Minggu, 03 Oktober 2021

Produk Botol Bekas Curi Perhatian Pasar Global



Semua yang bermula dari hati akan bermuara menyentuh hati. Demikian salah satu nilai hidup yang dipercaya Herman Purwanto kala menjalankan lakon sebagai perajin sekaligus pelaku Usaha Kecil Menengah berbendera Herco Craft.

Meski hanya bergelut sebagai perajin dari produk berbahan baku limbah botol, ia tak pernah berhenti meyakini, bahwa suatu saat nanti, apa yang sudah diproduksinya dari hati akan mampu berhuni di hati para pelanggannya.

"Saya punya standar kualitas untuk produk yang saya terapkan, karena apa? Ketika produk kita sudah dihargai customer, berarti orang itu sudah menghargai kita. Maka kita harus juga menghargai mereka dengan memberikan karya yang betul-betul 'ada kita' di situ, harus ada roh yang kita titipkan di karya itu. Kalau hanya membuat, saya tidak mau seperti itu," ujarnya saat ditemui Akurat.co akhir pekan lalu.

Tak meleset barang sedikit pun apa yang sudah diyakini oleh lelaki asal Ungaran, Semarang itu. Sebab sewindu berlalu, kini produknya benar-benar bercokol di hati para pelanggan setianya yang tak hanya dari dalam negeri tapi bahkan merambah di pasar luar.

"Produk upcycle botol kita sudah ekspor, ada ke Singapura, Kuala Lumpur. Dan kebetulan di acara ini kita dapet buyer dari Australia," imbuhnya.

Turut meramaikan ajang tahunan Trade Expo Indonesia (TEI) yang digelar sejak tanggal 11 hingga 15 Oktober 2017 di ICE BSD Tangerang, Herman memamerkan ragam produk hasil buah tangganya seperti rumah lampu, tempat lilin, toples, kalung, piring mangkok, dan celengan, yang kesemuanya merupakan daur ulang dari limbah botol bekas.

"Saya membuat kerajinan ini bisa dibilang clean produk ya, artinya produk kita bersih dari limbah, karena semua pecahan kita pakai. Seperti kalau yang kecil-kecil ini kita jadikan mata kalung, anting-anting. Pokoknya jangan sampai menghasilkan limbah lagi," katanya.

Tak melulu hanya soal menjajakan dagangan, menurut lelaki berusia 47 tahun itu, ajang pameran adalah satu momen yang bisa dimanfaatkan pelaku ekonomi kreatif untuk mengenalkan produk karyanya sehingga dapat lebih dekat kepada khalayak.

"Bagi saya, definisi pameran bukan kemudian kita berjualan ya, atau membuka pasar kaya pasar malam. Bukan itu. Tapi kita mendisplay... supaya orang tahu kualitas barang kita dan apa yang bisa kita berikan ke customer," kata dia.


Herman menjelaskan, dalam memproduksi limbah botol bekas, ia membagi produknya dalam dua kategori besar, reguler dan ireguler.

Produk reguler merupakan barang yang diproduksi secara massal, contohnya seperti produk-produk yang ia ikut sertakan dalam ajang pameran TEI.

Untuk barang-barang seperti itu, biasanya dibanderol dengan harga kisaran dari Rp100.000 hingga Rp400.000 per unitnya.

"Kalau yang irreguler lebih ke art. Contoh yang akan kita bikin itu ikan arwana dari botol. Itu rencananya akan kita tampilkan di acara Inacraft 2018, April, di JCC, Senayan. Tingginya 1,5 meter nanti. Itu rangkaian dari pecahan botol, yang kita potong sedemikian rupa. Disusun-susun kemudian di dalam kita kasih lampu juga. Dan nanti pakai sistem lelang, siapa yang mau beli, dengan harga tertinggi, silakan. Jadi produknya pun cuma satu," terang Herman.

Tak menitikberatkan penjualan melalui pameran, dalam memasarkan produk olahan botol bekasnya Herman mengandalkan sistem penjualan dalam jaringan (daring) dengan memanfaatkan media sosial instagram.

Sebagai salah satu upaya dalam memberikan pelayan, Herman berani memberi jaminan bahwa produk yang dipesan pelanggan akan diterima dalam kondisi baik. Bila nantinya terdapat kerusakan pada barang, maka pihaknya tak sungkan melakukan pergantian dan mengirim ulang item yang sama tanpa ada biaya tambahan, sekalipun barangkali kerusakan itu terjadi karena kesalahan dari pihak jasa pengiriman.

Selain itu, bila memang ada calon pelanggan yang berniat melihat langsung produk-produk Herco Craft, mereka bisa berkunjung ke galerinya di daerah Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Dan sebagai strategi ekspansi, dirinya juga berencana bakal membuka galeri Herco Craft di wilayah Jakarta.

Disinggung mengenai omzet rata-rata yang didapat selama menjalankan usahanya, Herman tak bisa menyebutkan besaran nilai yang diterima pihaknya secara gamblang.

"Untuk pasar domestik cukuplah yah... Kalau yang kita ekspor sejauh ini yang model gelas, itu model sederhana, itu satu bulan 500-600 unit, ya kalau dihitung-hitung kalau satu gelasnya Rp75.000 kalikan ajalah yah," ujarnya sambil tertawa.

Dikatakannya, guna memenuhi pasokan bahan baku dalam pembuatan produknya, ia tak hanya mengandalkan dari lapak-lapak atau pengepul botol bekas lokal, tetapi juga melakukan kerja sama dengan beberapa pihak luar untuk penyediaannya.

"Ini botol-botol bekas miras dari luar ya, selama ini kita memang sudah dapet link. Kadang kalau permintaan melonjak tinggi saya harus ke Jakarta untuk mendapatkan botol-botol bir yang diinginkan customer. Tapi kalau (pembeli) dari luar itu biasanya mereka malah suka botol lokal, karena warna hijau botol wine luar sama botol bir Indonesia itu beda, lebih cerah hijau botol Indonesia. Dan itu lebih menarik buat mereka," terang Herman.

Sebagai salah satu pelaku usaha yang sudah terbiasa bersinggungan dengan pasar global, jika diperkenankan memberi saran pada temen-temen UKM lainnya, Herman menuturkan, para pelaku usaha yang ingin tumbuh menjadi besar dan produknya mampu menembus pasar luar, maka mereka harus berani mengambil risiko gagal. Menurutnya, kerap kali ditemui para pelaku usaha takut untuk keluar dari zona nyaman dan enggan mengambil risiko.

Selain itu, untuk memperkenalkan produk yang mereka tawarkan kepada sebanyak mungkin orang, para pelaku usaha ada baiknya gemar mengikuti berbagai ajang pameran meski terkadang hal itu membutuhkan biaya modal yang tak sedikit.

"Ya buat saya itu, sebelum saya ikut pameran dengan biaya yang mahal, saya harus menetapkan hati untuk bisa menerima kemungkinan yang paling pahit, yaitu tidak laku, ketika saya sudah bisa menerima risiko itu, maka saya akan pameran, kenapa? Biar nanti beberapa kali gagal mendapatkan buyer, saya ngga masalah, saya akan bakal terus ikut pameran-pameran yang ada. Karena itu investasi saya," kata Herman.

Pada kesempatan itu dirinya juga berharap, pemerintah bisa lebih mempermudah perizinan bagi para pelaku UKM yang berniat mengekspor produk mereka. Menurutnya, Bila perlu ada prioritas keringanan biaya agar UKM bisa terus tumbuh sehingga nantinya bisa memberi kontribusi besar bagi pemasukan devisa negara.

"Mungkin saat ini UKM-UKM itu memang masih kecil, tapi saya rasa ketika pemerintah bisa beri keringanan, saya yakin nanti itu UKM bisa jadi besar. Mereka akan memberi kontribusi pajak yang lebih besar untuk Indonesia," tegasnya.

Selain itu, kata Herman melanjutkan, bila boleh memberi saran, pemerintah sebaiknya semakin gencar lagi melakukan sosialisasi atau penyuluhan terkait tata cara ekspor kepada para pelaku UKM, sebab kendala lain yang sering dihadapi yakni kurang pahamnya mereka tentang aturan main mengekspor produknya.

Terakhir, herman berharap masyarakat Indonesia bisa melakukan sesuatu untuk lingkungan, terutama lebih bijak saat memilih dan membeli produk. Dalam artian bila hendak membeli suatu barang, ada baiknya bila dipikir-pikir terlebih dulu, apakah mereka memang benar membutuhkan produk tersebut atau tidak. sebab, kalau hanya dibeli saja namun tidak pemanfaatannya dan dipakai, tentu akhirnya barang itu hanya akan menumpuk dan berakhir menjadi gunungan sampah.

"Melalui produk ini saya ingin memicu masyarakat juga, ayolah kita manfaatkan barang-barang yang sudah jadi sampah menjadi barang-barang atau produk yang punya nilai ekonomis tinggi, dan akan lebih baik produk yang kita bikin itu bisa sampai kita ekspor ke luar," pungkas Herman menutup.[]

https://akurat.co/produk-botol-bekas-curi-perhatian-pasar-global


Namu, Produk Kerajinan dari Serpihan Industri Kayu




Sekecil apapun, jangan ada yang terbuang sia-sia. Kurang lebih begitu yang ada dalam lingkar kepala seorang Eri Sepriza, kala menggagas produk kerajinan berbahan dasar limbah industri kayu yang bertebaran di sekitar tempat tinggalnya, Yogyakarta.

Berangkat dari keresahan melihat ekosistem lingkungan yang kian menyusut dari hari ke hari, membuat dia bersama 2 karibnya berpikir untuk mencari cara bagaimana mengolah limbah kayu bisa memiliki nilai ekonomi hingga tak lagi dipandang sebelah mata.

Mengibarkan bendera Namu, mereka lantas mengolah limbah kayu yang dipadupadankan dengan resin atau getah tanaman menjadi ragam produk kriya seperti aksesoris, perhiasan, dan pajangan dekorasi rumah.

"Brand kita ini namu, itu plesetan dari bertamu, jadi kita fokus ke proses pengolahan limbah dari industri lain, kita olah untuk jadi sebuah produk baru, cuma kita combine. Sejauh ini kita masih dominan bermain dengan resin. Jadi resin ini hanya sebagai nilai tambah, jadi sebenarnya yang kita jual ini adalah limbah," ujarnya membuka percakapan dengan Akurat.co akhir pekan lalu.

Ia mencontohkan, dalam proses produksi industri meja, biasanya menyisakan serpihan-serpihan kayu berukuran mini sekitar satu hingga satu setengah sentimeter. Sisa produksi itulah yang ia sasar untuk bisa disulap menjadi produk bernilai seni dan menjual daripada dibuang begitu saja.

Menurutnya dengan sedikit memberi sentuhan daya kreasi, serpihan kayu itu bisa dipoles menjadi mata kalung atau disusun membentuk wadah sabun.

Lelaki berusia 34 tahun itu menuturkan, keunikan lain dari hasil produksi kerajinan Namu yang dijajakannya itu adalah, hampir pada semua produknya tidak mengalami proses finishing seperti dilapisi pernis. Jika itu dilakukan, dirinya khawatir hal tersebut justru bisa menghilangkan karakter dari si kayu itu sendiri.

"Tapi kita fleksibel, kalau memang buyer minta seperti itu (dipernis) ya kita turutin," imbuhnya seraya tertawa.

Sejauh ini Eri dan kawan-kawannya masih fokus pada limbah kayu, mengingat di lingkungan tempat ia tinggal menjamur berbagai industri furnitur. Kendati demikian, tak menutup kemungkinan kedepannya ia bakal melebarkan sayap menyasar limbah dari industri lain.

"Kita homebasenya di Jogja, industri kayu itu pesat banget, jadi sementara kita fokus kesana dulu, tapi tentu kita ingin mengolah semua limbah dari limbah industri apapun, kecuali limbah udara ya mas, itu ngga bisa dibekuin soalnya, kita nyerah," katanya sambil kembali tertawa.

Ia mengisahkan, awal mula usaha berbendera Namu itu dimulai dari sekadar kegiatan iseng mengisi waktu yang dijalani sedari dua tahun lalu. Tapi lantas coba untuk diseriusi satu tahun kemudian. Dan kini, usai berjalan tiga bulan, ia telah menggenapkan hati untuk benar-benar bisa fokus di usaha produk berbahan dasar limbah tersebut.

Tak hanya merangkul dua sahabat lawasnya, dalam berjibaku mengibarkan bendera Namu, Eri juga menjabat tangan beberapa vendor tempat ia biasa memperoleh bahan dasar produk kerajinannya.

"Sejauh ini kita cuma bertiga. Founder (dirinya sendiri), co founder dan desainer. Dan saya lebih ke teknis produksi. Untuk produksi masal kita ada kerja sama dengan vendor tempat kami ngambil limbah-limbah kayu itu," kata dia.

Kendati Eri tak bisa menyebutkan soal pendapatan yang diterima dalam menjalani usaha Namu, namun disinggung soal harga, ia menuturkan, untuk kalung dipatok dengan sistem pukul rata yakni Rrp40.000 per unit, tempat lilin sekitar Rp85.000, wadah sabun Rp100.000. sementara tropi dan patung-patung kecil dibanderol mulai dari kisaran Rp150.000 sampai Rp250.000,

Adapun terkait pemasaran, Namu tidak terfokus pada penjualan daring melainkan lebih mengandalkan penjualan melalui bazar dan pameran-pameran.

"Kita ada Instagram, tapi disitu kita biasanya melayani hanya untuk ngobrol-ngobrol, atau buat janjian kalau ada yang mau jadi reseller. Cuma kalau untuk jual satuan kita ngga," imbuhnya.

Ia menambahkan, jika memang ada yang berminat membeli produk Namu, biasanya ia akan mengarahkan ke reseller yang sudah bekerja sama dengannya. Sementara ini reseller mereka terdapat di Jogjakarta dan di Pendopo Art Space, Living Room Tangerang.

Eri mengatakan, sejauh ini produk Namu belum mendapat kesempatan menembus pasar global, untuk alasan itulah kenapa ia mengaku bersemangat mengikutsertakan produknya di perhelatan Trade Expo Indonesia 2017. Ia berharap di ajang tahunan tersebut ia bisa menjaring sebanyak mungkin pembeli, khususnya pembeli dari luar negeri.

Pada kesempatan itu Eri menuturkan, selain produknya bisa semakin dikenal luas, ia berharap Namu bisa menjadi bagian ekosistem industri tanpa limbah, serta menjadi konsultan bagi industri-industri yang ingin mengolah limbah mereka menjadi berdaya guna.

"Salah satu misi kami juga sebagai konsultan industri limbah produksi mereka, jadi kalau mereka mau, kita siap aja bikin limbah mereka jadi produk apapun yang penting punya nilai," pungkas Eri menutup.[]

https://akurat.co/namu-produk-kerajinan-dari-serpihan-industri-kayu


Berbahan Drum Bekas, Kerajinan dari Bali Laku di Tiga Benua

 



Tong kosong nyaring bunyinya. Begitu kata peribahasa yang kurang lebih memiliki arti; orang banyak bicara biasanya papa wawasan dan enggan bekerja.

Namun tidak demikian menurut kaca mata seorang Putu Alan. Dari perspektif pria asal Pulau Dewata yang satu ini, Tong kosong adalah... Rupiah!

Apa pasal? Alih-alih enggan bekerja, melihat tong atau drum-drum kosong terbengkalai, justru meletupkan ide kreatif dan semangat kerjanya untuk bisa produktif menghasilkan beragam barang kerajinan yang tak hanya bernilai seni namun juga berdaya guna.

Di tangan pria berusia 43 tahun itu, tong atau drum-drum bekas mampu disulapnya menjadi beragam perkakas, pajangan serta perabot rumah tangga.

"Ini produk recycle dari drum bekas. Itu saya olah gimana jadi sesuatu yang kreatif gitu... Ada jadi bangku, pigura, pajangan meja, mainan, banyaklah ya," ujarnya kepada Akurat.co akhir pekan lalu, saat mengikuti ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2017 di ICE BSD, Tangerang.

Pada perhelatan tahunan yang bertujuan untuk mempertemukan antara perajin-perajin dengan para pembeli baik lokal maupun global tersebut, Alan, begitu ia karib disapa, menuturkan, bisnis produk kerajinan berbahan dasar drum-drum bekas mulai digelutinya sejak delapan tahun lalu.

Dengan mengibarkan bendera Alandinah Art, produk kerajinannya tersebut tak hanya tersebar di pasar domestik namun juga sudah merambah di tiga benua; Eropa, Amerika dan Asia.

"Kita ekspor ke Eropa; Prancis, Inggris. Amerika, Asia, juga ada dikit-dikit, tapi yang paling besar pasar Eropa," tuturnya.

Ia menambahkan, kalau di dalam negeri, umumnya teman-temannya yang berasal dari Jawa datang ke Bali, kemudian membeli, terus untuk dijual lagi di daerah Jawa. Biasanya relasi Putu Alan langsung datang membeli ke workshop tempat dirinya berproduksi.



Dalam memanjangkan umur usahanya, Alan mempekerjakan sekitar 20 orang perajin yang tak lain adalah anak-anak muda di daerah tempat ia tinggal. Dimana dengan inisiatifnya, Alan mendidik secara mandiri pemuda-pemuda agar bisa mengolah limbah drum bekas sehingga mereka mampu berkarya.

Dan untuk menghindari pelangganya monoton, Alan secara berkala selalu melakukan pembaruan atau penambahan desain dan model produk.

"Minimnya sebulan sekali saya harus ada desain baru. Sambil saya lihat produk itu laku nggak? Kalau lalu saya produksi terus, kalau ngga ya kita stop, bikin desain lain," kata dia.

Terkait harga produk, Alan mengatakan nilainya bervariasi. Bergantung dari ukuran dan tingkat kerumitan produk. Namun begitu, bila disinggung mengenai minimal harga, maka sejauh ini barang yang termurah dibanderol di angka Rp150.000, sementara yang paling mahal bisa mencapai Rp4 juta per item.

Adapun soal pendapatan, ia mengungkapkan saat ini kondisi pasar boleh dikata sedang lesu, maka tak heran bila hal itu berimbas pada penurunan nilai omzet yang cukup signifikan

"Omzet sekarang ini ada penurunan ya, ngga seperti 7-8 bulan lalu, fluktuasi. Ya... kalau sebelumnya kadang sebulan bisa 60-70 juta, sekarang 40 jutaan," kata Alan.

Disinggung soal bagaimana dirinya bisa sukses, sebagai salah seorang pelaku UKM hingga mampu memiliki jam terbang cukup tinggi dalam mengekspor produk kerajinannya, Alan secara garis besar mengatakan, bahwa kunci pertama yang dulu ia lakukan adalah bagaimana membuka jaringan.

Menurutnya, ada beberapa cara yang bisa menjadi opsi agar pelaku UKM menemukan jejaring usaha, salah satunya yakni bisa dengan menggunakan sistem ketok tular.

"Harus ngebangun jaringan. Misalnya saya punya temen bisnis. Dia punya temen, awalnya dia beli dari saya, atau saya kasih, kemudian ia tawarkan ke temennya itu, nah dari situ nularnya kemana-mana," katanya

Selain itu, menurut Alan mengikuti berbagai pameran juga berdampak positif sebab mampu dijadikan ajang mempromosikan produk kerajinannya kepada khalayak luas. Meski terkadang hasil yang didapat tidak bisa dirasakan langsung, namun bertambah relasi saat ikut pameran bisa dijadikan sebagai investasi.

"Seperti kemarin di acara PRJ, hari ini di sini, terus bulan depan saya juga mau ke India, Bombay, kalau di India sana untuk stand di biayai KJRI sana, untuk pengiriman dari Bali ke Surabaya saya yang tanggung, terus dari India ke Surabaya Pemerintah yang tanggung," imbuhnya

Pada kesempatan itu Alan juga menuturkan, meski pemerintah saat ini bisa dibilang sudah cukup menaruh perhatian terhadap para pelaku usaha, namun ia berharap pemerintah melalui Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) bisa semakin mendorong pelaku UKM melalui pameran-pameran di berbagai negara.

"Saya bersyukur sekali, zaman Jokowi gencar sekali, walau pun ada pengurangan penjualan. Itu wajarlah. Harapannya, KJRI-KJRI di sana lebih gencar menggelar pameran-pameran untuk UKM," tutur Alan.

Selanjutnya, ia mengharapkan pemerintah bisa mendatangkan buyer atau pembeli dari luar negeri lebih banyak lagi saat mengelar pameran-pameran berskala internasional.

"Kalau bisa pameran seperti ini (TEI -RED), harga standnya bisa ditekan, luas stand diperbesar dan bagaimana caranya pemerintah bisa mendatangkan buyer sebanyak mungkin, jadi peluang menjual akan lebih besar," ujarnya.

Ia menambahkan, "Saya tidak minta digratiskan, kasihan jugalah pemerintah sudah menyediakan dan memfasilitasi, tapi kalau bisa ditekan (harga sewa stand -RED) biar sama-sama lah diuntungkan," pungkasnya menutup.[]

https://akurat.co/berbahan-drum-bekas-kerajinan-dari-bali-laku-di-tiga-benua

Minggu, 29 Agustus 2021

Perhiasan Berbahan Tanduk Sapi Indonesia Tembus Pasar Global

 



Menempati salah satu stand dalam perhelatan Trade Expo Indonesia yang digelar selama lima hari di ICE BSD Tangerang, produk Carmel tampak cerlang diantara puluhan stand yang lainnya.

Tak mengherankan, sebab produk yang ditawarkan merek dagang berwarna merah hitam tersebut, memang menjajakan perhiasan wanita yang mengkhususkan diri menyasar pada produk kalung.

Namun demikian hati-hati terkecoh, meski termasuk kedalam produk perhiasan, siapa sangka bahan dasar pembuatan mata kalung dari produk-produk Carmel, murni terbuat dari limbah tanduk hewan ternak yang didesain secara apik dan mengangkat nilai-nilai Khazanah Nusantara.

"Kita produknya kalung dari tanduk. Itu bahannya ada tanduk kerbau dan sapi, tapi basis desainnya semua kita dari batik," tutur pemilik sekaligus desainer Carmel, Cita Murfi saat ditemui Akurat.co akhir pekan lalu.

Wanita paruh baya itu menjelaskan, bahwa 100 persen produknya merupakan hasil dari desainnya sendiri. Hal itu dapat dibuktikan dengan Surat Penyataan Lisensi yang sudah berhasil ia kantongi. Produk Carmel resmi berstempel HaKI.

"Produk ini kita desain sendiri, dulu bermotif kebaya, sekarang kita bermotif sanggul, dan ya, kita memang selalu temanya berubah-ubah," jelasnya.

Ia menuturkan, dalam melanggeng kibarkan bendera Carmel hingga bisa bertahan lima tahun lamanya, Cita setidaknya dibantu oleh sekitar 11 orang perajin dan desainer, dimana dengan jumlah pekerja segitu, pihaknya mampu menghasilkan 100 unit produk kalung dalam seminggu.

Kendati tak bisa menyebutkan angka pendapatan yang diterimanya dalam menggeluti usahanya, namun Cita mengatakan rata-rata produk Carmel dibanderol dengan harga kisaran Rp350.000 hingga Rp1,2 juta perunitnya.



Terkait pemasaran, tak hanya mengandalkan penjualan online, Carmel juga memiliki sebuah toko offline di kawasan selatan Jakarta. Selain itu, Cita juga menjajakan produknya di beberapa outlet yang tersebar di wilayah ibu kota.

"Toko kita di Kemang, terus kita taruh juga di Kemang village, di alun-alun, dan di beberapa tempat lainnya, ya. Kalau yang kita titipkan di tempat-tempat lain, bukan toko sendiri, kita pakai sistem konsinyasi," terangnya.

Tak hanya beredar di pasar lokal, produk perhiasan Carmel juga sudah menyeberangi lautan hingga sempat mendarat di tanah peradaban Minoa, Eropa.

"Kita pernah ekspor ke Jerman, terus kita sempat pameran ke Hongkong juga beberapa waktu lalu," kata dia.

Sebagai salah satu pelaku usaha yang sudah dapat dikatakan sukses mengirimkan produknya ke pasar global, menurut hematnya, regulasi terkait ekspor di republik ini relatif sudah cukup dipermudah. Tinggal bagaimana para pelaku usaha mau benar-benar serius atau tidak melakukan ekspor.

Ia melanjutkan, jika boleh memberi saran, bagi pelaku Usaha Kecil Mikro (UKM) yang hendak berniat mengikuti jejaknya untuk bisa melempar produknya ke pasar mancanegara, maka salah satu hal utama yang perlu diperhatikan yakni soal mengetahui dengan rinci peraturan suatu negara yang bakal menjadi tujuan ekspor produknya. Sebab, sedikit menjumput pribahasa lama, lain padang tentu saja lain ilang, lain lubuk lain pula ikannya.

"Setiap negara punya standar peraturan. Misal bisa diambil dari kesehatannya, karena ini termasuk barang natural ya, itu kita mesti melengkapi surat-suratnya. Yang penting sebelum kita ekspor kita harus tahu dengan jelas kita mesti apa, kita lengkapi dulu itu semua," kata dia.

Pada kesempatan itu pula ia mewanti-wanti teman-teman para pelaku usaha lain, khususnya yang bergerak di bidang kerajinan untuk bisa menciptakan produk-produk yang variatif dan inovatif, serta tetap bangga menggunakan identitasnya sendiri.

"Kita jangan nyontek dari luar negeri, tapi kita create, kita banyak kok yang bisa dikreasikan, dan selama ini saya merasa pemerintah dukung kita kok kalau mau berkreasi," pungkas Cita kemudian.[]

https://akurat.co/perhiasan-berbahan-tanduk-sapi-indonesia-tembus-pasar-global

Patung Limbah Akar Jati, Dicari Pasar Eropa



Seperti Midas dalam mitologi Yunani yang mampu mengubah apapun menjadi emas hanya dengan menyentuhnya, pun kira-kira begitu yang dilakukan oleh seorang Agus K, lelaki asal Jepara, Jawa Tengah.

Melalui sentuhan tangan dinginnya, seonggok akar pohon jati yang sebelumnya merupakan limbah tak terpakai, mampu ia sulap menjadi produk kriya bernilai seni tinggi hingga bisa dihargai jutaan rupiah di pasar mancanegara.

Menyemarakan perhelatan Trade Expo Indonesia yang digelar pada tanggal 11 hingga 15 Oktober 2017 di ICE BSD Tangerang, pria berusia 43 tahun itu memamerkan beragam hasil buah tangannya yang didominasi dengan karakter binatang, seperti; badak, merak, kijang, ikan-ikan, anjing, kucing, gajah, rusa serta banyak lagi yang lainnya.




Singkat Agus mengisahkan, mula usahanya dirintis sejak tahun 1999. Kala itu ia mengawali kancah wirausaha dengan berjibaku pada bisnis produk kayu. Namun, musabab ketersediaan pohon jati yang kian hari kian sulit untuk dicari, akhirnya enam tahun lalu ia memutuskan mensubtitusi bahan baku kayu dan beralih memanfaatkan material akar yang sempat dipandang sebagai limbah.

"Ini produk dari bahan-bahan akar jati, yang kalau orang bilang dulu ngga kepake. Jadi kalau di furnitur itu kan yang kepake kayunya, terus lambat laun cari kayunya makin kesulitan. Nah, di Perhutani atau di hutan rakyat itu masih banyak bahan-bahan sisa dari tebangan, kaya akar atau ranting yang ngga kepake. Jadi kita manfaatkan bagaimana caranya bisa jadi barang yang ada nilai jualnya," ujarnya saat ditemui Akurat.co akhir pekan lalu.

Dalam melanggengkan usahanya, perajin sekaligus pemilik bendera Veda Sabrina tersebut biasa dibantu oleh sekitar 20 pekerja. Selain itu ia juga memiliki 10 perajin binaan guna bisa membantu dalam memenuhi tingginya jumlah permintaan yang selama ini berdatangan.

"Di tempat kita sendiri itu ada sekitar 20 orang karyawan, tapi kita punya binaan perajin, ada sampai 10 binaan. Masing-masing binaan kita punya karyawan yang jumlahnya sekitar 20 orang, jadi ya ada dua ratusan perajinlah jumlah kasarnya," jelasnya.

Agus menuturkan, pembinaan yang langsung ditangani oleh dirinya tersebut meliputi arahan dalam membuat patung, pemberian bahan baku, serta terkait dengan permodalan.

"Jadi apa yang nanti diproduksi mereka (para perajin binaan Agus-RED) itu dikirim ke kita. Tapi kalau mereka sudah siap mandiri, tidak masalah bila mau mandiri sendiri. Bisa aja kalau memang mereka misalnya dapat pembeli lain," imbuhnya.

Agus menjelaskan, dalam pemberian upah kepada perajin ia memegang sistem borongan. Dimana rata-rata perajin yang sudah memiliki jam terbang tinggi mampu menghasilkan sepuluh model patung dalam seminggu.

"Tapi kalau masih belajar paling 2-3 aja. malah belum tentu jadi. Karena kerajinan ini kan perlu kreasi imajinasi sendiri," ujarnya.

Ia menambahkan, untuk para perajin baru yang masih menjadi binaannya tentu pakai sistem lain dan ada kompensasinya.

Terkait harga produk hasil kerajinannya berkisar dari harga Rp50.000 sampai Rp13 juta. Ia menambahkan, sekali waktu pernah membuat produk limited editional yang dijual dengan sistem lelang dan berhasil ketuk palu di harga Rp15 juta.

"Kita pernah bikin dinosaurus dulu, panjang 8 meter tinggi 3 meter. Laku Rp15 juta, yang beli orang Eropa," imbuhnya.

Adapun pemasaran, dia biasa melakukan sistem penjualan daring dan tak memiliki toko. Namun begitu, bila ada calon pelanggan yang berniat melihat-lihat koleksi produk Veda Sabrina, bisa langsung mengunjungi bengkel sekaligus galeri miliknya yang terletak di Desa Langon 10/5, Tahunan 59425, Jepara.

Dikatakannya, kendati bendera usahanya kurang begitu santer terdengar di pasar lokal, namun produk olahan akar jatinya memiliki pasar utama nun jauh dibelahan bumi seberang, Eropa.

"Kita yang utama di Belanda dan di Inggris. Selain itu ada yang kecil-kecil ngga full satu kontainer, itu ke India, Korea, China... Ke dua negara itu (Belanda dan Inggris) dalam sebulan bisa kirim 2 sampai 3 kontainer. Nilainya kalau dirupiahkan mungkin bisa sampai Rp700 sampai Rp800 juta lah. Itu belum yang termasuk yang kecil-kecil tadi," terangnya.

Pada kesempatan itu pula ia menuturkan, jika boleh sedikit memberi masukan bagi para pelaku UKM yang saat ini barangkali baru merintis usaha, dan berniat untuk mengekspor produknya, ada baiknya, terlebih dulu bisa belajar atau menumpang nama dari perusahaan eksportir yang sudah mapan.

"Kalau sertifikat belum bisa ekspor langsung, sebenarnya ada cara lain, itu ada perusahaan lain, yang sebenarnya bisa kita mintai tolong untuk pinjam namanya untuk ekspor. Tapi sistem sama aja, nanti kita bayar pajak ke mereka, nah, mereka nanti yang bayar pajak ke pemerintah, itu yang pertama," jelasnya.

Kemudiam, kata Agus melanjutkan, cara kedua yang bisa dipakai bagi UKM pendatang baru yakni dengan membuka jaringan atau mengenal pihak keagenan kapal.

"Mereka kadang awam soal ekspor itu sendiri. Ngga tau apa yang harus dilakukan. Biasanya kalau pengen tau ya kenal aja dulu sama orang shipping agent atau keagenan kapal, nanti akan dibantu soal pengurusan dokumennya," imbuhnya.

Ia mengingatkan, sebelum langkah-langkah itu dilakukan, tentunya para pelaku UKM terlebih dulu harus memiliki kontak seseorang atau perusaahan di negara tujuan ekspornya.

"Tentunya harus punya kontak orang disana, kita kirim dulu satu atau dua barang kita buat pasar disana, kalau oke kan mereka mungkin akan beli lagi dalam jumlah yang lebih banyak," kata dia

Bukan hanya itu, langkah yang bisa diambil adalah dengan sering mengikuti ajang pameran yang digelar baik oleh pemerintah ataupun swasta.

"Yang mau memulai sebaiknya harus sering ikutan pameran kaya gini, soalnya bagus sebenarnya, banyak orang asing dateng... Atau pameran apapun. Ikut aja kalau bisa. Contohnya, saya pernah di Singapura pernah ikut pameran, biar dari dana sendiri, saya biasanya ikut itu untuk biar punya kontak dulu dengan orang sana," jelasnya.

Disinggung mengenai tantangan, Agus mengatakan kerap menemui kendala saat memasuki musim penghujan. Hal itu lantaran bahan baku limbah akar yang dicarinya menjadi sulit untuk dijumpai.

Selain itu, masalah sulitnya mendapatkan suntikan modal juga merupakan batu sandungan yang memuat usahanya lambat untuk bisa berkembang.

"Buat UKM seperti saya, mengajuan permodalan tidak segampang yang kita bayangkan. Walau omzet tinggi tapi kalau pinjam dana di bank kan yang pertama dilihat aset. Kalau pun kita punya aset, terus pinjam di bank, nilainya juga ngga sebanding dengan aset yang kita miliki. Jadi selama ini saya jalan dengan apa yang saya punya ngga pinjam bank," tandasnya.

Selanjutnya, menurut Agus, pemerintah diharapkan bisa lebih sering mempromosikan produk UKM keluar negeri. Salah satu jalannya yang bisa ditempuh dengan memberi fasilitas pameran.

"Dalam arti bila adakan pameran bisa dengan biaya yang terjangkau oleh kita.
Banyak teman-teman UKM kita di daerah itu mereka takut. Maksudnya, mereka udah bayar mahal, belum tentu sesuai dengan hasil yang didapat nantinya," tandas Agus.

Ia menambahkan, pemerintah juga mesti lebih memperhatikan UKM-UKM di pelosok daerah yang selama ini belum tersentuh padahal punya potensi untuk mendapat pembinaan.

"UKM yang dibawah itu masih banyak yang punya potensi tapi belum tersentuh mungkin karena keterbatasan Pemerintah untuk bisa mencapai wilayah tertentu. Binaan saya misalnya, itu ada yang sampai di Ngawi. Di dalam hutan. Ituu mereka belum tersentuh," pungkas Agus kemudian.[]



https://akurat.co/patung-limbah-akar-jati-dicari-pasar-eropa

Produk Berbahan Ban Bekas Indonesia Diekspor Hingga Eropa



Sambil menyelam minum air. Begitu pesan nenek moyang yang meski terdengar usang, namun betul-betul dicamkan oleh Sindhu Prasastyo kala berjibaku dengan dunia Wirausaha.

Bagaimana tidak, ditengah kesibukannya sebagai anggota dalam komunitas lingkungan hidup, ia mampu meraup rupiah dari limbah yang disulapnya menjadi ragam produk berdaya guna dan sarat akan ajakan merawat alam.

"Ini pengelolaan limbah ban dalam truk. Dijadiin macam-macam barang, ada tas, dompet, perhiasan, kalung, gelang, macam-macam mas," ujarnya saat memamerkan produknya di ajang Trade Expo Indonesia yang digelar pada tanggal 11-15 Oktober di ICE BSD, Tangerang.

Pria yang biasa disapa Sindhu itu menuturkan, bisnis produk berbahan limbah ban dalam truk tersebut mulai dilakoninya sejak tujuh tahun lalu.

Mengandeng beberapa sejawat sesama pegiat lingkungan hidup yang mahir bermain-main dengan desain, mereka membidani berupa-rupa barang hingga mampu memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

"Tahun 2010 mulai usaha ini, tapi riset-risetnya sudah dari 2006. Mulainya dari komunitas lingkungan hidup. Jadi dulu itu beberapa anggotanya anak-anak kreatif sama seniman. Terus ada program yang sebenarnya sih fokusnya ke konservasi air, tapi diluar itu ada swadaya untuk bikin sesuatu yang bisa menghasilkan duit, tapi harus masih ada kaitannya dengan lingkungan. Akhirnya ngolah limbah ini, karena anak-anak kreatif bisa desain," terangnya.

Tak sia-sia, sebab ternyata produk ban dalam bekas yang mereka telurkan tersebut mendapat respon positif dari pasar, khususnya pasar mancanegara.

"60 persen produk kita dikirim ke Eropa; Prancis, Inggris, Jerman, terus ada Slovenia, ada Australia, terus juga ada Amerika sedikit," rinci Sindhu.

Dalam menjual produknya, Sindhu mematok harga yang bisa dibilang memakai sistem pukul rata. Untuk pernak pernik seperti kalung dan gantungan kunci dibanderol dengan harga Rp35.000. Sementara untuk beragam tas berada dikisaran angka Rp750.000 perunitnya.

Adapun rata-rata pendapatan yang bisa dikantongi pria berusia 37 tahun itu, bisa mencapai Rp100 juta hingga Rp150 juta setiap bulannya.

Dalam upayanya untuk terus membesarkan usaha tas berbahan limbah ban bekas, yang kini dipasangi bendera Sapuupcycle itu, ia biasa dibantu oleh sekitar 15 orang pekerja. Dimana dalam sebulan bisa memproduksi sekitar 1.000 sampai 1.500 unit tas.

Kendati merupakan sebuah usaha yang masih terbilang produksi berskala rumah tangga, namun Sindhu optimis apa yang sudah dirintisnya tersebut bakal mampu terus berkembang karena memiliki prospek yang amat besar.

"Indonesia ini kan termasuk lima besar pengguna kendaraan bermotor di dunia ya, jadi kebutuhan akan stok ban dalam ini banyak sekali pastinya," imbuhnya.

Dikatakannya, dalam pengiriman ekspor ke pasar internasional, sejauh ini ia masih mengandalkan jasa pengiriman yang membantunya dalam persoalan mengurus segala keperluan administrasi dan perizinan.

"Karena kita masih tergolong kecil ya untuk industri ini, jadi sejauh ini kita pakai jasa pengiriman. Dalam arti kita masih diurus sama jasa seperti Fed Ex untuk surat perizinan jadi belum bisa kirim pakai kargo atau sewa kontainer sendiri," kata dia.

Ia menambahkan, adapun jumlah pembeli luar negeri yang sudah melakukan kerjasama dengan pihaknya, kini jumlahnya tak kurang dari 10 perusahaan.

Meski saat ini merek dagang Sapuupcycle masih dalam proses pendaftaran HaKI, namun ia menegaskan, bagi pihak-pihak yang ingin bekerjasama dengannya maka harus menyertakan merek dagangnya tersebut.

"Jumlah buyer sekarang sekitar 10. Dalam penjualan kita mempertahankan Sapuupcycle, kalau co branding masih bisa, mereka boleh pakai nama mereka tapi nama pembuatnya masih harus disertakan di informasi produknya," ujar dia.

Terkait tantangan yang dihadapi, Sindhu mengatakan pihaknya masih kerap terkendala dalam memenuhi kebutuhan peralatan produksi yang menurunya masih belum lengkap. Sehingga agak terganjal saat harus memproduksi barang secara massal.

"Kita kan berangkatnya dari komunitas kecil, terus modalnya itu ngga seperti perusahan besar yang disupport dari dana yang memadai, jadi kita ketinggalannya itu di teknologi, Misalnya, satu mesin itu harusnya satu fungsi aja tapi kita jadikan fungsi-fungsi lain, kita bisa-bisain" ungkapnya

Ia menambahkan, "Tapi kita mulai mengarah kesana. Tapi itu proses, sementara ini kita masih pelan-pelan."

Tak hanya bisa meraup keuntungan, ia berharap produk tas berbahan limbah ban bekas bisa benar-benar bisa menjadi sarana baginya untuk mengkampanyekan kepada masyarakat luas tentang pentingnya peduli pada lingkungan.

"Harapan kita produk ini bisa menyebarkan kepada masyarakat soal produk ramah dan baik pada lingkungan. Pengolahan limbah, mengurangi limbah dari pada dibakar dan mencemari tanah dan kali. Gimana caranya bisa kita kelola dan bagus jika dapat menghasilkan uang," tutur dia.

Pada kesempatan itu ia juga menyampaikan, sebagai penegasan sikap peduli lingkungan, ia juga memiliki workshop di daerah Salatiga, Jawa Tengah. Dirinya lebar merentangkan tangan bila ada pihak-pihak yang ingin mengenal dan mau bergandengan tangan bersamanya dalam mengatasi persoalan limbah di republik ini.

"Kita juga sering diundang ke sekolah-sekolah, seminar dan pameran pameran. Mengenalkan konsep ini ke anak-anak sekolah," pungkasnya kemudian.[]



https://akurat.co/produk-berbahan-ban-bekas-indonesia-diekspor-hingga-eropa

Minggu, 11 Juli 2021

Motif Kain Tradisional di Sepatu Ethnic Collaboration

Kalau enggan ada seribu alasan, kalau ingin ada seribu jalan. Kurang lebih begitu pepatah tanah Andalas yang menjadi landas kaki seorang Zulfa Nurhani, saat membabat alas laju usahanya.

Berangkat dari keinginan melestarikan kain tradisional namun tak melulu menjadi baju, dara berdarah Jambi itu bersama karibnya, Astari Putri Utami, ligas menggagas motif kain lokal agar tercetak pada produk sepatu.

"Kita fokus bikin sepatu handmade, sepatu yang dikombinasiin dengan bahan-bahan kain batik dan tenun dari Indonesia. Kita coba kombinasiinnya itu sama kulit atau bahan-bahan lain," ujarnya saat ditemui tim Akurat.co.

Turut menyemarakan Bazaar Ideafest X Tokopedia 2017 akhir pekan lalu, Zulfa menuturkan, bendera Ethnic Collaboration yang dikibarkannya merupakan produk fashion yang menyasar kalangan muda. Khususnya mahasiswa.

Oleh sebab itu, lanjut dia, agar mampu dijangkau oleh anak-anak muda dan tak membuat kantung mereka kebobolan, maka kain batik yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan produknya tersebut memakai kain batik cap, bukan batik tulis asli.

"Kalau sekarang kami masih pakai batik yang cap, karena marketnya sendiri masih ke anak muda, atau levelnya masih medium, kantong-kantong mahasiswa masih bisa menjangkau lah," imbuhnya

Gadis berusia 25 tahun ini menambahkan, kedepan, pihaknya juga bakal ekspansi dengan membuat produk premium sehingga bisa menyasar pangsa yang lebih lebar.

"Kita bakal bikin yang premium tapi itu masih coming soon," lanjut dia.

Lebih jauh ia menerangkan, bahwa produknya juga menekankan konsep limited edition. Dalam artian, jika satu kain batik atau tenun dengan motif tertentu sudah diproduksi sekali. Maka saat produk sepatu itu sudah tandas dipasaran, pihaknya takkan membuat kembali motif produk yang sama seperti sebelumnya.

"Misalnya, kita ada bahan satu lembar tenun, itu misalnya cuma jadi tiga sepatu, nah, kalau itu habis, kita ngga akan restock lagi. Ngga produksi lagi dengan motif tenun yang sama, karena menurut kita bakal lebih baik untuk mengeksplor tenun lain, dari daerah yang lain, daripada menggunakan motif yang sama lagi," jelas dia.

Dikatakannya, untuk mendapatkan kain-kain lokal sebagai bahan baku produksi, ia biasa melakukannya dengan dua cara, dikirim langsung dari perajin-perajin kain batik dan tenun, atau didapatkannya saat dia tengah plesiran ke daerah-daerah di Indonesia.

Terkait harga, produk Ethnic Collaboration rata-rata dibanderol berkisar antara Rp150.000 hingga Rp240.000 per unit.

"Untuk yang dua ratus ribuan itu yang model wedges atau ada haknya. Kalau yang flet-flet itu seratus lima puluh ribu," kata Zulfa.

Ia menuturkan, usahanya tersebut masih merupakan usaha rintisan yang baru dimulai pada tahun 2015 lalu. Dan sejauh ini pemasarannya dilakukan melalui sistem penjualan daring serta dengan mengikuti berbagai ajang pameran.

"Selain online paling ikut bazar, karena kita (dia dan rekannya) sendiri masih sama-sama kerja, dan ini sejauh ini juga cuma masih hobi," katanya.

Pada kesempatan itu juga ia berujar, Kedepan dirinya ingin benar-benar mandiri, dan berharap usaha rintisannnya bisa terus tumbuh hingga mampu menyerap sebanyak mungkin tenaga kerja.

"Perajin kita masih lepasan sifatnya, 3 sampai 4 orang kalau lagi ada orderan... Tentu ya, kita berharap kedepannya bisa punya banyak pegawai. Kita pengen banget bisa ngebuka lapangan kerja buat orang lain, buat masyarakat," tandasnya kemudian. []

Telah tayang:
https://akurat.co/motif-kain-tradisional-di-sepatu-ethnic-collaboration