Selasa, 22 Februari 2022

22-02-2022

Sebenarnya tanggal (ambigram) yang cantik buat nikah. Tapi apa mau dikata, sejumlah ingin memang acap meleset dari rencana. 

Minggu, 03 Oktober 2021

Produk Kaca Mata Lucu Berbahan Limbah Bambu

 


Konyol. Mungkin kata itu yang bisa merepresentasikan produk kaca mata berbahan baku limbah bambu yang satu ini.

Pasalnya, bukan saja terbuat dari bahan yang tak biasa, beberapa desain kaca mata buah karya Bagus Prabowo tersebut juga bisa membuat rupa orang yang memakainya bakal tampak jenaka.

Bukan tanpa sengaja, sebab Bege, begitu pemuda itu karib disapa, menuturkan, bahwa kerajinan kaca mata buatannya memang dirancang untuk menyasar kalangan muda yang gemar bercanda.

"Kita bikin produk memang yang ada rasa sisi anak muda, yang lucu, seneng guyon. Kita pingin bikin produk, yang pas orang lihat itu juga bisa seneng, kalau pakai bisa menimbulkan kelucuan," imbuhnya.

Turut meramaikan ajang pameran Trade Expo Indonesia 2017 di ICE BSD Tangerang, Pria berusia di awal 30 itu menjelaskan, kacamata limbah bambu merupakan produk dari Studio Dokdok yang tak lain adalah unit dari bagian komunitas seni FrogHouse, yang bermarkas di Yogyakarta.

Studio Dokdok memfokuskan diri mengelola ide-ide dari pengembangan limbah bambu untuk dijadikan produk berdaya guna, sehingga bisa meningkatkan nilai barang yang sebelumnya dianggap sampah.

Dikatakannya, sejauh ini Studio Dokdok memang baru menelurkan produk kaca mata. Namun demikian, sebenarnya ia tengah melakukan riset dan bakal mengembangkan beberapa produk teranyar, seperti jam bambu, kap lampu yang dikawinkan dengan keramik, serta satu produk unggulan yang diberi nama PitPack, yakni, sebuah produk sepeda berbahan bambu yang bisa dilipat dan dipacking sehingga mudah dibawa berpergian.


Dalam mengembangkan produk Studio Dokdok, Bege membentuk satu tim kerja yang terdiri dari 6 orang, yakni; 1 desainer, 3 di bagian produksi, 1 marketing sekaligus branding, dan 1 orang supervisor.

Kendati bisa dibilang usaha kaca mata Studio Dokdok masih seumur jagung, namun jangan salah, produk daur ulang limbah bambu itu sudah menemukan pangsa pasarnya di beberapa negara tetangga.

"Sejauh ini kaca mata kita sudah ada pesanan custom, kirim ke Meksiko, Australia, Malaysia, Polandia, Hungaria," tutur alumni Jurusan Kriya ISI Yogyakarta itu.

Disinggung soal omzet, Bege menuturkan belum bisa menyebutkan angka pastinya, mengingat dirinya baru benar-benar menggelar lapak di tahun ini. Namun, kata Bege melanjutkan, untuk kisaran satu buah produk kaca matanya dibanderol dari harga Rp300.000 sampai Rp400.000.

Tidak sembarang ia mematok harga tersebut, sebab Bege mengungkapkan, sebelum angka itu ditetapkan, pihaknya sudah cukup melakukan riset dan tes pasar di Bali beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan itu Bege juga menyampaikan, dirinya berharap kedepannya bakal ada lebih banyak lagi produk anak bangsa yang mengedepankan sisi menghibur. Namun begitu tanpa melupakan nilai-nilai kualitas yang menjadi prioritas. Bukan semata besar, tapi juga bernilai.

"Ya harapanku akan banyak anak muda yang mengedepankan kerajinan kaya gini. Jadi kita nantinya punya banyak temen yang bikin craft yang lucu," imbuhnya.

Dia menambahkan, "Anak-anak muda lebih banyak lagi yang tumbuh, sehingga kita bisa menjadi market yang bagus. Bukan market yang besar, tapi tumbuh dengan penuh value," katanya menutup.[]

https://akurat.co/produk-kaca-mata-lucu-berbahan-limbah-bambu

Produk Ragam Sampah, Diekspor dengan Banderol Jutaan Rupiah



Seni adalah kunci. Sekali pun material dasar dalam membuat suatu kerajinan adalah sampah, tapi selama ada sentuhan seni di sana, maka jangan heran bila nantinya produk tersebut layak dibanderol hingga jutaan rupiah.

Kurang lebih begitu yang dikatakan Andre Suryaman kala membuka percakapan dengan Akurat.co, saat ditemui dalam ajang pameran Trade Expo Indonesia (TEI) 2017 di ICE BSD Tangerang akhir pekan lalu.

Pria lulusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung itu tak memungkiri, awal mula niatnya memproduksi kerajinan berbahan limbah dan sampah karena berangkat dari prinsip ekonomi; bagaimana dengan modal sekecil-kecilnya bisa meraup untung berlipat-lipat ganda.

"Kenapa pilihan kita berangkat dari bahan limbah, recycle, karena kita melihat dari nilai keuntungan. Bagaimana kita membuat sesuatu dari modal yang paling murah, kita olah sedemikian rupa dengan cita rasa seni, dan kita berupaya menjual secara maksimal," katanya.

Tapi tunggu dulu, pria yang biasa disapa Andre itu belum selesai, ia masih menyimpan alasan kedua yang dipersiapkannya sebagai tepukan kecil, dan diharapkan bisa sedikit menggugah kesadaran tiap orang yang berhuni di republik ini.

"Alasan kedua, dari sisi lainnya, kita punya kesadaran bahwa limbah... Pemanfaatan limbah itu masih sangat rendah. Konteks kedua inilah bagaimana kita menyadarkan masyarakat bahwa limbah itu masih bisa kita eksplorasi, kita bisa manfaatkan, kita olah sedemikian rupa, karena selama ini limbah itu hanya jadi sampah aja, " lanjutnya kemudian.

Turut menyemarakan ajang tahunan TEI yang disponsori oleh Kementerian Perdagangan, Andre memamerkan beberapa produk buah tangannya. Antara lain, kursi-kursi dari rongsokan sepeda tua dan beberapa produk meja kaca yang dipadupadankan dengan sampah-sampah kaleng minuman, lantas dilapis lem fiber glass.

"Saya punya konsep, bagaimana sampah ini bisa kelihatan mewah, makanya kita dukung dengan desain, terus ada finishing. Di sentuhan akhir gimana caranya kita bikin sampah itu jadi mewah, ekslusif," imbuhnya.

Tergabung dalam kibaran bendera Natural House, pria 47 tahun itu mengungkapkan, usahanya tersebut sudah berdiri sejak tahun 1997. Selain memiliki 30 pekerja, Natural House juga didukung oleh puluhan suplier, terutama suplier bahan baku, sebab usahanya itu memerlukan pasokan sampah dan limbah yang tak sedikit.

Disinggung mengenai pemilihan nama bendera, ia menuturkan bahwa sejak mula Natural House memang berangkat dari kecintaan pada produk-produk yang merepresentasikan unsur alam. Namun belakangan, bahan-bahan material produk memang sedikit beralih dengan memanfaatkan sampah dan limbah.

Jangan terburu-buru memandang sebelah mata, meski berbahan baku sampah dan limbah, produk Natural House sudah merambah pasar beberapa negara di tiga benua.

"Penjualan kita terbesar ke Amerika dan Eropa. New York, Las Vegas, Belanda, Itali Jerman, Turki," rincinya.

Dikatakannya, saat ini pasar luar memiliki porsi lebih besar dibanding pasar dalam negeri karena memang produk kriya Indonesia lebih mendapat apresiasi di sana.

"Ya memang kita sudah cukup rutin ekspor, 80 persen memang ekspor, 20 persen untuk pelayanan domestik di lokal, biasanya bentuknya proyek," lanjut Andre.

Untuk kisaran harga, rata-rata produk Natural House sudah bermain di angka Rp1 juta hingga Rp5 jutaan. Adapun jumlah ekspor perbulan bisa mencapai 2 sampai 3 kontainer dengan nilai berkisar Rp200 juta - Rp400 juta.

Dirinya melanjutkan, untuk pasar domestik, selain memanfaatkan pejualan daring melalui media sosial seperti facebook, instagram dan website, Natural House juga memiliki toko ritel di daerah Kasongan, Bantul.

"Pasar domestik yang 20 persen tadi itu proyek ya. Seperti restoran, kafe, hotel. Jadi 20 persen itu ritel dan pesanan-pesanan proyek," jelasnya.

Kendati sudah mampu mandiri melempar produknya ke pasar luar, bukan berarti usaha Andre dkk bisa terus melaju dengan bebas hambatan. Menurutnya, sejauh ini masih ada beberapa hal yang sebenarnya masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, yakni soal berbelit-belitnya  regulasi dalam pengurusan ekspor.

"Regulasi ekspor masih cukup rumit. Kadang-kadang menyulitkan eksportir. Sering terjadi perubahan (kebijakan), itu membuat beban-beban kita semakin besar," tandasnya.

Ia mencontohkan, seperti kebijakan sertifikasi kayu, bahwa kayu sonokeling, misalnya, harus mengantongi izin khusus jika mau diekspor. Hal itu justru membuat beban biaya semakin tinggi. Menurutnya, kebijakan itu berdampak pada nilai produk Indonesia menjadi tidak punya harga yang berdaya saing dengan negara lain.

"Mungkin memang tujuannya pemerintah kita agar semua rapi, tapi kan malah menjadi beban biaya nambah, harus ngurus surat ini itu, mahal. Ya, karena kita eksportir mau tidak mau harus ngikutin. Intinya buat kita, aturan-aturan yang tidak perlu ya ngga usah," tegas dia.

Kedua, kata Andre melanjutkan, adalah terkait perlindungan hukum. Misalnya, ada beberapa kasus penipuan yang dilakukan buyer nakal, namun tindak perlindungan hukum dari pemerintah masih dirasa kurang cukup berperan.

Selanjutnya, saat dimintai pendapat terkait kiat-kiat sukses bagaimana agar UKM bisa mengekspor produk ke pasar global, dirinya berpendapat bahwa hal yang harus dilakukan oleh UKM baru adalah mencintai proses dan bagaimana bisa terus meningkatkan jam terbang.

"Buat UKM yang penting itu meningkatkan jam terbang. Setiap UKM kan ada levelnya ya mas, banyak UKM kita yang belum benar-benar paham masalah kualitas, jadi gimana ya... Ya pokoknya pelan-pelan mas," tutur dia.

Andre menambahkan, dapat dikatakan nyaris tak mungkin atau sulit bagi UKM baru untuk bisa langsung ekspor produk. Sekali pun ada, sifatnya kasuistik sehingga tidak bisa dipastikan selalu terjadi.

"Ya memang semua UKM pingin ekspor. Tapi kan kita harus tahu standar kualitas internasional itu seperti apa... Harus dimulai dari tingkat daerah, tingkat provinsi, tingkat nasional, tingkat Asean, baru masuk ke pasar internasional. Karena memang ada grade-grade nya, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk bisa ekspor," tambahnya.

Pada kesempatan itu ia menutup dengan harapan, bahwa ke depan produk Indonesia bisa memiliki daya saing yang lebih baik dikancah internasional. Tak hanya pada perkara harga tetapi juga berdaya saing dalam kualitas barang.

"Bisa diupayakan dengan kolaborasi antara industri dan desainer. Bagaimana industri kita tidak hanya memiliki kemampuan memproduksi, tapi juga bisa menghasilkan desain yang variatif dan inovatif," ujarnya menutup. []

https://akurat.co/produk-ragam-sampah-diekspor-dengan-banderol-jutaan-rupiah

Produk Limbah Kayu Pantai, Rambah Pasar di Lima Benua


Banyak orang yang melihat apel jatuh dari pohonnya, tapi hanya Newton yang bertanya "Kenapa?".

Musabab kepekaan dan mau bertanya-tanya, mengantarkan ilmuwan Inggris itu akhirnya menemukan teori gravitasi dan didapuk sebagai salah satu orang paling berpengaruh di dunia.

Tak sama tapi bolehlah dikata nyaris serupa, banyak orang yang melihat dahan jatuh ke sungai terbawa arus hingga terdampar di pantai, tapi hanya sedikit orang yang bertanya, "Ini bisa jadi apa?".

Dan Kadek Iwang Mandela menjadi salah satu orang dari yang sedikit itu.

Berangkat dari pertanyaan yang sekilas tampak tak penting, justru meletupkan ide di kepala pemuda asal Bali itu untuk membuat produk kerajinan berbahan limbah pohon tepi pantai.

"Ini produk driftwood... bahannya itu terbuat dari kayu yang didapat dari ranting dan batang pohon yang jatuh ke sungai. Dan akhirnya terbawa arus sampai ke pantai, jadi sampah di pantai. Nah, itulah kayu-kayu yang kita jadikan bahan. Jadi ya ini kayu limbah ya," ujarnya kepada Akurat.co.

Turut mengisi salah satu stand dalam ajang Trade Expo Indonesia 2017 di ICE BSD Tangerang, ia memamerkan beberapa produk kerajinannya antara lain, meja, kursi malas, lampu-lampu dan pigura cermin.

Kadek menuturkan, dewasa ini kerajinan berbahan limbah bisa dibilang besar potensinya di pasar luar. Mengingat, orang-orang asing sudah mulai beralih memakai produk daur ulang.

Bukan isapan jempol, sebab produk yang dijajakan Kadek dengan mengibarkan bendera Kiosqi Galeri nyatanya memang benar-benar laku di lima benua.

"Produk kita 99 persen di ekspor. Kita ekspor kebanyakan di Eropa, Amerika, Australia juga, Asia juga ada ke Vietnam, ummm... Afrika juga ada. Kalau negara ya... Jerman, Itali, Sidney, USA, Spain," katanya.



Sementara untuk pasar lokal, pihaknya memanfaatkan penjualan sistem dalam jaringan. Selain itu Kiosqi Galeri juga memiliki showroom di Kute, dan produksinya di daerah Singaraja.

Pemuda 23 tahun itu melanjutkan, dalam kibaran bendera Kiosqi Galeri, jumlah perajin yang terlibat dalam proses produksi sekitar 40 orang.

"Itu belum termasuk stakeholder. Stakeholder untuk mencari bahan baku kita banyak, dari berbagai daerah, ada dari Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumba, Sumbawa. Itu sekitar 300 orang lebih. Ya, banyak karena memang bahan baku kita ngga bisa beli di toko. Kan, kita harus ambil langsung dari pantai-pantai," jelas dia

Terkait harga, produk yang ditawarkan pihaknya cukup beragam. Namun bila disederhanakan, untuk barang termurah dibanderol dengan harga Rp15.000, sementara yang termahal bisa mencapai Rp 5 juta.

"Harga beragam ya mas, dari yang kecil, itu kaya tempat lilin, sekitar 1 euro, 15 ribu lah... Yang paling mahal meja dan bangku itu sekitar 5 juta" ujarnya.

Adapun soal omzet, Kadek tak bisa menyebutkan angka pastinya, sebab kondisi penjualan yang sering fluktuatif. Namun begitu bila berhitung kasar, ia menyebutkan setidaknya bisa mendapatkan pendapatan sekitar 100 jutaan.

Disinggung soal peran pemerintah dalam mendorong pelaku usaha untuk bisa melakukan ekspor, menurut Kadek sudah cukup bagus. Khususnya Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) yang kerap memfasilitasi para pelaku UKM untuk bisa melakukan pameran di berbagai negara.

"Bulan depan ini kita ada pameran di India. Stand-nya dibiayain sama pemerintah. Ke Jepang juga pernah dari Kementerian Perindustrian. Lalu Ke Dubai juga sudah. Pemerintah biasanya biayain untuk stand. Kalau biaya pengiriman barang sama akomodasi kita sendiri," terang Kadek.

Kendati dirasa sudah cukup baik, namun ada beberapa pekerjaan rumah yang bisa dijadikan catatan bagi pemerintah, yakni terkait birokrasi dalam mengurus HaKI yang menurutnya masih terbilang susah.

"Birokrasi susah dalam pengurusan HaKI. Itu menjadi kendala, sebab di Amerika kan diminta itu," sambungnya.

Selain itu dirinya juga berharap pemerintah bisa semakin mempermudah para pengusaha dalam pengurusan izin ekspor. Menurutnya, untuk aturan-aturan yang sifatnya tidak terlalu signifikan tak perlu diberlakukan apalagi sampai sering mengganti-ganti kebijakan.

"Pemerintah lebih mempermudah soal pengurusan ekspor, kita kan penyumbang... mendatangkan devisa ya. Apalagi ini produk limbah, bukan kita menebang pohon, kita malah bantu membersihkan pantai," pungkas Kadek menutup.[]

https://akurat.co/produk-limbah-kayu-pantai-rambah-pasar-di-lima-benua

Produk Pribumi Berbahan Karung Goni


Turut menyemarakan ajang tahunan Trade Expo Indonesia di ICE BSD Tangerang selama 11 hingga 15 Oktober 2017, produk berlabel Pribumi barangkali bakal mencuri perhatian para pengunjung yang bertandang.

Pasalnya, berbeda dari kebanyakan produk tas dan sepatu yang biasanya dibuat dengan bahan denim, polyester, atau kulit, beberapa produk yang ditawarkan Pribumi justru dibuat dari bahan baku yang cukup anti mainstream, Karung goni.

Desainer sekaligus pemilik usaha Pribumi, Brizaldi Arifin menuturkan, pihaknya memang baru-baru ini mencoba bereksplorasi sedikit nakal dengan menggunakan bahan yang biasanya dipakai untuk menyimpan padi dan gandum tersebut. Tapi tak dinyana, ternyata produk yang baru diluncurkannya itu mendapat respon yang cukup positif dari pasar.

"Kami menggunakan burlap dari India, itu dari karung goni. Waktu kita launching ternyata banyak peminatnya," ujarnya kepada Akurat.co akhir pekan lalu.

Adli, begitu ia biasa disapa, mengatakan, bahwa dirinya bersama sang istri sebenarnya sudah cukup lama berkecimpung di dunia usaha tas dan sepatu handmade, namun sebelumnya produk-produk mereka bertema khazanah nusantara dan hanya menyasar masyarakat kelas menengah atas.

Bermaksud untuk bisa mengembangkan sayap, ia akhirnya membuat produk berbahan karung goni dan dimasukan kedalam produk bertema Pribumi Lite, yakni produk yang khusus menyasar masyarakat umum sehingga bisa menyentuh pasar yang lebih luas.


Untuk kisaran harga rata-rata, produk bertema Pribumi Lite tersebut dipatok dengan harga berkisar Rp900.000 hingga Rp1.450.000.

"Harganya lebih terjangkau lah yah, Nado Large itu Rp1.450.000, Nado Medium Rp1.200.000, nah, sebelahnya ada sepatu, Kita bilangnya sepatu Asmat, itu harganya Rp900.000. Itu penjualan 3 produk itu lagi booming banget," katanya merinci.

Sebagai bentuk pelayanan lebih, Adli menuturkan, untuk setiap pembelian produk-produk Pribumi, pihaknya berani memberi garansi selama 2 tahun kepada pelanggan.

Dikatakannya, dalam mengibarkan bendera Pribumi hingga bisa berumur panjang, ia mempekerjakan sekitar 20 orang karyawan dan perajin. Dimana dalam sehari masing-masing pekerja bisa memproduksi 2 sampai 3 produk tas.

Namun demikian, katanya melanjutkan, untuk produk sepatu butuh waktu yang relatif lebih lama. Hal itu lantaran ada beberapa proses khusus yang mesti dilakukan saat memproduksi produk alas kaki tersebut.

Terkait pemasaran, pria berusia di awal 50 tahun itu mengatakan, produknya tidak hanya menyebar di tanah air, namun juga sempat dipasarkan ke luar negeri melalui Kedutaan Besar Indonesia dibeberapa negara.

"Produk kita selama ini biasanya dipesan orang Indonesia yang ada di luar negeri. Atau Ibu Dubes kita, yang sudah pernah itu misalnya Dubes Jepang, Jerman, sejauh ini," imbuhnya.

Ia menambahkan, tak hanya melalui penjualan daring seperti website dan e-commerce, Pribumi juga memiliki galeri dan workshop di bilangan Pondok Cabe, Tangerang.

Pada kesempatan itu juga ia berharap, di masa mendatang masyarakat Indonesia bisa lebih menghargai dan mencintai produk dari negerinya sendiri. Sebab, beberapa kali ia temui, terdapat turis mancanegara yang justru mencari produk asli Indonesia.

"Saat ini masyarakat memang sudah mulai mencari produk Indonesia, semoga semakin bertambah. Karena produk kita ngga kalah dengan luar negeri," kata dia.

Adli menambahkan, "Kalau orang Indonesia mencintai produknya sendiri tentu orang luar jadi gak ragu dan akan ikutan mencintai juga," tandasnya kemudian.[]


https://akurat.co/produk-pribumi-berbahan-karung-goni

Produk Akar Kaca Asal Bali Cerlang di Pasar Eropa

 


Tak ada rotan akar pun jadi. Begitu kata pepatah yang ternyata tak hanya ditafsirkan secara makna, namun juga diterapkan mentah-mentah secara harfiah oleh beberapa perajin Bali.

Ya, jika suku Dayak Kalimantan punya produk anyaman berbahan rotan, maka para perajin Bali ini punya akar yang bisa dijadikan produk kerajinan.

Bagaimana tidak, dalam memproduksi salah satu kerajinannya, glass roots atau biasa juga dikenal pot akar glasses, mereka benar-benar menjadikan akar kayu gamal sebagai bahan baku produk yang dikawinkan dengan kerajinan pot berbahan kaca.

"Ini dari akar di combine sama pot kaca... Jadi kaca yang masih lunak itu di oven dulu, setelah di oven kita ambil bahan akar itu kira-kira sesuai dengan yang kita ingin seberapa besarnya, disesuaikan, kita produksi pakai selang panjang, semacam pipa, untuk peniupan membentuk potnya," demikian kata Sukala saat ditemui Akurat.co.

Turut meramaikan ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2017 di ICE BSD Tangerang, lelaki berusia 37 tahun itu menjelaskan, pembuatan pot berbahan kaca yang nantinya diletakkan di atas akar tidak dicetak namun dibentuk, dan permukaan pot bakal mengikuti tekstur si akar sehingga bisa saling mengunci seperti lego atau puzzle.

"Jadi bentuk kaca mentahnya itu kaya tanah liat, kurang lebih kaya gitu, tapi ini kan bisa ditiup, kaya karet. Tapi itu juga ada ukuran, kalau udara yang masuk berlebih bisa pecah," terang Sakala.


Ia mengatakan, pada proses pembentukan satu produk pot akar glasses, para perajin biasanya hanya membutuhkan waktu 10 hingga 15 menit. Proses produksi bisa memakan waktu lama saat menunggu pot kaca itu benar-benar mengering.

Sakala melanjutkan, produk berlabel Alami Bali sudah resmi berstempel CV sejak tahun 2008 silam, dan para perajin yang terlibat dalam proses produksi bisa mencapai 50 orang jika pesanan sedang membeludak.

Untuk pangsa pasar, Alami Bali tak hanya jago kandang sebab sudah bisa menegakkan kepala di pasar Eropa.

"Ekspor ke Eropa. Jerman itu salah satu pasar utama kita," kata dia.

Kendati tak bisa menyebutkan berapa omzet yang diterima pihaknya selama menjalani usaha tersebut, namun Sakala menyebutkan, untuk kisaran harga produk pot akar glasses rata-rata dibanderol di angka Rp200.000 hingga Rp500.000 per unitnya.

"Harga rata-rata 250-500 ribu, tapi ada yang sampai di atas 1 juta, tergantung model desainnya, itu ada yang single ada double pot. Macem-macem ya," ujarnya.

Sebagai salah satu perusahaan yang sudah bisa mencetak nama di Kementerian Perdagangan sebagai Eksportir, Sakala bersedia sedikit berbagi pengalamannya.

Menurutnya, untuk suatu produk UKM bisa menembus pasar global, salah satu hal yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya agar produk tersebut memiliki standar kualitas sesuai dengan yang sudah ditetapkan oleh negara tujuan ekspor.

"Ketahui dulu syarat ekspor, dalam arti tahu persis standar permintaan buyer itu yang seperti apa, kualitasnya, nah, kemampuan produksi juga harus bisa memenuhi permintaan mereka," jelasnya.

Ia menambahkan, ikut terdaftar sebagai anggota dalam satu atau beberapa asosiasi juga penting untuk diperhatikan. Sebab dari sana jalan untuk bisa mengekspor tentunya bakal terbuka semakin lebar.

"Bagus kalau ikut asosiasi. Kita penuhi apa yang disarankan oleh asosiasi. Kita penuhi kriteria mereka. Mengikuti saran-saran mereka karena kan baik juga buat kita," tutup Sakala kemudian.[]


https://akurat.co/produk-akar-kaca-asal-bali-cerlang-di-pasar-eropa

Produk Cermin Mozaik Bandung Rambah Pasar Global

 


Bolehlah Walt Disney punya narasi tentang cermin ajaib dalam dongeng pengantar tidur Putri Salju dan Tujuh Kurcaci.

Tapi tentu tak ada larangan jika Heru Rojikin punya ceritanya sendiri. Memanfaatkan keping-keping cermin yang terbengkalai, bapak berusia 60 tahun itu menyulap limbah kaca menjadi ragam produk mozaik, yang meski tak ajaib namun bercita rasa seni tinggi.

"Mozaik cermin ini berbahan pecahan cermin ya, saya bikin-bikin lampu, tempat-tempat tisu, pigura, biasanya juga terima pesanan pelengkap interior hotel, apartemen, kafe-kafe," ujarnya pada Akurat.co saat mengikuti ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2017 yang di gelas di ICE BSD Tangerang.

Heru menceritakan, awalnya ia bekerja sebagai seorang mekanik di salah satu perusahaan swasta. Namun bertahun-tahun menjadi karyawan tampaknya tak membuat kecintaannya pada seni menjadi lindap dan berkabut.

Pasalnya, meski sibuk, pria asal Kota Kembang itu masih kerap menyempatkan diri untuk mendalami minat seninya membuat cermin mozaik yang dipelajari secara otodidak.

Tak ada yang terjadi terlalu cepat atau terlalu lambat, garis nasib kadang memang hanya memeram diri untuk ditunjukan di waktu yang tepat. Kini, memasuki usia senja, Heru senang bisa berjibaku pada pekerjaan baru yang sudah diidam-idamkannya sejak dulu.

"Saya senang ngerjain ini, karena saya suka seni," imbuhnya.

Mengibarkan bendera Denisa Mozaik, heru menuturkan, semua desain produk yang dilahirkan dari tangan keriputnya merupakan buah karyanya sendiri.

"Mozaik cermin sudah punya HaKI. Ini dibantu sama pemerintah, difasilitasi semua urusannya. Gratis. Sekitar setahun proses menunggunya," kata dia.

Ibarat berjudi, kartu truf yang dikeluarkan Heru di detik-detik terakhir permainan justru membuatnya seakan menang dengan gilang gemilang. Bukan saja menyebar di hotel-hotel ternama dalam negeri, kini produk Denisa Mozaik laris manis di pasar global.

"Selama ini banyak yang minta, itu mereka olshop. Dikirim keluar negeri Filipina, Amerika, Sidney, Dubai. Pangsa dalam lebih (proyek) ke hotel," rincinya.

Tak hanya itu, beberapakali karya cermin mozaiknya juga didapuk sebagai jawara pada kejuaraan kriya se-Indonesia. Salah satunya yakni Juara 1 Produk Terkreatif yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat pada Desember lalu.

Dalam mengerek naik bendera Denisa Mozaik, Heru biasa dibantu oleh seluruh anggota keluarga. Istri dan anak-anaknya serta beberapa tetangga di sekitar lingkungan rumah.

Terkait jumlah produksi, dalam sehari setidaknya ia bisa menghasilkan tiga buah karya dengan model dan motif yang sederhana. Sementara untuk produk yang membutuhkan fokus khusus, Heru biasanya membutuhkan waktu hingga tiga minggu lamanya.

Untuk harga, agak canggung sebenarnya Heru menyebutkan. Pasalnya, menurut dia sebuah karya tak elok dipasangi angka-angka. Tapi bila melihat rata-rata rupiah yang diterima kala mengerjakan satu karya, ia biasa mendapat salam syarat berkisar Rp100.000 hingga Rp2 juta.

Pada kesempatan itu ia menyampaikan, akan sangat senang bila generasi muda bisa mencintai seni. Untuk alasan itulah kenapa setiap kali mengikuti ajang pameran, dirinya tak pernah lupa untuk membawa serta perlengkapan yang dibutuhkan untuk bisa memberikan workshop terbuka. Ia bakal merentangkan tangan bila ada yang tertarik ingin belajar membuat karya berbahan keping-keping kaca untuk dijadikan cermin mozaik seperti produknya.

"Saya terbuka untuk mengajarkan ya, mas mau belajar datang kerumah juga boleh. Bagi saya, senang kalau bisa bagi-bagi ilmu yang saya punya walau tak seberapa," kata Heru seraya tersenyum tulus.[]

https://akurat.co/produk-cermin-mozaik-bandung-rambah-pasar-global