pascapanen baru dimulai sekitar dua tahun lalu. Dalam proses tanam, petani kopi Argopuro masih mengunakan pupuk organik.

"Dengan menggunakan pupuk organik masih tercukupi pemenuhan nutrisi untuk tanamannya, bahkan tanpa dipupuk sudah bisa tumbuh sebenarnya," imbuhnya.

Terkait pemasaran, Ahmad mengatakan kopi Argopuro sudah tersebar di seluruh kota-kota besar yang ada di Indonesia. Sementara untuk pasar luar negeri, kopi Argopuro belum bisa melakukan ekspor.

Dia menerangkan, hal tersebut belum bisa dilakukan sebab saat ini pihaknya masih ingin memfokuskan diri untuk bisa memenuhi pangsa pasar di dalam negeri terlebih dulu.

"Kita sih, mending di dalam negeri dulu, sebab pasar dalam negeri masih punya potensi, yang penting orang Indonesia dulu mesti tahu bahwa kopinya itu enak," katanya seraya tersenyum.

Terkait jumlah produksi, dalam setahun Argopuro Coffee rata-rata bisa menghasilkan biji kopi berkisar di angka 10 ton. Sementara omzet perbulan bisa mencapai Rp10 juta.

Dalam proses pascapanen, Ahmad lebih banyak memberdayakan para ibu-ibu di daerahnya. Hal itu dilakukan agar mereka lebih produktif sehingga bisa membantu keluarga dalam mendorong tingkat kesejahteraan rumah tangga.

"Pekerja di proses sertasi ada 20 orang, di penggilingan ada 10 orang, kemudian melibatkan 20 orang petani," tuturnya.

Disinggung soal kendala, Ahmad mengungkapkan tantangan terbesar yang sering ditemui pihaknya yakni terkait menjaga konsistensi kualitas produksi, sebab rata-rata petani di daerahnya masih belum benar-benar teredukasi dengan baik, terutama pada proses petik yang sebenarnya amat menentukan mutu biji kopi.

"Menjaga kualitas kopi itu tantangannya, sebab kalau kita sudah dikenal sama orang enak, harus terus dijaga kualitasnya. Selain itu kami terus berupaya meningkatkan jumlah produksi, mengingat skala usaha kami saat ini masih kecil," terang Ahmad.

Untuk meningkatkan jumlah produksi, kedepan ia bakal memperluas lokasi tanaman kopi sehingga kapasitasnya bisa naik.

Pada kesempatan itu ia juga menyampaikan harapannya pada pemerintah, agar mau melihat dan lebih tergerak untuk mendorong peningkatan industri kopi.

"Harapan saya Pemerintah bisa lebih melihat potensi kopi kita, bukan hanya di Argopuro tapi juga di daerah-daerah lain seluruhnya, kopi kita punya potensi yang bagus dan punya karakter yang khas ditiap-tiap daerah. Kalau Pemerintah mau serius ikut terlibat, sebenarnya akan lebih cepat pertumbuhan industri kopi itu sendiri," tuturnya.

Ahmad melanjutkan, "Dan untuk pemain baru tidak usah terburu-buru untuk mengekspor kopinya. Karena harga dalam negeri pun jauh lebih bagus sebenarnya meskipun belinya dalam kuantitas kecil, tapi harga yang ditawarkan cafeshop itu lebih bagus." []



Telah tayang: https://akurat.co/naturalnya-aroma-pisang-di-kopi-argopuro

Kopi Lampung dan Fine Robustanya



Sebagai salah satu daerah penghasil kopi yang namanya sudah cukup malang melintang di jagat perkopian Indonesia, Lampung tentu tak mau ketinggalan untuk turut serta dalam pagelaran Jakarta Coffee Week yang digelar Sco-pi akhir pekan lalu.

Pada ajang tahunan itu, pengusaha kopi asal Kedaton, Bandar Lampung Alghazali Qurtubi mengatakan, pihaknya sengaja membawa merek dagang Dr. Coffee selain untuk berniaga namun juga sebagai upaya mengenalkan kopi Lampung lebih dekat kepada masyarakat.

"Jenis kopi kami robusta, tapi yang bikin berbeda dengan robusta-robusta yang lainnya karena ini adalah fine Robusta," ujarnya.

Lelaki yang akrab disapa Ali itu menuturkan, perbedaan paling mendasar antara kopi robusta biasa dan fine robusta adalah dalam soal pengolahan. Dimana pada proses pascapanen dilakukan penyeseleksian biji-biji kopi secara ketat, yakni dengan memastikan bahwa cerry-cerry atau buah kopi yang akan dipetik hanyalah cerry yang sudah benar-benar matang dan berwarna merah tua.

"Robusta itu yang diolah dengan benar-benar baik. Diolah dengan beberapa proses pascapanen, natural, honey proces, dan full wash," imbuhnya.

Menurutnya, kendala terbesar yang kerap ditemui selama dirinya menjadi penggiat kopi adalah minimnya kesadaran petani dalam menghasilkan biji-biji kopi yang berkualitas, hal itu dikarenakan para petani tak mau sabar menunggu hingga buah kopi benar-benar matang.

"Petani kita belum banyak yang mau memproses (kopi) pascapanen yang bagus, mereka lebih keasal-asalan karena lebih cepat dapat duitnya. Lebih cepat kering. Memang (fine Robusta) ini harganya lebih tinggi, dua kali lipat dari harga biasanya. Tapi yang jadi masalah petani menjadi tidak dapat uang lebih cepat," terangnya.

Kendati demikian, kata Ali melanjutkan, petani tidak sepenuhnya bisa disalahkan, sebab harus diakui bila nantinya proses pascapanen yang baik benar-benar dilakukan hingga mampu menghasilkan biji kopi fine robusta, belum tentu para petani nantinya akan menemukan pembeli kopi tersebut karena buyernya juga belum jelas.

Selanjutnya, terkait rata-rata penjualan, Ali menuturkan dalam sebulan bisa mengantongi omzet sekitar Rp50 jutaan. dan penjualan kopi pertahun sekitar 1 ton yang diniagakan.

"Kalau untuk pasar, kita lebih ke lokal di Indonesia, sudah ada yang menawari untuk bisa ekspor keluar, tapi terkendala masalah jumlah produksi yang belum bisa dipenuhi. Sebab ini kan fine Robusta, terbatas jumlahnya, kalau robusta asalan kan banyak," tandas Ali kemudian.[]


Telah tayang: https://akurat.co/kopi-lampung-dan-fine-robustanya